The Next Walikota Surabaya: 'Anak Emas' Risma Sampai Orang Dekat Khofifah

Sabtu, 15 Juni 2019 04:03 Reporter : Moch. Andriansyah
The Next Walikota Surabaya: 'Anak Emas' Risma Sampai Orang Dekat Khofifah Ilustrasi Pilkada Serentak. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapan Pilkada serentak di seluruh Indonesia -salah satunya Kota Surabaya- di bulan September 2020. Calon kandidat Pilwali Surabaya pun, rama-ramai dimunculkan. Paling santer disebut adalah nama KH Zahrul Azhar As'ad alias Gus Hans.

Apalagi, Sekjen Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) tersebut merupakan orang dekat Khofifah Indar Parawansa yang pada Pilgub Jawa Timur 2018 lalu sukses mengantarkan mantan Menteri Sosial menjadi gubernur periode 2019-2024.

Selain Gus Hans, juga ada nama Wakil Wali Kota sekaligus Ketua DPC PDIP Surabaya, Whisnu Sakti Buana yang dinilai sebagai kandidat kuat pengganti Wali Kota Tri Rismaharini yang sudah dua periode memimpin.

Santer juga disebutan nama 'anak emas' Risma, yaitu Ery Cahyadi (Kepala Bappeko Surabaya), politikus PKB Fandi Utomo, dan sejumlah nama tokoh populer lainnya di Kota Pahlawan.

Oleh karena itu, Komunitas Milenial Peduli Indonesia (Kompi) mengajukan usulan prasyarat yang harus dimiliki oleh figur pengganti Risma sebagai pemimpin yang syarat prestasi tersebut.

Apa saja syarat yang diusulkan? Ketua Kompi, Nico Makapedua menyebut, yang pertama, calon pengganti Risma wajib memiliki wawasan yang luas.

"Sebab Surabaya perlu inovasi-inovasi kreatif dalam pembangunannya ke depan," tegasnya.

Kemudian yang kedua memiliki etos kerja yang bisa dilihat, bisa menciptakan budaya kerja yang ekselen, bisa menciptakan kesejahteraan bagi warga, serta berkomitmen melawan korupsi dan intoleransi.

"Wali kota itu beda dengan kepala dinas yang urusannya teknis. Wali kota harus cakap mendelegasikan tugas-tugasnya kepada para bawahannya. Bu Risma sudah berhasil dalam pendelegasian tugas ini," nilai Nico.

"Jadi wali kota ke depan ini harus bisa menerapkan sistem kerja dalam teori Jim Collins, yaitu menempatkan orang-orang yang tepat di bidangnya," sambungnya.

Wali kota mendatang, lanjut Nico, juga harus siap menerima tantangan yang berat. "Sebab Surabaya ini potensinya besar, masalahnya juga tidak sedikit. Jadi dia harus bermental baja seperti Bu Risma," tandasnya.

Tradisi Kemenangan PDIP

Sekadar catatan, secara politis, Kota Surabaya, secara politis, dikenal sebagai kandangnya PDIP yang mampu menjaga tradisi kemenangan di setiap pesta demokrasi, baik Pemilu Legislatif (Pileg) maupun Pilkada. Tentu, saat Pilwali Surabaya 2020 nanti, partai besutan Megawati Soekarnoputri ini tak mau digusur seperti kekalahannya di Pilgub Jawa Timur 2018 lalu.

Tapi yang juga perlu diingat, secara demografis, Surabaya juga dikenal sebagai kotanya anak muda. Ini dibuktikan dengan prestasi yang ditorehan PSI saat Pileg 2019 kemarin yang cukup memberi kejutan publik di Kota Pahlawan.

Sebagai partainya anak muda dan baru kali pertama ikut Pemilu, partai besutan Grace Natalie tersebut mampu merebut empat kursi, mengalahkan partai 'tua' semacam PPP yang hanya mendapat satu kursi di Surabaya.

Namun untuk bisa menjadi pemimpin di Kota Pahlawan, sekali lagi menurut Kompi, bukan perkara mudah. "Ini karena kultur warganya yang khas dan banyak orang well educated di kota ini," ucap Nico.

Tak hanya itu, para kandidat calon pemimpin yang akan bertarung di Pilwali Surabaya 2020 nanti, juga jelas akan berhadapan dengan PDIP yang sejak Pilkada langsung digelar hingga saat ini, selalu sukses mengantarkan calonnya menjadi wali kota, salah satunya wali kota berprestasi Tri Rismaharini. [rnd]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini