Sekjen PDIP: Soliditas akan membuktikan Jateng tetap jadi kandang banteng

Rabu, 14 Februari 2018 17:07 Reporter : Iqbal Fadil
Sekjen PDIP: Soliditas akan membuktikan Jateng tetap jadi kandang banteng Rakerdasus PDI-P Jateng. ©2018 Merdeka.com/Dian Ade Permana

Merdeka.com - PDI Perjuangan bertekad membawa jagoannya, Ganjar Pranowo yang kini berpasangan dengan Taj Yasin, menjadi Gubernur Jawa Tengah untuk dua periode. Partai yang dipimpin oleh Megawati Soekarnoputri itu tidak takut dengan semangat lawan politiknya yang ingin mematahkan mitos Jateng sebagai Kandang Banteng.

"Tapi dengan melihat soliditas kita ini akan menjadi kekuatan gerak untuk menjaga agar Ganjar satu periode lagi sebagai gubernur dan wakilnya Gus Yasin," kata Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto, saat membuka Rakerdasus PDIP Jawa Tengah di Semarang, Rabu (14/2).

Apalagi, kata Hasto, PDIP bergotong royong bersama Partai Persatuan Pembangunan, Partai Golongan Karya, Partai NasDem, dan Partai Demokrat memenangkan Pemilihan Kepala Daerah Jawa Tengah 2018. Menurut Hasto, dengan mengusung Taj Yasin Maimoen sebagai calon Wakil Gubernur Jateng, PDIP juga sudah membuktikan diri sebagai partai yang tidak berjarak dengan kekuatan Islam.

"Isu politik yang mengatakan kita jaga jarak dengan Islam sama sekali tidak terbukti. Itu adalah upaya politik mendiskreditkan PDI-Perjuangan. Kita tidak boleh diam," ujar Hasto menegaskan.

Menurut Hasto, PDIP memiliki akar sejarah yang kuat dengan Islam. Saat Megawati Soekarnoputri menjabat sebagai presiden, dia menolak aksi sepihak serangan terhadap Irak.

"Beliau melihat akar terorisme adalah ketidakadilan masalah Palestina. Ibu Justru dengan lantang mengatakan akar terorisme adalah ketidakadilan terhadap Palestina dan kita memberikan dukungan sepenuhnya kepada kemerdekaan Palestina," tegas Hasto.

Menurut Hasto, perjuangan kemerdekaan Palestina bahkan sudah dilakukan Indonesia sejak zaman Presiden Soekarno. Bung Karno, merupakan Presiden yang berjuang membantu Bangsa Palestina agar merdeka. "Bung Karno begitu dekat dengan keseluruhan tradisi keislaman dan memahami apa itu Islam rahmatan lil alamin. Karena Bung Karno sejak kecil belajar dengan KH Ahmad Dahlan, HOS Tjokroaminoto, dan bersahabat baik dengan Kiai Wahid Hasyim dan Kiai Wahab Hasbullah. Islam adalah jalan peradaban untuk membangun Indonesia Raya," papar Hasto.

Bung Karno juga, kata Hasto, yang memperkenalkan kebudayaan Islam di negara-negara Barat. Menurut Hasto, tanpa Bung Karno, Uni Soviet yang dikenal sebagai negara komunis tidak akan memelihara makam Imam Bukhari dan mendirikan Masjid Biru. "Tanpa Bung Karno tidak ditemukan makam Imam Bukhari. Tanpa Bung Karno tidak ada masjid biru di negara komunis Uni Soviet," jelas Hasto.

Dengan memiliki hubungan Islam yang begitu kokoh dalam sejarah nasional, PDI-Perjuangan menilai saat ini ada kekuatan yang berupaya memecah belah keberagaman di Indonesia. Menurut Hasto, Ganjar-Gus Yasin bakal menjadi satu kesatuan tentang kepemimpinan yang menjadi simbol kebhinekaan. "Di Jateng Mas Ganjar dan Gus Yasin merupakan satu kesatuan kepemimpinan yang berdedikasi bagi rakyat," tutup Hasto. [bal]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini