Mengenal Ikan Sale Khas Mandailing, Metode Pengasapan dengan Sabut Kelapa
Merdeka.com - Ikan merupakan salah satu makanan yang mayoritas dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia dengan harga yang relatif murah dan mudah didapat. Ikan juga termasuk sumber protein hewani yang mudah mengalami proses pembusukan.
Pada zaman dahulu, orang-orang telah mengenal metode pengawetan pada setiap makanan yang disimpan. Ada beberapa metode pengawetan mulai dari pengeringan di bawah sinar matahari hingga metode pengasapan.
Mengutip dari kebudayaan.kemdikbud.go.id, metode pengawetan makanan itu muncul karena ada krisis pangan yang dihadapi manusia di masa lalu. Metode ini bertujuan untuk setiap hasil tangkapan bisa disimpan sebagai cadangan makanan.
Terdapat satu cara khas dalam mengawetkan makanan termasuk ikan yaitu dengan metode pengasapan atau biasa dikenal dengan "disalai". Di Mandailing, jenis ikan air tawar hasil tangkapan yang biasanya disalai disebut dengan nama "ikan sale" atau "gulaen nadi sale".
Proses Pengasapan Selama 3 Jam
Pembuatan ikan sale khas Mandailing tidaklah mudah, sebab proses pengasapannya sendiri sudah memakan waktu 3 jam agar mendapatkan hasil yang maksimal.
Melansir dari kebudayaan.kemdikbud.go.id karya Miftah Nasution, rahasia utama dari ikan sale dengan kualitas baik dan sangat identik dengan Mandailing yaitu pengasapan menggunakan sabut kelapa kering. Inilah yang membedakan proses pengasapan di Mandailing dengan daerah lain.
Sebelum masuk dalam proses pengasapan, insang dan isi perut ikan dikeluarkan dan dicuci menggunakan air mengalir sampai bersih. Kemudian, ikan disusun sejajar pada wadah, barulah ikan disalai atau pengasapan.
Ikan Jurung Salai
Hampir seluruh jenis ikan air tawar yang bersumber dari danau dan sungai yang ada di daerah Mandailing bisa menggunakan metode pengasapan atau disalai. Tidak hanya mengawetkan, proses disalai tersebut juga menambah cita rasa pada daging ikan yang sebelumnya telah dikeringkan.
Ada jenis ikan sale yang terkenal dan terkesan cukup mahal di daerah Mandailing yaitu gulaen mera nadi sale atau Ikan Jurung Salai. Harga per kilonya bisa setara dengan harga daging sapi. Untuk per potongnya, berkisar 500 gram mencapai harga sekitar Rp100 ribu rupiah.
Harga Ikan Julung Salai bisa melejit karena bukan ikan hasil budidaya, melainkan ikan hasil tangkapan liar dari sungai maupun danau yang ada di sekitar Mandailing.
Disajikan dalam Masakan Gulai
Setelah ikan melewati proses pengasapan atau disalai, orang-orang Mandailing terbiasa menyajikan ikan sale dengan cara digulai menggunakan santan bersama kentang.
Sajian masakan ikan sale yang terkenal dan biasa dijumpai di rumah makan bernama gule limbat sale atau gulai lele salai.
Dengan melewati proses disalai, citarasa ikan jauh lebih nikmat dan beraroma yang sangat khas. Selain itu, ikan tersebut akan cenderung terasa panas di lidah, karena rasa panas itu muncul dari ikan yang telah melewati proses pengasapan atau disalai dengan menggunakan sabut kelapa.
(mdk/adj)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya