Menengok Monumen KM Sinar Bangun, Kenang Peristiwa Tragis di Danau Toba
Merdeka.com - Tragedi tenggelamnya KM Sinar Bangun pada 18 Juni 2018 silam, menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban dan masyarakat di Indonesia. Sebanyak 164 orang dinyatakan tenggelam dan hilang di dasar Danau Toba bersama bangkai KM Sinar Bangun yang tidak ditemukan hingga saat ini.
Hampir satu tahun peristiwa nahas itu berselang, Bupati Simalungun meresmikan Monumen KM Sinar Bangun pada 2 Mei 2019. Monumen ini sengaja dibangun tepat pada hari pencarian korban dihentikan dan selesai dibangun 10 bulan kemudian. Bangunan ini tampak menjulang di Pelabuhan Tigaras, Kabupaten Simalungun.
Monumen ini menjadi kenang-kenangan yang sangat berharga bagi seluruh keluarga korban, sekaligus menjadi pengingat agar peristiwa serupa tak terulang.
Benda Kenangan Korban di Peletakan Batu Pertama

Sumber: liputan6.com ©2020 Merdeka.com
Peletakan batu pertama pada 3 Juli 2018 lalu, menandai dimulainya pembangunan Monumen KM Sinar Bangun. Prosesi ini dihadiri oleh keluarga korban dan ribuan orang lainnya yang mengikuti upacara adat dan doa bersama.
Dilansir dari Liputan6.com, acara peletakan batu pertama dipimpin langsung oleh Bupati Simalungun JR Saragih. Dalam acara ini, sejumlah anggota keluarga korban berkesempatan untuk meletakkan bunga dan barang-barang pribadi korban ke dalam lubang sebagai kenangan.
Monumen dengan Tiga Filosofi

Sumber: pariwisatasumut.net 2020 Merdeka.com
Monumen ini dirancang oleh arsitek bernama Yori Antar. Bangunan ini tak hanya sekedar berdiri kokoh, namun memiliki filosofi yang mendalam. Sang arsitek menjelaskan bahwa monumen ini sebagai tempat ziarah bagi keluarga korban maupun masyarakat umum. Selain itu, monumen ini juga ditujukan sebagai peringatan bahwa pernah terjadi tragedi menyedihkan di Danau Toba sekaligus sebagai landmark atau simbol ikonik dari Pelabuhan Tigaras, Simalungun.
Terukir 164 Nama Korban

Sumber: pariwisatasumut.net ©2020 Merdeka.com
Dilansir dari pariwisatasumut.net, monumen ini berdiri dengan sebuah replika kapal di bagian atasnya. Monumen yang dibangun dengan panjang 7 meter dan luas 3 meter ini memiliki detail yang bisa membuat siapa saja yang berkunjung ikut merasakan kesedihan keluarga korban.Di bagian tengah monumen terdapat lorong pendek yang difungsikan sebagai tempat berkabung bagi pengunjung. Di bagian sisi kiri lorong, ada sebuah plat yang menggambarkan kronologis tenggelamnya serta titik terakhir (koordinat) dari kapal KM Sinar Bangun. Sedangkan pada bagian sisi kanan, tertulis 164 nama-nama korban yang tenggelam bersama KM Sinar Bangun dan hingga kini tidak ditemukan. Selain itu, monumen ini dihiasi oleh lukisan berupa motif Ulos Batak jenis Sibolang. Motif ini memang biasan digunakan dalam suasana duka.
Kapal Arwah yang Mengantarkan Jiwa

Sumber: pariwisatasumut.net ©2020 Merdeka.com
Monumen ini memiliki desain yang cukup unik dengan adanya miniatur kapal di bagian atas. Miniatur kapal ini dibuat semi-transparan. Rangka kapal berdiri kokoh miring menghadap ke arah Danau Toba, tepat seperti titik koordinat lokasi tenggelamnya KM Sinar Bangun.Replika kapal ini sengaja dibuat seperti siluet dan transparan sehingga tampak menyatu dengan langit dan awan. Uniknya, kapal ini akan menyala terang pada malam hari.Miniatur kapal yang memiliki panjang 9 meter, lebar 3,5 meter, dan tinggi 2,7 meter ini oleh sang arsitek dijuluki sebagai 'kapal arwah' yang akan mennghantarkan jiwa-jiwa 164 korban KM Sinar Bangun menuju alam yang abadi.
Telan Biaya Rp4 Miliar
Dilansir dari simalungunkab.go.id, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Simalungun, Drs Mudahalam Purba menyampaikan bahwa pembangunan monumen ini menelan biaya sebesar Rp4 milyar.Dana pembangunan tersebut didapatkan dari dana CSR serta sumbangan dari donatur.
(mdk/far)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya