Petinggi Demokrat: Kampanye Akbar Prabowo-Sandiaga Berhasil, Tidak Eksklusif

Minggu, 7 April 2019 17:02 Reporter : Randy Ferdi Firdaus
Petinggi Demokrat: Kampanye Akbar Prabowo-Sandiaga Berhasil, Tidak Eksklusif Konpers Amir Syamsuddin. ©2013 Merdeka.com/dwi narwoko

Merdeka.com - Ketua Dewan Kehormatan Demokrat Amir Syamsuddin menilai, kampanye akbar Prabowo-Sandiaga di GBK, Senayan, Minggu (7/4) berjalan sukses. Meskipun awalnya, sang ketua umum Demokrat SBY tak setuju konsep kampanye akbar.

Amir mengatakan, surat SBY kepada dirinya dan Syarief Hasan serta Sekjen Demokrat Hinca Panjaitan untuk mencegah terjadinya polarisasi di antara rakyat Indonesia karena pertarungan Pilpres 2019. Dia menjelaskan, SBY tak ingin kampanye akbar berjalan eksklusif hanya untuk kelompok tertentu saja.

Amir mengaku tak tahu konsep dasar kampanye akbar Prabowo-Sandi sehingga diprotes oleh SBY. Tapi, dia merasa, pesan SBY itu sebagai pengingat, bukan berarti awalnya dalam kampanye akbar, Prabowo-Sandi tak melibatkan tokoh lintas agama.

"Ini sebagai pengingat, karena selama ini tidak pernah terpublikasi rencana atau ada tidaknya saudara kita dari golongan minoritas (di dalam kampanye Prabowo-Sandi), jadi ini bukan tidak ada dilibatkan, tapi itu sebagai pengingat, kata eksklusifisme yang kita cegah, Alhamdulillah itu diwujudkan," jelas Amir saat berbincang dengan merdeka.com, Minggu (7/4).

Amir belum berkomunikasi lagi dengan SBY setelah kampanye akbar Prabowo-Sandi dilakukan. Dia tak tahu SBY puas atau tidak melihat kampanye pagi tadi.

Tapi secara pribadi dia menilai, kampanye akbar Prabowo-Sandiaga sukses. Menurut dia, Prabowo mampu menetralisir kekhawatiran terbelahnya rakyat Indonesia dengan melibatkan tokoh lintas agama dalam kampanye tadi.

"Saya belum berkomunikasi lagi (dengan SBY), tapi kalau saya sendiri melihat saya kira rata-rata perasaan kita sebagai manusia yang wajar saya kira kita bisa menerima itu sebagai satu kampanye akbar yang telah berhasil tidak eksklusif dan tetap menjaga keutuhan bangsa kita," tambah Amir.

Terkait dengan kampanye akbar yang di awali dengan Salat Subuh berjemaah, Amir melihat hal itu wajar. Sebab, kampanye dimulai pada Pukul 07.00 WIB sehingga masyarakat datang sebelum subuh untuk mengisi luasnya GBK.

"Karena untuk mengisi GBK memerlukan waktu, kampanye dengan banyak orang berada di lokasi saat kewajiban salat Subuh bukan bagian kampanye, tapi kewajiban umat Islam untuk melakukan. Jadi enggak usah dicampuradukan kewajiban ibadah, dengan kampanye ya. Kampanye dimulai jam 7 sampai jam 9 bubar karena diberikan waktu sampai jam 10, masuk mulai sebelum subuh, itu karena lokasi GBK besar tentu mengisi setiap kursi sudut terisi dengan baik tentu memerlukan waktu," kata Sekretaris Majelis Tinggi Demokrat tersebut.

Sekali lagi, Amir menegaskan, surat SBY tersebut hanya sebagai pengingat agar kampanye akbar Prabowo-Sandiaga tak meruncing terbelahnya rakyat Indonesia hanya karena Pilpres 2019. Sebab, nuansa itu sudah terasa beberapa hari sebelum Prabowo-Sandi menggelar kampanye akbar.

"Saya kira sangat baiklah dengan pengalaman seorang SBY melihat bahwa tidak ada keadaan potensi keterbelahan seperti yang kita rasakan saya ini dua kali beliau jadi presiden semua berjalan baik-baik saja, potensi keterbelahan relatif tidak ada yang kita khawatirkan, keterbelahan muncul karena adanya ciri-ciri dari kampanye yang eksklusif dan membuka terbuka dan menganga keterbelahan itu," tutup Amir. [rnd]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini