Pernah merasakan nyeri tajam di dahi setelah meneguk minuman es atau menyantap es krim terlalu cepat? Sensasi singkat itu dikenal sebagai brain freeze atau dalam istilah medis cold-stimulus headache. Menurut Amaal Starling, dokter spesialis saraf di Mayo Clinic, Arizona, Amerika Serikat, kondisi ini umum terjadi dan umumnya tidak berbahaya. "Ini tidak berbahaya, datang dan pergi," kata Amaal Starling, dikutip dari BBC, Jumat (9/10).
Brain freeze biasanya timbul ketika makanan atau minuman yang sangat dingin dengan cepat mendinginkan langit-langit mulut atau bagian belakang tenggorokan. Perubahan suhu yang mendadak diduga memicu penyempitan lalu pelebaran pembuluh darah secara cepat sebagai respons tubuh memulihkan aliran darah. Proses ini berkaitan dengan saraf trigeminal, saraf yang memproses sensasi nyeri dari wajah hingga dahi, sehingga rangsangan dingin di dalam mulut dapat dirasakan sebagai nyeri di bagian depan kepala.
Untuk pencegahan, nikmati makanan dan minuman dingin secara perlahan dengan memberi jeda di antara suapan atau tegukan agar langit-langit mulut menyesuaikan suhu. Jika brain freeze terlanjur muncul, tempelkan bagian bawah lidah ke langit-langit mulut untuk menghangatkannya, atau minum cairan hangat guna membantu meredakan nyeri.
Advertisement
Kaitan Brain Freeze dan Migrain
Meski umumnya tidak berbahaya, brain freeze dapat memberi petunjuk tentang sensitivitas seseorang terhadap sakit kepala. Profesor neurologi anak dan psikiatri di University of Padua, Italia, Irene Toldo, bersama rekan-rekannya, meninjau penelitian sekitar empat dekade untuk memahami fenomena ini.
Tinjauan tersebut menunjukkan kemungkinan adanya faktor keturunan. Seseorang yang orang tuanya sering mengalami sakit kepala setelah mengonsumsi makanan dingin mungkin lebih rentan mengalami hal serupa. Namun, hubungan ini masih bersifat korelasional dan gen spesifik yang terlibat belum diketahui.
Penelitian itu juga menemukan kaitan antara brain freeze dan migrain. Orang dengan migrain cenderung merasakan nyeri akibat rangsangan dingin dengan intensitas lebih tinggi. "Orang dengan migrain biasanya mengalami sakit kepala jenis ini dengan intensitas yang lebih tinggi," ujar Toldo.
Starling menambahkan, pada sebagian penderita migrain, saraf trigeminal dapat lebih sensitif. Ketika terpapar rangsangan dingin, saraf tersebut bisa memicu respons nyeri yang lebih kuat.
Advertisement
Kapan Sakit Kepala Perlu Diwaspadai?
Brain freeze biasanya berlangsung singkat dan mereda dengan sendirinya. Namun, sakit kepala yang terasa sangat menyakitkan atau sering berulang perlu mendapat perhatian medis.
Keluhan yang selama ini dianggap sebagai sakit kepala biasa bisa saja berkaitan dengan migrain yang belum terdiagnosis. Pemeriksaan medis dapat membantu memastikan penyebabnya sekaligus menentukan penanganan yang tepat.
Tidak perlu menghindari es krim atau makanan dingin sepenuhnya untuk mencegah brain freeze. Cukup konsumsi secara perlahan dan hindari menelan makanan atau minuman yang sangat dingin secara terburu-buru. Adapun sakit kepala yang berulang, berat, atau mengganggu aktivitas sebaiknya dikonsultasikan kepada dokter agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani dengan tepat.