Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Mengenal Marsiadapari, Tradisi Gotong Royong Khas Orang Batak

Mengenal Marsiadapari, Tradisi Gotong Royong Khas Orang Batak Gotong royong warga memindahkan rumah warung di Cianjur. ©2022 Merdeka.com/Arie Basuki

Merdeka.com - Indonesia dikenal dengan masyarakatnya yang gemar bergotong royong. Hampir di setiap suku yang ada di Indonesia memiliki tradisi yang selaras dengan karakter gotong royong di dalam kehidupan masyarakat.

Begitu juga dengan masyarakat Batak di Tanah Karo yang mempunyai tradisi gotong royongnya sendiri yaitu Marsiadapari. Dalam Bahasa Batak, kata Marsiadapari berasal dari mar-sialap-ari yang berarti kita berikan dulu tenaga dan bantuan kita kepada orang lain, baru kemudian meminta dia membantu kita.

Perlu diketahui bahwa prinsip gotong royong di dalam masyarakat Batak sudah menjadi salah satu hukum kehidupan. Dalam prinsip gotong royong masyarakat Batak pastinya memiliki pesan dan makna kehidupan yang mendalam. Mari mengenal sedikit tentang tradisi Marsiadapari di Batak.

Pelaksanaan Marsiadapari

Melansir dari laman Kemenkopmk, gotong royong ala orang Batak tidak hanya berkaitan saat kegiatan bertani (Mangula) di ladang saja. Tetapi prinsip ini juga diterapkan dalam semua bidang kegiatan orang Batak. Seperti mendirikan rumah (Pajongjong Jabu), kemalangan, pesta dan kegiatan lainnya yang melibatkan banyak orang.

Prinsip dari Marsiadapari adalah gotong royong yang dilakukan oleh beberapa orang secara serentak (rimpa atau rumpa) di ladang masing-masing secara bergiliran, agar pekerjaan berat bisa diselesaikan secara bersama-sama.

Dalam Marsiadapari, juga diajarkan untuk bertoleransi dalam kelas sosial. Kegiatan gotong royong ini tidak memandang kelas yang sedang dibantu atau pun yang membantu. Miskin atau kaya, kuat atau lemah, semua saling membantu untuk meringankan pekerjaan anggota kumpulannya.

Dengan sistem seperti ini masyarakat akan membantu yang kesusahan dengan sangat senang hati. Semua dikerjakan bersama-sama tanpa adanya batas kelas sosial maupun ekonomi. Yang berat terasa ringan, semua senang dan bersemangat memberikan bantuan.

Dilakukan Penuh Tanggungjawab

Keunikan lain dari Marsiadapari ini adalah setiap masyarakat yang membantu menganggap pekerjaan itu menjadi tanggung jawab sepenuhnya. Dengan penuh kesungguhan, maka pekerjaan bisa selesai dengan efisien dan maksimal.

Namun seiring dengan berjalannya zaman, kegiatan gotong royong ini sudah tidak seramai dahulu. Sebab, banyak petani ladang yang sudah menggunakan alat-alat modern dan sudah tidak dilakukan dalam berbagai aktivitas yang membutuhkan bantuan orang banyak.

Marsiadapari memberikan pelajaran penting bagi kaum milenial saat ini bahwa pentingnya saling membantu terhadap sesama. Tentu saja mereka kelak yang akan melanjutkan Marsiadapari ini.

Dalam tradisi Batak, tidak hanya mengenal Marsiadapari saja. Tetapi ada bentuk lain dari sistem gotong royong ini yaitu Manumpahi atau memberi bantuan baik berupa uang atau besar (Si Pir Ni Tondi). Meski si penerima bantuan menganggap sebagai utang, tetapi tidak seterusnya si pemberi akan menganggap itu sebagai piutang atau Singir.

Dalam kumpulan marga, Marsiadapari juga muncul jika salah satu sanak keluarga yang sedang kesusahan atau membutuhkan bantuan maka otomatis rasa membantu atau gotong royong itu muncul.

(mdk/adj)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP