Poros Ketiga Dinilai Sulit Terbentuk, Prabowo-Surya Paloh-SBY Tak Ada yang Mau Ngalah

Rabu, 6 Juli 2022 16:37 Reporter : Alma Fikhasari
Poros Ketiga Dinilai Sulit Terbentuk, Prabowo-Surya Paloh-SBY Tak Ada yang Mau Ngalah Ilustrasi Pemilu. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Direktur CPA LSI Denny JA, Ade Mulyana memprediksi poros ketiga atau 'poros sisa dunia' rumit untuk terkonsolidasi. Sebab, Partai Gerindra, PKB, NasDem, PKS dan Demokrat belum menentukan arah koalisi di 2024.

Diketahui, saat ini baru terbentuk dua poros di antaranya poros PDIP karena sudah memiliki tiket untuk mencalonkan capres dan cawapres tanpa perlu koalisi. Serta Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang dibentuk oleh Partai Golkar, PAN dan PPP.

Ade menjelaskan ada empat alasan mengapa poros ketiga rumit untuk dibentuk. Pertama, karena persaingan leadership di antara tokoh dari partai-partai yang masuk poros sisa dunia.

Tokoh leadership itu, kata Ade, di antaranya, Prabowo Subianto, Surya Paloh (SP) dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Di belakang AHY pasti ada sosok Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"Dari tiga tokoh ini kita sulit juga menentukan siapa yang mau mengalah dipimpin salah satu dari tokoh ini. Ini juga kemungkinan sulit bentuk koalisi di antara tiga tokoh," kata Ade, dalam konferensi pers, di Jakarta, Rabu (6/7).

"Prabowo kan sudah sering jadi capres, SP juga kita lihat punya NasDem dan tokoh nasional, dan Pak SBY yang jadi presiden Indonesia dua periode. jadi agak sulit di antara tiga tokoh ini yang mau dipimpin oleh salah satunya," sambungnya.

2 dari 2 halaman

Alasan kedua, pembicaraan siapa yang akan diusung menjadi calon presiden (capres) belum menentukan titik temu. Partai Gerindra, Ade menilai Prabowo Subianto menjadi harga mati untuk dimajukan sebagai capres pada Pemilu 2024.

"Untuk NasDem, kemarin hasil rakernas ada tiga capres yang kemungkinan diusulkan: Ganjar, Anies dan Andika. Jadi masing-masing punya capres sendiri. Demokrat pasti harga mati akan mengusung Mas AHY, minimal cawapres," paparnya.

Kemudian alasan ketiga, Ade menyebut partai-partai di poros sisa dunia masih sangat mungkin bergabung dengan poros PDIP dan poros KIB.

"Berdasarkan historis, Gerindra dan PKB ini masih kemungkinan gabung PDIP. Demokrat PKS juga masih ada kemungkinan gabung KIB. Kalau Demokrat gabung PDIP sepertinya agak sulit, karena kita lihat historisnya Bu Mega dan Pak SBY. Begitu juga dengan PKS yang mungkin secara ideologi masih bertentangan jauh," ungkapnya.

Dan alasan terakhir, Gerindra saat ini tengah melakukan komunikasi intens dan membangun koalisi dengan PKB. Namun, Gerindra pun masih terbuka peluangnya berkoalisi dengan PDIP maupun partai lain termasuk Demokrat.

Sementara, PKB pun masih terbuka peluangnya bergabung bersama koalisi PDIP. Sehingga, koalisi antara Gerindra dan PKB masih sangat rapuh.

"Jadi kita lihat memang bahwa koalisi Gerindra-PKB ini baru hangat-hangat di awal, belum tahu kepastian selanjutnya seperti apa, kemungkinan pecah koalisi ini sangat besar," imbuh Ade. [eko]

Baca juga:
KIB Dapat Suara Tertinggi dari Pengguna Medsos, Kalahkan PDIP dan Gerindra-PKB
Saling Sindir Demokrat-PPP saat Debat soal RKUHP sampai Bawa-Bawa KIB
PKS Berencana Bertemu NasDem Lagi: Semoga Taaruf Kita Makin Kuat
Belum Ada Final Koalisi, PKS Juga Komunikasi dengan Golkar
Ketua Fraksi PDIP: Puan Punya Kalkulasi Soal Kerjasama Politik Pemilu 2024
PKS Jawab Peluang Gabung KIB: Masih Sangat Terbuka
Puan Minta Kader Tetap Pada Barisannya, Tidak Terpengaruh Kanan Kiri soal Capres

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini