Profil Fadjroel Rachman, Mantan Aktivis Golput yang Bakal Masuk Kabinet Jokowi?

Senin, 21 Oktober 2019 16:18 Reporter : Fellyanda Suci Agiesta
Profil Fadjroel Rachman, Mantan Aktivis Golput yang Bakal Masuk Kabinet Jokowi? Fadjroel Rachman di Istana. ©2019 Liputan6.com/Angga Yuniar

Merdeka.com - Mochammad Fadjroel Rachman biasa disapa Fadjroel Rachman muncul di Istana Negara, Senin (21/10). Fadjroel hadir berbarengan dengan Pratikno dan Nico harjanto.

Fadjroel hadir ke Istana Negara jelang pengumuman menteri baru di Kabinet Jokowi-Ma'ruf Amin. Lalu, seperti apakah sosok Fadjroel Rachman? Berikut profil lengkapnya:

1 dari 7 halaman

Kuliah di ITB dan UI

Fadjroel dikenal sebagai aktivis sejak kuliah di Institut Teknologi Bandung Jurusan Kimia. Kemudian dilanjutkan dengan Program Pascasarjana Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Bidang Manajemen Keuangan dan Moneter.

Kemudian tahun 2008, Fadjroel kembali melanjutkan studinya S3 Program Pascasarjana Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

2 dari 7 halaman

Mantan Aktivis 98

Salah satu yang paling diingat dari Fadjroel Rahman adalah aksinya saat tahun 1998. Kala itu, Fadjroel masih berkuliah di Institut Teknologi Bandung Jurusan Kimia. Pada tahun 1987-1989, tiga tahun setelah kuliah, Fadjroel bersama-sama dengan para aktivis mahasiswa lainnya melakukan advokasi untuk petani Kacapiring dan Badega.

Saat masa pemerintahan Presiden Soeharto, dia pernah ditunjuk untuk menjadi komandan lapangan dalam aksi long march sejauh 60 kilometer dari Kampus ITB menuju Cicalengka. Namun aksinya dibubarkan oleh polisi dengan menghujani peserta aksi dengan peluru karet.

Fadjroel bersama kawan-kawannya juga pernah menggelar aksi penolakan kedatangan Rudini yang saat itu menjabat sebagai menteri dalam negeri. Buntut aksinya ini, Fadjroel bersama lima rekan lainnya ditangkap.

Fadjroel juga pernah menjadi aktivis dengan statusnya sebagai Ketua Presidium Forum Mahasiswa Pascasarjana Universitas Indonesia Forum Wacana UI, bersama ribuan mahasiswa, kembali menuntut Soeharto turun dari kekuasaannya pada 18 21 Mei tahun 1998, hingga Jenderal Besar Soeharto mengundurkan diri dan Rezim Orde Baru dibubarkan.

3 dari 7 halaman

Penulis Buku

Tak hanya sebagai aktivis, Fadjroel juga melahirkan banyak buku terkait demokrasi. Beberapa karya bukunya seperti Menggugat Indonesia: Republik Tanpa Publik (1990), Democracy without The Democrats: On Freedom, Democracy and The Welfare State (2007), Demokrasi Tanpa Kaum Demokrat (2006).

Kemudian May Revolution and Mass Media (2001), Antologi puisi Catatan Bawah Tanah (1992), Antologi puisi Dongeng untuk Poppy (2007).

Antologi Puisi Sejarah Lari Tergesa, Bulan Jingga Dalam Kepala (2007), dan Indonesianisasi Saham Penanaman Modal Asing: Studi Tentang PT Freeport Indonesia (2013).

4 dari 7 halaman

Aktif di Beberapa Forum

Fadjroel sempat aktif di beberapa forum. Bahkan forum tersebut terkait dengan isu internasional. Salah satunya Lembaga Pengkajian Demokrasi dan Negara Kesejahteraan (Pedoman Indonesia) atau Research Institute of Democracy and Welfare State dan kerjasama internasional di jaringan Southeast Asian Forum for Democracy, dan Asia Pacific Youth Forum (Tokyo).

Kemudian pernah aktif di Forum Demokrasi, Konfederasi Pemuda dan Mahasiswa Sosial-Demokrat Indonesia (KPMSI), dan Masyarakat Sosial-Demokrat Indonesia (MSI/Ketua Badan Pekerja).

5 dari 7 halaman

Pengritik di Era Presiden SBY

Di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Fadjroel dikenal vokal dan kritis. Hampir semua kebijakan Presiden SBY selalu dikritiknya. Salah satunya masalah utang.

Fadjroel pernah mengkritik saat Presiden SBY membeli jet. Kritikan itu ia tuliskan di akun Twitternya.

"Januari 2014, utang pemerintah Indonesia Rp 2.465,45 triliun. Ngotot beli pesawat, mercy, bagi2 uang utk SBY-Boediono. Kita ini bangsa apa?"

Pada tahun 2009, kala itu Fadjroel sebagai aktivis Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi (Kompak) mengadakan aksi unjuk rasa mendukung Komisi Pemberantasan Korupsi di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, 8 November.

Ia mengkritik Presiden SBY soal penjegalan pemberantasan korupsi yang menjadi bagian dari reformasi selama 10 tahun terakhir tercoreng.

"Karena Presiden tidak hadir, kami berkesimpulan pemerintah masih berada di pihak buaya. Padahal melalui aksi unjuk rasa ini, Presiden bisa mengambil keuntungan membuktikan komitmennya untuk mereformasi hukum." kata Fadjroel.

6 dari 7 halaman

Aktivis Golput

Fadjroel Rachman pernah golput sejak mahasiswa hingga Pemilu 2004. Bahkan menurutnya, jika ada warga yang hendak golput atau ada ajakan golput, itu tidak masalah.

"Sebenarnya menjadi golput itu nggak ada bedanya dengan memilih. Sama saja. Golput itu kan hak memilih untuk tidak memilih," kata Fadjroel.

"Aku menganjurkan kamu memilih dan aku menganjurkan kamu tidak memilih itu sama nilainya. Mereka yang menganjurkan golput, karena sistem demokrasi ini tidak betul-betul memperjuangkan demokrasi," katanya.

Alasan Fadjroel golput, karena semua parpol dan caleg dinilainya tidak berpihak pada persoalan hak asasi manusia.

7 dari 7 halaman

Komisaris Utama PT Adhi Karya (Persero)

Fadjroel Rahman diangkat menjadi Komisaris Utama PT Adhi Karya (Persero), sebuah perusahaan BUMN yang bergerak di bidang konstruksi. Fadjroel ditunjuk sebagai komisaris pada 22 September 2015.

"PT Adhi Karya ini kan pekerjaannya adalah membangun infrastruktur yang selama ini (menjadi) obsesi Pak Jokowi. Kiranya, saya mohon doa juga agar saya bisa menyelesaikan tugas ini," ujar Fadjroel kala itu.

[dan]
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini