PDIP: Kaum Nasionalis dan Religius Satu Keping Mata Uang Tak Terpisahkan

Jumat, 18 Oktober 2019 21:27 Reporter : Erwin Yohanes
PDIP: Kaum Nasionalis dan Religius Satu Keping Mata Uang Tak Terpisahkan Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto bersilaturahim ke Pondok Pesantren Bumi Sholawat, Sidoarjo. Di hadapan santri Nahdliyin, Hasto menyebut kaum nasionalis dan religius adalah satu keping mata uang yang tidak terpisahkan dalam hal membangun negara.

Di pesantren asuhan KH Agoes Ali Masyhuri (Gus Ali), Hasto mengucapkan terima kasih kepada para kiai dan santri atas doa serta dukungan kepada Joko Widodo dan KH Ma'ruf Amin.

"Basis pendukung Pak Jokowi dan KH Ma'ruf Amin adalah kaum nasionalis-Soekarnois dan Nahdliyin. Maka kami ingin berterima kasih kepada kaum Nahdliyin yang bergotong royong bersama nasionalis-Soekarnois menjaga Indonesia Raya yang berbhineka ini," ujar Hasto, Jumat (18/10).

Hasto menambahkan, melalui kiprah serta pemikiran Presiden pertama Ir Soekarno dan pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asyari, menunjukkan bahwa Indonesia telah dibangun dengan fondasi yang kokoh dari kaum nasionalis dan religius.

"Kaum nasionalis dan religius adalah satu keping mata uang, tidak akan terpisahkan," tambah Hasto.

Hasto juga menekankan pentingnya prinsip ketuhanan dan kemanusiaan dalam kehidupan keseharian, termasuk dalam kepemimpinan. Ia pun mencontohkan kepemimpinan Risma di Surabaya yang menata kota, memastikan seluruh anak miskin memperoleh pendidikan yang berkualitas.

"Itulah prinsip kemanusiaan dalam kepemimpinan yang dipandu oleh nilai-nilai ketuhanan," ujarnya.

Hasto juga mengaku kagum dengan kiprah KH Agoes Ali Masyhuri yang berdedikasi tinggi dalam memajukan pendidikan umat serta menjadi panutan dalam menjaga Indonesia Raya.

"KH Agoes Ali Masyhuri bukan hanya sosok alim bijaksana, tapi di dalam dirinya juga ada jiwa patriotik yang menyala-nyala mengobarkan semangat kebangsaan, semangat Indonesia Raya," ujar Hasto.

Menurut Hasto, dengan faktor historis kerja sama nasionalis dan Nahdliyin dalam mewarnai perjalanan republik ini, ke depan bangunan kolaborasi itu harus diperkuat.

"PDI Perjuangan akan terus bekerja sama dengan Nahdlatul Ulama dalam segala aspek," katanya.

Sementara itu, Direktur Pendidikan Ponpes Bumi Shalawat Muhdlor Ali mengatakan, tidak ada 'kemenduaan' antara menjadi santri dan menjadi nasionalis.

"Karena para santri sejak awal sudah dididik untuk mencintai republik ini, dididik dalam bingkai kebangsaan bahwa hubbul wathon minal, mencintai tanah air adalah bagian dari iman," ujar Gus Muhdlor, sapaan akrabnya.

Gus Muhdlor mencontohkan bagaimana ketika Indonesia yang masih berusia muda dirongrong pemberontakan DI/TII, kaum santri menunjukkan komitmen nasionalismenya dengan menolak terlibat dalam pemberontakan itu. Bahkan, NU memberi gelar kepada Bung Karno sebagai waliyyul amri dharuri bi as-syaukah 'kepala negara bidang kenegaraan dan keagamaan'.

"Untuk itu mari kita doakan pelantikan Pak Jokowi dan Kiai Ma'ruf 20 Oktober nanti berjalan lancar, sekaligus keberkahan dalam memimpin Indonesia," imbuh Hasto. [gil]

Topik berita Terkait:
  1. PDIP
  2. Sidoarjo
  3. Hasto Kristiyanto
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini