Sandiaga minta sebutan 'emak-emak' tak terlalu dipersoalkan
Merdeka.com - Bakal calon Wakil Presiden Sandiaga Uno menyoroti pidato Presiden Joko Widodo di Sidang Umum ke-35 Dewan Perempuan Internasional di Yogyakarta. Dia menilai, banyak media salah menafsirkan pernyataan Jokowi terkait istilah emak-emak.
"Saya baru baca transkripnya, jadi Pak Presiden enggak menyatakan seperti itu. Satu rasa multi-penafsiran itu, seperti yang terjadi antara saya dengan Pak Ridwan Kamil itu karena temen-temen transkripnya salah diartikan," katanya usai menemui Ikatan Keluarga Minang di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (15/9).
Dia menilai, Jokowi tidak mempermasalahkan istilah kaum perempuan dengan sebutan emak-emak. Apalagi, kata mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu, masyarakat Indonesia memang memiliki panggilan beragam terhadap ibunya, seperti emak, ibu, mamah, bunda, enyak, dan sebagainya.
"Menurut saya Pak Presiden tidak ada masalah dengan penyebutan ibu bangsa atau emak-emak dan lain sebagainya, yang penting kaum perempuan kita, kaum hebat, perempuan mandiri. Perempuan yang akan menjadi penentu kesuksesan bangsa ini," ujarnya.
Karena itu, Sandiaga meminta sebutan emak-emak untuk kaum perempuan tak terlalu dipersoalkan. Dia mengajak agar apa yang menjadi keluhan emak-emak selama ini diperjuangkan bersama.
"Kami menangkap aspirasi dari ibu-ibu, kaum perempuan hebat, perempuan mandiri, partai emak-emak, itu yang selama 2 tahun saya turun ini tidak terkanalisasi, tidak tertangkap aspirasinya. Sekarang diskursus tentang ibu-ibu itu jangan diperkecil atau dipersempit dengan hanya definisi emak-emak. Tapi bagaimana mereka bisa mendapatkan solusi daripada permasalahan yang mereka hadapi," Sandiaga menandaskan.
Sebelumnya, Jokowi dalam sambutannya menyebut kaum perempuan dengan panggilan ibu bangsa. Hal itu dilakukan setelah Ketua Kongres Wanita Indonesia Giwo Rubianto Wiyogo menyampaikan pidatonya dan menolak panggilan emak-emak untuk kaum perempuan.
(mdk/fik)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya