Contoh Penerapan Prokes yang Baik dari Orangtua Bisa Bantu Lancarkan PTM

Selasa, 19 Oktober 2021 09:00 Reporter : Rizky Wahyu Permana
Contoh Penerapan Prokes yang Baik dari Orangtua Bisa Bantu Lancarkan PTM Pembelajaran Tatap Muka Terbatas di SMPN 1 Depok. ©2021 Liputan6.com/Herman Zakharia

Merdeka.com - Pada sejumlah sekolah, pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas sudah mulai dilakukan. Untuk memuluskannya dan mencegah terjadinya gelombang infeksi baru, terdapat sejumlah hal yang perlu diperhatikan.

Bayu Satria Wiratama, pakar epidemiologi dari Universitas Gadjah Mada mengungkapkan bahwa adanya orangtua perlu memberi contoh baik dalam menerapkan protokol kesehatan sebagai panutan anak-anak mereka agar proses PTM terbatas bisa berjalan secara lancar.

Bayu menjelaskan, salah satu cara mencegah terjadinya penularan COVID-19 di sekolah adalah edukasi terkait 5M (memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, membatasi mobilitas) kepada siswa dari guru dan orangtua, dalam hal ini berupa contoh perilaku bersih dan sehat.

"Orangtua harus mencontohkan yang baik untuk anak, seperti taat memakai masker atau tidak kumpul-kumpul dengan banyak orang di luar rumah," kata Bayu beberapa waktu lalu dilansir dari Antara.

Peran orangtua penting karena anak lebih banyak menghabiskan waktu bersama anak ketimbang guru yang hanya bisa mengawasi murid-muridnya di sekolah. Peran serta orangtua dalam menjadi panutan yang baik untuk anak. Dengan memberi contoh baik, anak akan terbiasa untuk menjalankan protokol kesehatan di mana saja, termasuk di sekolah ketika menjalani pembelajaran tatap muka terbatas.

Selain mengedukasi orangtua dan guru, pengawasaN disiplin 5M di sekolah dan rumah juga perlu digalakkan oleh guru dan orangtua. Selain itu, orangtua perlu juga memantau kondisi anak dan lingkungan di sekitar anak terkait potensi penularan COVID-19.

Dia menyarankan ada pemberlakuan denda besar untuk siapa pun yang tidak mematuhi protokol kesehatan sekolah, menjaga komunikasi yang baik dengan dinas kesehatan atau puskesmas, serta penyelidikan intensif dan detail jika ada kasus positif di sekolah.

Sejak awal 2021, klaster penularan COVID-19 di sekolah telah muncul. Namun, hanya menghentikan proses pembelajaran dengan menutup sekolah dan disinfeksi sekolah saja tidak cukup, perlu ada penyelidikan detail mengenai penyebabnya agar bisa diatasi secara baik. Perlu ditelusuri penyebabnya, apakah dimulai dari luar atau dalam sekolah atau ada kebocoran protokol kesehatan PTM.

"Yang harus menaati protokol kesehatan bukan cuma pihak sekolah atau anak, tetapi juga keluarga," tegas Bayu.

2 dari 2 halaman

Perlunya Satgas Khusus di Lingkungan Sekolah

Perlu ada satuan tugas (satgas) COVID-19 di sekolah yang melibatkan guru, orangtua atau wali murid serta warga sekolah lain termasuk masyarakat sekitar. Berdasarkan panduan PTM dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), satgas COVID-19 di sekolah terdiri dari tiga tim, yakni tim pembelajaran, psikososial dan tata ruang, tim kesehatan, kebersihan dan keamanan serta tim pelatihan dan humas.

Bayu menggarisbawahi peranan tim kesehatan yang krusial, yakni membuat protokol tatalaksana jika ada kasus. Dengan tatalaksana yang jelas, pihak sekolah bisa sigap bertindak.

Perlu juga membangun jejaring komunikasi dengan puskesmas atau dinas kesehatan setempat, menyiapkan ruangan UKS khusus infeksi agar bisa ditangani terpisah dengan murid-murid yang butuh perawatan non COVID-19. Sekolah pun perlu melatih dan membentuk tim skrining sekolah agar bisa bekerja secara baik. Tugas tim skrining lebih dari mengecek suhu anak-anak serta staf yang masuk ke sekolah, tetapi juga bertanya dan mengenali apakah ada gejala-gejala sakit yang patut diwaspadai.

Terakhir, tim kesehatan juga perlu memantau kondisi harian setiap warga sekolah.

Tugas satgas COVID-19 tidaklah ringan, maka sekolah perlu berdiskusi untuk mencari siapa yang dapat melakukannya, atau mencari bantuan dari sukarelawan yang berasal dari kalangan orangtua murid atau staf guru.

Di tengah penurunan kasus COVID-19, dia berpendapat ini adalah waktu terbaik untuk menguji coba pembukaan bertahap di berbagai aspek termasuk pendidikan, yakni lewat PTM terbatas.

Melihat kondisi saat ini, transisi dari pembelajaran jarak jauh menuju pembelajaran tatap muka harus dilakukan secara bertahap. Sebab, kata Bayu, ada banyak faktor yang harus dipertimbangkan, seperti kondisi di lapangan, masyarakat yang sudah mendapatkan pemahaman tentang protokol kesehatan, disiplin pemakaian masker, hingga vaksinasi yang mendekati 100 persen.

"Untuk sekarang baru bisa bertahap, untuk tahu berapa lama bisa 100 persen di sekolah tergantung usaha semua pihak," katanya. [RWP]

Baca juga:
Pengidap Diabetes Bisa Lakukan Isoman di Rumah, Asal Perhatikan Sejumlah Hal Ini
Pandemi Diprediksi Masih Lama, Produksi Vaksin Dalam Negeri Dianggap Perlu
Walau Masih Masa Pandemi COVID-19, Penting untuk Tetap Periksa Kesehatan Gigi
Penyintas COVID-19 Perlu Pastikan Tubuh dalam Kondisi Prima Sebelum Divaksinasi

Ingat #PesanIbu

Jangan lupa Selalu Mencuci Tangan, Memakai Masker dan Menjaga Jarak Mari Bersama Cegah Penyebaran Virus Corona

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini