4 Alasan pamor Serie A luntur
Merdeka.com - Serie A dulu adalah liga terbaik dunia. Kondisi itu terjadi dalam periode 80-an sampai 2000-an awal. Seperti diketahui, dulu para pemain top kelas wahid bermain di negeri Spaghetti tersebut. Sebut saja, trio Belanda, Marco Van Basten, Ruud Gullit, dan Frank Rijkaard. Kapten Juventus, Michel Platini, atau pemain bermain berkuncir kuda, Roberto Baggio. Bahkan pemain yang pernah menjadi pemain termahal dunia pun merumput di sana, Zinedine Zidane.
Seiring berjalannya waktu dan persaingan antar liga semakin ketat, sepak bola Italia justru kehilangan pamornya. Bahkan hampir bisa dikatakan cenderung kehilangan kualitasnya. Terbukti, musim ini hanya AC Milan satu-satunya wakil Italia yang mampu mencapai babak 16 besar Liga Champions. Itupun Milan harus pulang dengan luka mendalam, setelah dihajar 1-4 oleh Atletico Madrid di leg kedua 16 besar Liga Champions. Padahal tim Italia dalam kurun waktu tahun 1989 sampai 1998 selalu mengisi partai final. Hanya final tahun 1991 saja yang tidak melibatkan tim Italia.
Berikut beberapa alasan yang menjadi lunturnya pamor Serie A yang dirangkum merdeka.com:
Lambatnya regenerasi pemain
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comTingginya pertumbuhan regenerasi pemain dalam suatu liga atau klub, merupakan suatu tanda bahwa mereka memang memiliki manajemen tim yang baik. Tapi tidak pada tim-tim Italia. Kalau pun mereka memiliki para pemain muda, kualitas pemain muda tersebut belum memiliki kemampuan untuk bersaing dengan para pemain senior lainnya. Ditambah lagi pemain asing yang banyak didatangkan oleh klub.Tim-tim besar Italia rupanya lebih memilih untuk membeli pemain yang sudah jadi, atau hampir jadi. Ada hal unik yang terjadi pada tim yang bertengger di posisi satu sampai lima klasemen sementara Serie A. Dari kelima tim tersebut hanya dua yang menggunakan kiper berwarga negara Italia. Atau bila dirunutkan lebih jauh menjadi tujuh tim, hanya tiga kiper saja. Kemudian, rata-rata usia mereka pun 30 sampai 36 tahun. Lebih parahnya lagi Inter Milan hanya memiliki 4 pemain asli Italia dalam skuadnya, dan Napoli hanya memiliki 5 pemain Italia di dalam skuad Rafael Benitez.
Finansial klub
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comMasalah keuangan klub tentu tidak bisa dilepaskan dari lunturnya sepak bola Italia. Klub-klub Italia memang saat ini sedang dalam kondisi memprihatinkan. Banyaknya utang yang melilit, membuat sejumlah pemain terpaksa menjual beberapa pemainnya. Kemudian minimnya sponsor dan hak siar televisi tentu mempengaruhi kondisi keuangan tim. Dampak hal tersebut tentu sebuah klub akan kesulitan membangun tim yang baik seperti pembinaan pemain muda, kebijakan transfer dan yang pasti soal gaji pemain. Terlebih lagi liga-liga lain seperti Liga Inggris mampu membayar gaji pemain lebih besar. Tentu itu akan menjadi masalah bagi tim Serie A apabila tidak mampu mengelola keuangan mereka dengan baik.
Skandal sepak bola Italia
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comCalciopolli merupakan bencana terbesar yang pernah mencoret nama besar sepak bola Italia. Pada tahun 2006, kasus Calciopolli yang melibatkan mantan juru transfer Juventus, Luciano Moggi. Moggi bahkan dihukum tidak boleh lagi berkecimpung di dunia sepak bola seumur hidup, plus penjara selama lima tahun. Beberapa klub sepak bola Italia seperti Juventus, AC Milan, Fiorentina, Lazio, dan Reggina menjadi klub yang terkena imbasnya. Konsekuensinya, Pengurangan poin dan Juventus harus rela terdegradasi ke Seri B juga pengurangan jumlah scudetto mereka.Belum lagi kasus yang terbaru, bernama Scomessopoli. Kasus ini menyeret sederet nama seperti mantan kapten Lazio, Stefano Mauri dan mantan kapten Atalanta, Cristiano Doni. Mantan legenda Italia pun turut terseret, yaitu Giuseppe Signori.Dampak kasus tersebut tentu sangatlah besar termasuk dari segi peminatan. Peminat penonton tentulah pasti menurun tajam dan akan berdampak kepada sponsor juga kepada hak siar televisi yang menjadi salah satu pendapatan terbesar klub. Namun nama Italia saat itu, bisa terobati sedikit dengan menjadi juara Piala Dunia 2006.
Anarkisme para suporter
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comItalia memang memiliki suporter yang begitu fanatis terhadap sepak bola, atau pada tim kesayangannya pada khususnya. Namun, segala sesuatu yang berlebih tentulah memiliki efek yang negatif. Ini terjadi kepada suporter di Italia. Mereka tak jarang terlibat bentrok satu sama lain, apalagi kalau dalam pertandingan derby. Beberapa kejadian pun juga sering menghambatnya pertandingan yang sedang berlangsung. Atau masalah rasis, mengingat awal musim ini baru berjalan pada partai pemanasan, Trofeo Tim, saat AC Milan menghadapi tim promosi Sassuolo terjadi aksi rasis yang menimpa bek AC Milan, Kevin Constant.Akibat perlakuan anarkis dan rasis tersebut tentu ini menjadi salah satu penyebabnya sepak bola Italia menurun. FIGC dan Lega Calcio, selaku otoritas penyelenggara Serie A sudah seharusnya memperbaiki di segala lini sepak bola Italia, atau kalau tidak, Arrivederci!
(mdk/tts)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya