PSI Masih Percaya Diri Meski Survei Elektabilitas Rendah dan Ditolak Masyarakat

Kamis, 21 Maret 2019 23:33 Reporter : Sania Mashabi
PSI Masih Percaya Diri Meski Survei Elektabilitas Rendah dan Ditolak Masyarakat Bersih-bersih DPR ala PSI. ©Liputan6.com/Johan Tallo

Merdeka.com - Hasil survei terbaru yang digelar Litbang Kompas akhir Februari hingga awal Maret 2019 memprediksikan tidak ada dari empat partai pendatang baru yang lolos ke DPR karena gagal memenuhi ambang batas sebesar 4 persen. Yang menarik, menentang atau menentang pemilihan baru itu sebaliknya lebih besar dari angka elektabilitas mereka.

Dikutip dari Harian Kompas, Kamis (21/3), elektabilitas empat partai baru itu adalah PSI (0,9 persen), Berkarya (0,5 persen), Garuda (0,2 persen), sementara Perindo (1,5 persen).

Pengamat komunikasi politik dari Universitas Indonesia Ari Junaedi mengatakan prediksi dan survei bahwa partai-partai baru, termasuk PSI tidak lolos parlemen cukup wajar dan normal.

"Selain sebagai new comer, positioning dan strategi branding mereka pun terbilang tidak tepat," kata Ari dilansir Antara Jakarta, Kamis (21/3).

Menurut Ari, pengambilan posisi dan strategi kampanye untuk citra diri dan partai (branding) yang tidak tepat itu bukan hanya tidak mendongkrak elektabilitas, bahkan menimbulkan dampak persepsi negatif publik. Itu ditunjukkan dari resistensi pemilih terhadap PSI menjadi tertinggi mencapai 5,6 persen. Dengan kata lain, pimpinan partai Grace Natalie menjadi partai yang paling ditolak masyarakat. Selanjutnya adalah Perindo, dengan resistensinya 1,9 persen. Kemudian Berkarya resistensinya 1,3 persen. Dan terakhir Garuda yang nilai resistensinya 0,9 persen.

"Hal itu terlihat dari tingginya resistensi masyarakat, terhadap partai-partai baru termasuk PSI yang dibesut anak-anak milenial," kata Ari.

Ari mengaku termasuk yang menaruh harapan besar terhadap partai milenial itu pada saat-saat awal berdiri. Namun, di tengah-tengah perjalanannya, partai yang dipimpin Grace Natalie tersebut kerap mengeluarkan blunder yang tidak perlu.

Dia mencontohkan penolakan Perda Syariah dan poligami sebagai isu sensitif yang terlalu dini dimainkan oleh PSI sebagai partai baru sehingga mengundang reaksi negatif kepada partai itu.

"Pernyataan perda syariah dan poligami yang masuk dalam ranah filosofis keagamaan sebaiknya tidak disentuh PSI di awal kampanye. Dengan cara seperti itu, PSI mengobarkan perang dengan kaum mayoritas," katanya.

Selain itu, PSI juga kerap mengeluarkan pernyataan yang menyinggung partai lain bahkan partai sesama anggota koalisi pendukung Jokowi.

Misal, pernyataan PSI yang menyinggung kiprah partai-partai lama soal pendampingan terhadap gender, yang nyatanya sudah digarap oleh partai-partai yang jauh lebih senior, kata Ari.

"PSI kurang santun dalam berpolitik serta tidak bisa melepaskan diri dari gaya anak muda yang temperamental," ujarnya.

Semestinya menurut Ari, PSI lincah bermanuver di pusaran isu-isu nasional tanpa membuat permusuhan dengan partai-partai lain. PSI harusnya percaya diri bermain di isu-isu milenial mengingat captive marketnya di kalangan milenial atau pemilih pemula.

"Ini kan tidak, PSI membuka front 'pertempuran' dengan partai-partai senior, tidak peduli yang ada di dalam koalisi atau tidak serta tidak menggarap intens pasar potensialnya," ucapnya.

Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Raja Juli Antoni angkat bicara terkait hasil survei Litbang Kompas yang memprediksi partainya tak lolos ambang batas parlemen atau parliamantary treshold (PT) di Pemilu 2019. Menurut Toni yang perlu dilihat dari hasil survei adalah tren elektabilitas PSI yang terus naik.

"Hasil yang diperlihatkan lembaga-lembaga survei itu yang penting dilihat trennya. Di survei Kompas ini kalau dilihat sebelumnya kami 0,4 persen, sekarang 0,9 persen. Jangan dilihat angka absolutnya itu. Lihat trennya," kata Toni pada wartawan, Kamis (21/3).

Toni menyebut hasil beberapa lembaga survei juga menunjukkan elektabilitas PSI selalu naik. Bahkan, ada lembaga survei yang menyatakan PSI sudah mencapai empat persen.

"Tapi di berbagai lembaga survei lain trennya juga sama. Naik, bahkan ada yang menyatakan sudah di angka empat persen. Dan semuanya masih dalam rentang margin of error sehingga kami masi optimis melihat hasil survei Kompas tersebut," ungkapnya.

Meski begitu, Toni menegaskan partainya akan tetap berusaha menaikkan elektabilitas. Salah satunya dengan terus berkeliling keseluruh daerah dan menggunakan strategi door to door.

"Semua caleg juga mengetuk pintu rakyat dan pintu hati tanpa lelah. Insya Allah di 17 April mendatang akan berbuah manis," ucapnya. [noe]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini