Sejumlah aktivis yang tergabung dari koalisi masyarakat sipil membuat sebuah petisi untuk calon Ketua DPR yang baru menggantikan Setya Novanto. Petisi tersebut guna mendukung terpilihnya ketua DPR yang sesuai harapan publik dan bersih dari korupsi.
"Soal pemilihan pimpinan DPR ini satu hal sayang sangat penting dan krusial, bukan seperti pemilihan ketua Parpol," kata Deputi Perludem (Perkumpulan Pemilu dan Demokrasi) Veri Junaidi dalam diskusi di D'hotel, Jl Sultan Agung, Jakarta Selatan, Selasa, (2/1).
"Tapi pemilihan ketua DPR dalam waktu dekat ini menjadi satu hal yang penting bagi koalisi masyarakat sipil, publik, bagi masyarakat luas untuk mengawal dan mengingatkan, bahwa pemilihan DPR itu tak semata mata menjadi kepentingan politik tertentu," tambahnya.
Oleh karena itu, kata Veri, koalisi masyarakat sipil menyatakan petisi sebagai berikut. Pertama, mendukung slogan baru Golkar Bersih sebagai tekad Golkar untuk menjadi salah satu partai yang mendukung gerakan antikorupsi, khususnya dalam partai Golkar dan umumnya dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.
"Slogan tersebut sudah semestinya terwujud dalam praktik politik partai Golkar, maupun di internal maupun eksternal partai, agar slogan bersih tak hanya menjadi slogan semata. Salah satunya dibuktikan dalam penentuan pimpinan DPR pengganti sebagai wakil dari fraksi Golkar," papar Veri.
Untuk mencapai misi tersebut, koalisi masyarakat sipil berharap partai Golkar menyodorkan kriteria sosok sebagai berikut. Yakni, kata Veri, tak memiliki rekam jejak dipidana dalam kasus yang bersifat amoral khususnya korupsi. Lanjut dia, tidak potensial akan dipersoalkan secara hukum, khususnya berkaitan dengan angket KPK.
"Bukan merupakan pendukung pansus KPK, apalagi menjadi salah satu motor lahirnya angket KPK," tegas Veri.
Kemudian, memiliki pandangan dan sikap yang sepenuhnya mendukung upaya pemberantasan korupsi, salah satunya dengan tidak mendukung pelemahan KPK dengan berbagai cara dan versinya. Terakhir, memiliki kemampuan mendengar dan memiliki kelapangan hati dalam menerima kritik.
Pernyataan petisi ini dihadiri oleh Abdul Fickar Hadjar, Wahidah Suaib, Ari Nurcahyo, Julius Ibrani, Roy Salam, Fadli Ramadhani, Syamsudin Alamsyah, dan Ray Rangkuti.