Balas Andi Arief, Pasek Ungkap 'Dosa' SBY ke Anas Urbaningrum hingga Harus Minta Maaf

Pasek memberikan daftar apa saja 'dosa' SBY kepada Anas. Pertama, SBY harus meminta maaf atas pidato dari Jeddah yang memaksa kasus Anas Urbaningrum harus disegerakan karena bocor surat perintah penyidikan (Sprindik) ke Istana.

Ahda Bayhaqi
Oleh Ahda Bayhaqi - Reporter
Balas Andi Arief, Pasek Ungkap 'Dosa' SBY ke Anas Urbaningrum hingga Harus Minta Maaf
SBY dan Anas Urbaningrum. ©2013 Merdeka.com/arie basuki

Ketua Bappilu Partai Demokrat Andi Arief menyarankan Anas Urbaningrum meminta maaf kepada Presiden keenam RI dan Ketua Majelis Tinggi Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Loyalis Anas pun membalas.

Ketua Umum Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) Gede Pasek Suardika justru menyarankan SBY yang meminta maaf kepada Anas.

"Namanya saran ya silakan saja. Saya pun sama, memberikan saran ke SBY mumpung bulan suci Ramadan dan Mas Anas baru keluar setelah 10 tahun lamanya di dalam maka momentum yang bagus untuk SBY meminta maaf kepada AU," ujar Pasek kepada wartawan, Senin (10/4).

Pasek memberikan daftar apa saja 'dosa' SBY kepada Anas. Pertama, SBY harus meminta maaf atas pidato dari Jeddah yang memaksa kasus Anas Urbaningrum harus disegerakan karena bocor surat perintah penyidikan (Sprindik) ke Istana.

"Meminta maaf atas pidato dari Jeddah yang memaksakan kasus AU bisa disegerakan yang berakibat ada sprindik bocor ke istana oleh oknum KPK untuk mentersangkakan AU sementara gelar perkara belum dilakukan," jelas Pasek.

Selanjutnya, SBY harus meminta maaf atas upaya kudeta Majelis Tinggi Demokrat atas jabatan ketua umum Demokrat saat Anas belum jadi tersangka. Kemudian, janji rekonsiliasi usai KLB di Bali yang diingkari oleh SBY.

"Meminta maaf atas upaya kudeta di Majelis Tinggi PD atas jabatan Ketum saat AU belum jadi Tersangka. Meminta maaf atas janji rekonsiliasi usai KLB di Bali yang di ingkarinya sementara AU sudah berusaha membantunya untuk aklamasi," jelas Pasek.

SBY juga diminta minta maaf atas tuduhan konspirasi kasus e-KTP dituduhkan ke SBY saat Anas masih di penjara. Padahal hal tersebut, kata Pasek hoaks dan fiktif.

"Meminta maaf atas tuduhan AU melakukan konspirasi kasus E KTP dituduhkan ke SBY ketika AU masih didalam penjara yang ternyata hoax dan fiktif," ujar Pasek

Kemudian, SBY perlu meminta maaf karena tidak konsisten memberlakukan pakta integritas kalau tersangka, terdakwa dan terpidana harus mundur dari Demokrat. Sementara ada mantan narapidana masih mendapatkan jabatan tinggi di partai.

"Meminta maaf atas tidak konsistennya memberlakukan pakta integritas kalau Tersangka Terdakwa dan Terpidana harus mundur dan berhenti di PD karena terbukti saat ini mantan narapidana malah dapat jabatan tinggi," kata Pasek.

"Dan masih banyak lagi yang harus dan sebaiknya SBY meminta ke AU untuk dimaafkan. Mari gunakan hati yang jernih dan tegar mengakui semua itu. Dan saya yakin Andi Arief tidak mengerti soal itu dengan detail," imbuhnya.

Pasek mengatakan, Anas tidak membawa dendam keluar dari penjara. Ia hanya berjuang mencari keadilan atas kriminalisasi yang dialaminya.

"Perlu diketahui, Mas AU tidak membawa dendam keluar penjara. Beliau hanya membawa ikhtiar untuk berjuang mencari keadilan atas kriminalisasi yang terjadi pada dirinya. Setelah bebas baru mulai bisa melangkah berjuang," ujar Pasek.

"Bagus juga bila Andi Arief bisa membantu membongkar aksi kriminalisasi itu. Kalau tertarik mari bantu AU membongkar kriminalisasi selama ini dengan hati yang tulus," pungkasnya.

Sebelumnya, Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai Demokrat Andi Arief mengajak Anas Urbaningrum memulai hidup baru dengan lebih baik setelah keluar dari penjara. Dia yakin Anas bisa memperbaiki diri.

"Di bulan baik ini, saya menyampaikan ucapan selamat menghirup udara bebas pada AU. Mulailah hidup baru, hidup yang lebih baik. Semua orang punya masa kelam. Tapi bisa memperbaiki diri kemudian," ujar Andi kepada wartawan, Senin (10/4).

Menurutnya, lingkungan politik akan menentukan kehidupan Anas ke depan. Ia harap Anas memilih lingkungan politik yang baik setelah bebas.

"Lingkungan politik akan menjadi salah satu yang menentukan. Semoga lingkungan politik setelah keluar dari Sukamiskin yang menjadi pilihan adalah yang bersih hati, pikiran dan tindakan," ujarnya.

Salah satu langkah untuk memperbaiki itu, Anas Urbaningrum diharapkan untuk meminta maaf terbuka kepada Presiden keenam RI dan Ketua Majelis Tinggi Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"Sebagai sahabat saya menyarankan AU memilih meminta maaf terbuka kepada bapak SBY dan seluruh kader demokrat yang hampir karam saat dipimpinnya," ujar Andi.

"Mungkin di situlah hati yang bersih akan muncul," sambungnya.

Rekomendasi