Soal Ketua DPR, PDIP ungkit jadi parpol pemenang Pemilu 2014

Jumat, 22 Desember 2017 21:37 Reporter : Hari Ariyanti
Soal Ketua DPR, PDIP ungkit jadi parpol pemenang Pemilu 2014 Gedung DPR. Merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - Setelah Setya Novanto mengundurkan diri dari jabatan Ketua DPR, hingga saat ini belum ditetapkan siapa penggantinya. Golkar akan memproses penggantian Setnov setelah munaslub selesai yang ditandai dengan terpilihnya Airlangga Hartarto sebagai Ketum baru partai berlambang beringin itu.

Soal jabatan pimpinan DPR ini, PDIP sebagai partai pemenang Pemilu 2014 menanggapi. Sekjen DPP PDIP, Hasto Kristiyanto menyampaikan pihaknya tak hanya sekadar punya niatan masuk menjadi salah satu pimpinan DPR, tapi etika politik harus dibangun dengan memperhatikan suara rakyat.

"Ketika rakyat menyatakan memberikan dukungan pada PDIP sehingga PDIP menjadi partai pemenang Pemilu tentu saja suara itu harus senapas dengan apa yang terjadi di DPR," jelasnya di Kantor DPP PDI Perjuangan, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (22/12).

Selama ini adanya dialektika dan dinamika di lembaga wakil rakyat itu menurutnya karena PDIP tak dilibatkan sebagai pimpinan.

"Kalau kita lihat seluruh dialektika, seluruh dinamika yang terjadi di DPR terkait pimpinan Dewan, kalau orang Jawa bilang itu mungkin karena tidak melibatkan PDIP," jelasnya.

"Sehingga hukum demokrasi yang berdasarkan pengalaman dalam praktik ketika kami berada di luar pemerintah pun kami menghormati pemenang Pemilu," lanjut Hasto.

Kendati demikian, dia menegaskan bahwa pihaknya tak akan ngotot terhadap kursi pimpinan DPR. Hal itu harus muncul sebagai kesadaran bersama di DPR khususnya soal azas berdemokrasi.

"Masak kemudian kami harus ngotot untuk hal tersebut. Biarlah itu muncul sebagai sebuah kesadaran, tatanan demokrasi yang berkeadaban, yang baik itu jangan melupakan suara rakyat. Jadi kami enggak akan ngemis-ngemis jabatan itu. Itu harus muncul sebagai kesadaran bersama," tegasnya.

Mengenai komunikasi dengan fraksi lain di DPR, Hasto mengatakan komunikasi tetap ada karena pengisian jabatan strategis seperti Ketua DPR harus dilihat rekam jejak kepemimpinan para calon pimpinan DPR. Termasuk juga harus dilihat dari sisi kemampuan untuk memulihkan citra DPR yang saat ini dinilai sedang terpuruk.

"Ini menjadi bagian komunikasi yang dijalankan oleh partai," tutupnya. [dan]

Topik berita Terkait:
  1. Calon Ketua DPR
  2. DPR
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini