Mengenal 'Gotilon', Tradisi Pesta Syukuran Hasil Panen Masyarakat Batak
Merdeka.com - Istilah 'pesta' yang dilakukan oleh masyarakat adat di Indonesia tentu memiliki arti dan simbolnya masing-masing. Begitu juga dengan pesta syukuran ala masyarakat Batak bernama Pesta Gotilon.
Melansir laman Budaya Indonesia, arti Gotilon dalam bahasa Batak berarti panen, yang berasal dari kata "gotil" atau mencubit.
Di masa lalu, masyarakat Batak belum mempunyai alat pengetam padi atau "anai-anai". Saat panen tiba, masyarakat akan mengetam pagi dengan cara 'digotil'. Cara ini mirip dengan orang yang sedang mencubit. Karena unik dan khas, adat ini dilestarikan dengan bentuk yang lain, yakni dengan pesta gotilon.
Dilaksanakan Setahun Sekali di Gereja

Youtube/HKBP Depok 1 ©2022 Merdeka.com
Pelaksanaan Pesta Gotilon tidak lepas dari tempat ibadah yaitu gereja. Hasil memanen dipercaya oleh masyarakat bahwa bagian dari kesempatan yang baik dan khususnya bagi jemaah gereja yang menyatakan syukur atas berkat yang diterima dari Tuhan. Selain itu, hasil dari pekerjaan ini nantinya akan dipersembahkan untuk gereja.
Dalam pelaksanaannya, satu per satu jemaah datang ke altar (bangunan) untuk menyampaikan persembahan dengan diiringi Gondang dan Tortor, tentu dengan menggunakan Ulos.
Dalam tradisi Gereja Batak, Pesta Gotilon menggunakan persembahan (Silua) berupa hasil panen pertama (buah sulung) dari hasil pekerjaan yang dilakukan.
Ucapan Rasa Syukur kepada Tuhan

Youtube/HKBP Depok 1 ©2022 Merdeka.com
Pesta Gotilon memang termasuk dalam agenda peribadatan gereja. Namun, tujuan dari Pesta Gotilon ini bagian dari ucapan rasa syukur kepada Tuhan atas kelancaran selama proses menanam hingga waktu panen telah tiba.
Seiring berjalannya waktu, simbol untuk ucapan rasa syukur kepada Tuhan tidak lagi dalam bentuk hasil bumi. Di masa kini, telah terjadi pergeseran, yang tadinya dari desa menjadi semi kota dan dari semi kota menjadi kota besar (modern). Pada akhirnya masyarakat akan beralih ke jasa dan industri.
Maka dari itu, persembahan (silua) yang digunakan tidak lagi hasil bumi, namun mempersembahkan dalam bentuk benda (parsel) atau uang. Hal ini umum dilakukan oleh masyarakat perkotaan. Pada puncak acara, uang itu dibawa di atas piring atau diletakkan pada bambu-bambu layaknya pohon yang berdaun uang.
(mdk/adj)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya