TKN Sebut Jokowi Tunjukkan Sikap Pemimpin Berani Ralat Data Soal Karhutla

Selasa, 19 Februari 2019 22:06 Reporter : Ahda Bayhaqi
TKN Sebut Jokowi Tunjukkan Sikap Pemimpin Berani Ralat Data Soal Karhutla Debat kedua Pilpres 2019. ©Liputan6.com/Faizal Fanani

Merdeka.com - Capres 01 Joko Widodo meralat pernyataan terkait kebakaran hutan dan lahan dalam debat capres. Jokowi menuturkan, bukan tidak ada kasus karhutla, tapi menurun. Itu disampaikan pascadebat kedua terlaksana.

Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf menyatakan, sikap Jokowi tersebut menunjukkan karakter seorang pemimpin. Jokowi berani mengklarifikasi data yang disampaikan sebelumnya sebagai bentuk kejujuran.

"Pemimpin itu harus berkata jujur dan benar. Dia menyatakan ada kesalahan, ya dikoreksi. Itu manusiawi saja menurut saya," ujar Jubir TKN Zuhairi Misrawi di Jakarta, Selasa (19/2).

Politisi PDI Perjuangan itu mengatakan Jokowi mengungkap data yang mendekati kebenaran saat berhadapan dengan Prabowo Subianto. Zuhairi menyoroti perbedaan antara Jokowi dan Prabowo. Capres jagoannya berani tampilkan data. Sedangkan Prabowo hanya beretorika.

Sementara, dia menjelaskan, konteks pernyataan kebakaran hutan adalah bagaimana pemerintahan Jokowi menurunkan angka kebakaran hutan dan lahan.

Contohnya, data karhutla era Jokowi turun dibandingkan era presiden sebelumnya. Kata Zuhairi itu karena Jokowi mau menindak pelaku karhutla.

"Itu saya kira bukan hanya wacana, tapi publik betul-betul merasakan dari apa yang sudah dilakukan oleh Pak Jokowi," ujarnya.

Pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno menilai langkah Jokowi tepat mengkoreksi kesalahan data. Menurutnya sikap gentleman itu patut diapresiasi.

Mengapa demikian, Adi menuturkan langkah Jokowi itu menunjukkan sikap kenegarawanan. Pemimpin, dia lanjutkan, tidak boleh apriori, menang sendiri, dan merasa salah.

Karenanya, Adi menilai pendukung Prabowo dan masyarakat luas bisa memaklumi kesalahan data Jokowi. Karena sifatnya manusiawi, bisa salah sebut. Apalagi, dalam debat capres diberikan waktu yang sempit, membuat Jokowi tak utuh sampaikan data.

"Karena banyak hal yang harus diingat, ada empat isu krusial yang semua itu sangat membutuhkan backup data. Jadi wajar kalau kepleset atau ada penyebutan data yang agak keliru. Yang penting kan ada upaya untuk menjelaskan kepada publik bahwa data itu sudah ditampilkan, meski kemudian dikoreksi. Artinya data itu adalah satu instrumen untuk mengukur apakah kandidat ini punya sesuatu yang bisa dipertanggungjawabkan atau tidak," jelas Adi.

Dia pun turut membandingkan penyampaian Prabowo dalam debat. Menurut Adi, mantan danjen kopassus itu terlalu bernarasi hal yang besar, tapi minim data.

"Ketimbang menarasikan sesuatu yang besar tetapi tidak bisa diukur. Ketika bicara tentang Indonesia dikuasai oleh asing. Satu persen orang kaya hampir sama dengan separuh orang di Indonesia apa datanya? Lan gak bisa diukur. Memang minus kesalahan, tapi ngomongnya itu seakan-akan di ruang hampa. Ketika bicara tentang ketimpangan sosial, berapa prosentasi ketimpangannya, kan kita tidak pernah tahu," ujarnya.

Sebelumnya, Jokowi meluruskan pernyataannya yang menyebut selama tiga tahun terakhir sudah tidak pernah terjadi kebakaran hutan. Menurutnya, kebakaran tetap ada hanya jumlah sudah menurun.

"Artinya bukan tidak ada. Turun drastis, turun 85 persen lebih," kata Jokowi di Pandeglang, Banten, Senin (18/2).

Dia mengatakan saat ini pihaknya sudah bisa menekan angka kebakaran hutan dan lahan. Kemudian, kata dia, saat ini tidak ada lagi masalah asap yang sering dikomplain oleh Singapura dan Malaysia.

"Keluhan dari negara tetangga dalam tiga tahun ini, Singapura, Malaysia dapat dikatakan enggak ada komplain sama sekali. Itu yang kita maksudkan," ungkap Jokowi. [ray]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini