Apakah Sebaiknya Melakukan Imunisasi di Dokter Spesialis Anak Dibanding di Posyandu?

Jumat, 6 Desember 2019 16:00 Reporter : Rizky Wahyu Permana
Apakah Sebaiknya Melakukan Imunisasi di Dokter Spesialis Anak Dibanding di Posyandu? Ilustrasi imunisasi. ©2015 Merdeka.com/shutterstock/Wallenrock

Merdeka.com - Banyak kabar miring yang tak diketahui kebenarannya mengenai imunisasi dan vaksin yang dilakukan pada anak-anak. salah satu hal yang menjadi perbincangan adalah mengenai apakah vaksin dan imunisasi harus dilakukan di dokter spesialis anak dan bukan di posyandu?

Saat menghadiri sebuah diskusi mengenai pentingnya vaksinasi untuk traveller di Hotel Borobudur, Kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat belum lama ini, tim Health Liputan6.com mengonfirmasi soal kabar ini ke Ketua Indonesia Influenza Foundation (IIF), Prof dr Cissy B Kartasasmita, SpA(K), PhD.

"Ini pernah saya baca di suatu forum tapi kemudian ada yang respons dan responsnya itu bagus," kata Cissy.

Menurut Cissy, baik bidan maupun perawat yang ada di posyandu sudah diajarkan menyuntik vaksin yang benar. Mereka pasti tahu bahwa tidak boleh asal suntik.

"Suntiknya itu harus di anterorateral (bagian depan dan bagian samping paha dan juga lengan) namanya. Kalau dia menyuntikkannya di situ dan kedalamannya cukup, enggak akan bernanah," katanya.

"Kecuali, kalau kurang dalam, kurang bersih atau kurang kurang steril kali ya maksudnya, itu bisa saja tapi kayaknya tidak mungkin ya," Cissy menekankan.

1 dari 2 halaman

Vaksinasi DTP

Apalagi di dalam prosedurnya, setiap pasien yang akan disuntik harus dioleskan alkohol terlebih dahulu, dan sesudahnya langsung ditutup menggunakan plester.

"Kalau vaksinasi influenza itu memang suntiknya tidak terlalu dalam. Kalau bangsanya muncul bisul itu biasanya DTP," kata Cissy menjelaskan.

DTP, lanjut Cissy, memang sering menyebabkan luka lantaran kurang dalam. Namun, kalau sampai menyebabkan infeksi bisa juga kemungkinannya karena ibunya yang kurang bersih.

"Misal, karena takut kenapa-kenapa, plester si anak enggak dibuka-buka. Atau pas dibuka anaknya garuk-garuk. Jadi, memang bisa saja terjadi seperti itu (bernanah atau berdarah) tapi itu bukan penyebab dari vaksinnya," Cissy menekannya.

2 dari 2 halaman

Bukan Vaksin Penyebab Anak jadi Sakit

Cissy menjelaskan bahwa virus atau apa pun tidak bisa masuk ke dalam tubuh kita, termasuk menyerang saluran pernapasan selama berperilaku hidup bersih.

Saluran pernapasan, misalkan, yang di dalamnya juga terdapat mekanisme pertahanan yang mampu menghalang virus untuk masuk.

"Namun, kalau kita itu lagi drop dan daya tahannya kurang, virus masuk. Kalau virus yang masuk lebih banyak daripada kekuatan kita, tentu dia menjadi sakit. Dan, itu keseimbangan alam," katanya.

"Nah, habis vaksin daya tahan lemah, tidak benar itu," tandas Cissy.

Reporter: Aditya Eka Prawira
Sumber: Liputan6.com [RWP]

Baca juga:
Perlukah Anak SD juga Mendapat Vaksin HPV?
Menggoyang Kepala untuk Mengeluarkan Air Bisa Sebabkan Cedera Otak pada Anak
Begini Tips Sehat yang Harus Dilakukan orangtua untuk Memberi Wewangian pada Anak
Waspada! Gigi Berlubang pada Ibu Hamil Bisa Menyebabkan Kelahiran Prematur

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini