Pemilih Milenial Diminta Melek Politik dan Tak Golput

Jumat, 30 November 2018 00:02 Reporter : Arie Sunaryo
Pemilih Milenial Diminta Melek Politik dan Tak Golput Diskusi kaum milenial. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Pemilihan Umum (Pemilu) baik Pilpres maupun Pileg tinggal beberapa bulan lagi. Masyarakat Indonesia, terutama yang mempunyai hak pilih akan mengikuti pesta demokrasi 5 tahunan, April tahun depan.

Jumlah pemilih pemula atau kalangan milenial diperkirakan mencapai 14 juta jiwa atau 30 persen dari jumlah pemilik hak suara. Jika tidak digarap serius, kaum milenial yang tidak peduli dan belum melek politik, dikhawatirkan tak akan menggunakan hak pilihnya alias golput.

Mengantisipasi hal tersebut, Komunitas Sahabat Jokowi (KSJ) menggelar kegiatan Ngopi Gayeng Denny Siregar di Taman Budaya Jawa Tengah, Solo, Kamis (29/11) malam.

Acara bertajuk 'Foolitik Emang Lagi Syantiiiq' yang diikuti ratusan mahasiswa dan kalangan pemuda itu bertujuan untuk mengedukasi serta mengajak mereka menggunakan hak pilihnya pada Pemilu legislatif dan presiden April 2019.

"Kami ingin memberikan ruang dan waktu kepada generasi muda khususnya pemilih pemula agar mengerti hak pilihnya. Kami ingin mengajak mereka agar tidak golput dan memberikan pilihan tanpa tekanan. Pemilu harus menjadi sesuatu yang mencerdaskan, menggembirakan dan menyenangkan," ujar Ketua KSJ, Sudiro Agung Danang di sela acara.

Sudiro menilai, kaum muda memegang peranan penting pada Pemilu 2019. Karena jumlah mereka yang signifikan atau sepertiga dari jumlah pemilik hak suara. Menurut dia, KSJ mempunyai perhatian yang besar terkait masalah tersebut.

Ia berharap generasi muda ini kembali tergerak untuk secara aktif berpartisipasi dalam keputusan-keputusan politik melalui Pemilu. Sehingga, jangan sampai mereka tidak perduli dengan aktivitas politik, karena ditangan merekalah masa depan bangsa ini akan mengarah.

"Fokus KSJ saat ini adalah memberikan wawasan kepada anak-anak muda, sehingga ada kepedulian dengan politik," katanya.

Kemudian, mengajak mereka untuk berpartisipasi menentukan pilihan berdasarkan logika dan akal sehat, tidak berdasarkan emosi sesaat maupun karena mendapatkan informasi yang menyesatkan. Apalagi sampai mereka berfikir untuk melakukan 'Golput'.

"Mereka harus menjadi pemilih cerdas dan bermatabat, supaya tidak salah pilih karena akibatnya lima tahun," tandasnya.

Denny Siregar mengakui dirinya sempat apatis terhadap politik. Waktu itu dia melihat politik sebagai sesuatu yang penuh kepalsuan. Politisi selalu bicara atas nama rakyat, untuk rakyat tetapi untuk mengenyangkan perut sendiri dan keluarganya.

"Barulah kemudian saya mengenal Jokowi. Saya pelajari ketika beliau menjadi Wali Kota Solo. Inilah seseorang yang bisa menjadi negeri ini lebih sehat. Seseorang yang tidak mengenyangkan perutnya sendiri dan keluarganya. Saya munafik kalau tidak mengatakan orang ini baik," ucapnya.

Selain Denny Siregar, acara yang dihadiri 1.200 undangan itu juga menghadirkan Romzi Ahmad. Direktur tiga pondok pesantren ini merupakan representasi generasi milenial.

Menurut Romzi, berpolitik itu hukumnya wajib. Ketika ada dua orang berjalan, wajib memilih salah satunya untuk menjadi pemimpin. Namun, dia tidak memungkiri jika sekarang ini banyak anak muda yang apatis terhadap politik, karena kesan yang terlihat

"Kalau menuju politik untuk anak muda itu seperti mencuci beras, semakin keras semakin bersih hasilnya. Sekarang pilih mana, mau jadi beras bersih atau yang membusuk di gudang," katanya. [gil]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Pemilu 2019
  3. Surakarta
  4. Pilpres 2019
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini