Sekjen PDIP dan PAN Dorong Pemuda Muhammadiyah Siapkan Calon Negarawan

Minggu, 2 Mei 2021 21:07 Reporter : Muhammad Genantan Saputra
Sekjen PDIP dan PAN Dorong Pemuda Muhammadiyah Siapkan Calon Negarawan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dan Sekjen PAN Eddy Soeparno bersama pengurus Pemuda Muhammadiyah. ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dan Sekjen PAN Eddy Soeparno mendorong aktivis Pemuda Muhammadiyah terlibat untuk memastikan masa depan Indonesia yang lebih baik pada Pemilu 2024 dan setelahnya. Mereka harus menyiapkan gagasan terbaik dan menjadi penghubung bagi generasi penerus agar memahami dan tidak apatis terhadap politik.

Hasto menegaskan, tak ada pemilik tunggal di republik ini. Indonesia adalah negara gotong-royong yang menjadikan rakyat sebagai satu-satunya pemegang legitimasi kekuasaan.

Sejak awal Indonesia berdiri, kata dia, gotong-royong sudah nyata dilakukan. Contohnya Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), dan PNI, sebagai representasi kelompok Nasionalis, selalu bersama memelopori kemerdekaan.

"Jadi kalau cikal bakal PAN adalah Muhammadiyah, maka kerja sama kami dengan PAN dan Pemuda Muhammadiyah, punya legitimasi historis dan ideologis. Karena kita bersamalah yang memegang obor semangat keindonesiaan itu sejak awal," kata Hasto Rakornas Pemuda Muhammadiyah, bertema 'Konfigurasi Politik Pemuda Muhammadiyah Menyambut Pesta Demokrasi 2024' di Jakarta, Minggu (2/5).

Hasto lalu bicara soal kondisi Indonesia sejak 1997-1998 yang kedaulatan politik negara berusaha dikontrol lewat Letter of Intent IMF. Lalu terjadi juga reproduksi American Politics di Indonesia dengan credo one man, one vote, dan one value yang menggantikan demokrasi musyawarah.

Akibatnya, muncul berbagai dampak negatif di mana terjadi konvergensi politik-hukum-kapital-pemilik media dan meningkatnya primordialisme, hingga konflik Pancasila melawan ideologi transnasional.

Situasi ini, kata dia, membuat Indonesia mundur dari kemajuan yang pernah terjadi sebelumnya. Hasto memaparkan, di era kepemimpinan Bung Karno, kekuatan Pancasila berhasil mendorong kemerdekaan bangsa Maroko, Tunisia dan Aljazair, serta dukungan penuh bagi Palestina dan Pakistan.

"Aljazair merdeka karena campur tangan Indonesia. Apa kita tak bangga? Tiba-tiba sekarang kita cuma melihat ke dalam, masalah di dalam negeri melulu, seakan terjadi konflik antara Pancasila dan Islam. Padahal dahulu, Pancasila justru memerdekakan negara dunia Islam," kata Hasto.

"Kenapa tiba-tiba sekarang semuanya mikir ke dalam? Hanya berdansa untuk 2024? Di mana kekuatan kita untuk memerdekakan bangsa lain? Maka kita harus outward looking," tegasnya.

Menurut Hasto, Indonesia harusnya ikut campur tangan sebagai peace facilitator dalam konflik Timur Tengah, Korea, dan Laut Cina Selatan. Dengan Pancasila dan politik luar negeri bebas aktif, Indonesia menjadi solusi bagi perdamaian dunia.

"Karena itulah kita harus percaya diri dengan kekuatan Pancasila. Semangat inilah kita harapkan dari Pemuda Muhammadiyah. Bagaimana Anda mendorong sinar cahaya Muhammadiyah bagi kemajuan peradaban Indonesia dan dunia seperti disampaikan Bung Karno, Islam is a progress," urainya.

Lebih lanjut, Hasto menyimpulkan empat hal. Pertama, bagaimana Pemuda Muhammadiyah memiliki kekuatan ideologis dan moralitas yang baik. "Yakni Pancasila dan semangat Islam is a progress," kata Hasto.

Kedua, bagaimana Pemuda Muhammadiyah bersama pemuda Indonesia lainnya menguasai sains dan teknologi. Sebab tak ada bangsa yang besar tanpa riset serta inovasi.

Ketiga, kader Pemuda Muhammadiyah harus memiliki kemampuan organisasi beserta kemampuan leadership yang handal dan juga mampu berkomunikasi yang baik.

"Keempat, cara pandang. Anda harus berjuang mendorong kemajuan Indonesia di dunia. Jadi outward looking," sebutnya.

Hasto mendorong empat hal itu harus dibumikan dalam tradisi, kultur dan alamnya Indonesia.

"Jadi Pemuda Muhammadiyah tak hanya bicara soal kira-kira 2024 di posisi politik apa. Tetapi juga ketika masuk ke politik, apa yang akan kita perjuangkan bagi peradaban, menciptakan sejarah kemajuan bagi kepemimpinan Indonesia untuk dunia? Mari keluarkan gagasan terbaik kita," pungkas Hasto.

Sementara itu, Sekjen PAN Eddy Soeparno mengatakan, selama ini banyak yang menduga partai politik sekadar memikirkan pemenangan pemilu setiap lima tahun. Namun yang kerap tak diketahui, parpol sebenarnya memikirkan bagaimana menciptakan negarawan.

"Sering disebut politikus hanya pikirkan elektoral tiap 5 tahun. Namun negarawan memikirkan bagaimana generasi berikutnya. Mas Hasto dengan kami di PAN, mungkin bisa disebut hybrid," urai Eddy.

"Kami politisi hybrid. Artinya, tugas kita memenangkan pemilu. Betul. Itu tugas pokok supaya bisa perjuangkan aspirasi masyarakat. Namun, utamanya ada tugas menciptakan negarawan yang memikirkan generasi bangsa ke depan," tambah Eddy.

Secara khusus, Eddy mendorong Pemuda Muhammadiyah bisa menjadi penghubung yang baik bagi para generasi milenial serta generasi Z, khususnya, demi bisa memahami politik dan tak apatis terhadapnya.

Ketua Pemuda Muhammadiyah Sunanto mengatakan, pihaknya memang akan serius menyiapkan calon pemimpin bangsa ke depan yang memiliki kualitas negarawan.

"Tantangan kita, melahirkan pemuda negarawan. Yang kita usahakan ke depan, kemungkinan adanya sekolah negarawan yang memupuk Pemuda Muhammadiyah yang tak ahistoris dengan sejarah perjuangan negara, dan juga tak melepaskan empati terhadap warga," kata Sunanto.

Menurut dia, kader Pemuda Muhammadiyah memang harus memahami sejarah perjuangan bangsanya. Namun di sisi lain, juga harus tetap mempertahankan empati kemanusiaannya.

"Sehingga dia membuka dirinya dan perhatiannya untuk warga lain, bukan hanya memikirkan agamanya sendiri, tetapi peduli kemanusiaan, mencerdaskan semua manusia yang ada di Indonesia," pungkas Sunanto. [yan]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini