Tudingan Wasekjen Demokrat soal Istana terkait Asia Sentinel dinilai tak mendasar

Selasa, 18 September 2018 21:38 Reporter : Muhamad Agil Aliansyah
Tudingan Wasekjen Demokrat soal Istana terkait Asia Sentinel dinilai tak mendasar Twitter Rachland Nashidik. ©Twitter Rachland Nashidik

Merdeka.com - Wasekjen Partai Demokrat Rachland Nashidik mempertanyakan kemungkinan adanya keterlibatan pihak Istana dalam pemberitaan soal konspirasi pada kasus Bank Century yang menyeret nama SBY. Hal ini terkait unggahan foto yang menampilkan Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Moeldoko bersama bersama Co-Founder media asing Hong Kong, Asia Sentinel, Lin Neumann.

Foto itu diunggah lewat akun media sosial twitternya, @RachlandNashidik hari ini. Dalam artikelnya, media Asia Sentinel menyebut SBY bersama 30 pejabat lain melakukan tindak pencucian uang sebesar USD 12 miliar atau setara Rp 177 triliun.

Tudingan Istana di balik pemberitaan di Asian Sentinel itu dinilai tak mendasar. Bahkan cenderung mengada-ada.

"Pernyataan Wasekjen Partai Demokrat merupakan fitnah dan bentuk kepanikan atas berita terkait pencucian uang dari media asing. Di samping fitnah yang tidak mendasar apalagi dikaitkan dengan Pak Moeldoko sebagai pihak Istana serasa mengada-ada bahkan merendahkan unsur pers atau jurnalistik," kata Sekjen Fornas Bhinneka Tunggal Ika Taufan Hunneman, dalam keterangannya, Selasa (18/9).

Taufan menilai, Rachland sangat cemas dengan pemberitaan Asian Sentinel. Sebab, pemberitan ini merupakan satu peristiwa yang terekspose media internasional.

"Peran media untuk memberitakan secara objektif merupakan bagian dari unsur demokrasi dalam hal ini kebebasan menyampaikan berita," ujar dia.

Menurut dia, pihak Istana tidak punya kepentingan dengan pemberitaan ini. Dia melihat kehadiran Moeldoko menjadi oase dari situasi yang terkotak-kotakkan.

"Pernyataan ini sungguh kekanak-kanakan bahkan merendahkan akal sehat kita semua," kata dia.

Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko, telah membantah berada di balik pemberitaan media Hong Kong, Asia Sentinel, soal konspirasi pada kasus Bank Century yang menyeret nama Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono.

"Jadi jangan buru-buru baper gitu menduga. Dilihat dulu latar belakangnya seperti apa. Menduga-duga, bagaimana," kata Moeldoko di kantornya, gedung Bina Graha, Jakarta, Selasa (18/9).

Mantan Panglima TNI ini tak menampik sempat berfoto bersama dengan perwakilan Amcham. Namun, pertemuan itu bukan bersifat pribadi, melainkan sebagai Kepala Kantor Staf Kepresidenan. Pertemuan tersebut, kata Moeldoko, terjadi pada Mei 2018 lalu.

Menurutnya, para perwakilan Amcham itu ingin mengetahui perkembangan situasi politik dan keamanan di Indonesia sebagai rujukan mereka melakukan investasi.

"Kantor Staf Kepresidenan mengacarakan saya untuk bisa diskusi dengan American Chambers, Kadin nya Amerika. Itu hanya kepentingan Kepala Staf Kepresidenan untuk bisa memberi penjelasan kepada investor, para pengusaha-pengusaha luar, yang sudah menanamkan uangnya di dalam negeri dan kita ingin menarik investasi lain yang ingin tahu tentang situasi negara," terang Moeldoko.

Moeldoko mengatakan pertemuan itu digelar saat sarapan bersama. Para perwakilan Amcham satu meja dengan Moeldoko. Di sela-sela santap pagi, Moeldoko menyampaikan perkembangan situasi keamanan dan politik kepada perwakilan Amcham.

"Acaranya breakfast, karena kita semuanya duduk, terus sambil makan. Tapi saya berdiri, saya sampaikan tentang perkembangan situasi," ucap Moeldoko.

Namun, Moeldoko membantah bahwa dirinya sempat berbicara empat mata dengan salah satu perwakilan Amcham, termasuk Linn Neumann.

"Saya enggak sempet berkomunikasi dengan people to people nya, karena waktunya terbatas ya. Habis saya kasih ceramah, makan saya enggak sampai selesai. Saya tinggal pulang karena ada acara berikutnya," ungkap Meoldoko.

Meski demikian, Moeldoko mengaku tidak mengetahui Linn Neumann ternyata adalah Ketua American Chambers. "Oh kalau dia ketuanya saya juga enggak ngerti," katanya.

Sebelumnya, media asing asal Hong Kong, Asia Sentinel mempublikasikan artikel investigasi terkait konspirasi pada kasus Bank Century. Dalam tulisan tersebut dikatakan Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama 30 pejabat lain melakukan tindak pencucian uang sebesar USD 12 miliar atau setara Rp 177 triliun.

Artikel investigasi itu ditulis langsung oleh pendiri Asian Sentinel John Berthelsen, berdasarkan laporan investigasi sebanyak 488 halaman sebagai gugatan Weston Capital International ke Mahkamah Agung Mauitius pekan lalu. [gil]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini