KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Merasa dilangkahi, Ketua Golkar Jateng marah pada Wali Kota Tegal

Minggu, 13 Agustus 2017 08:42 Reporter : Parwito
Siti Masitha daftar Pilkada Tegal. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Ketua DPD Partai Golkar Jawa Tengah (Jateng) Wisnu Suhardono marah besar mendengar calon petahana Wali Kota Tegal Siti Masitha mengklaim mengantongi restu Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto untuk kembali bertarung di Pilkada Kota Tegal 2018.

Wisnu merasa dilangkahi oleh perempuan yang lebih akrab disapa Bunda Sitha itu. Sebab sampai saat ini Bunda Sitha tidak pernah sekalipun berkomunikasi dengannya terkait pencalonannya untuk maju di Pilkada Kota Tegal berpasangan dengan Amir Mirzha.

"Ada klaim kalau dia sudah direstui Setya Novanto. Mungkin secara pribadi. Tapi Ketua Umum belum merestui karena belum ada komunikasi antara DPP dengan DPD Jawa Tengah tentang calon Wali Kota yang namanya Sitha. Kita belum diajak diskusi oleh DPP secara kelembagaan tentang Calon Walikota Tegal yang akan diusung Golkar namanya Sitha belum pernah," tegas Wisnu Hardono di Kantor DPD Partai Golkar Jalan Kyai Saleh, Kota Semarang, Jateng Sabtu (12/8) petang.

Wisnu menilai Bunda Sitha tidak mengikuti mekanisme, prosedur dan tatanan organisasi yang ada di Partai Golkar. Sebab, dia tidak pernah berkomunikasi dengan DPC Golkar Tegal dan DPD Golkar Jateng.

"Kan ini bukan warung. Harusnya ada komunikasi, koresponden. Kecuali warung Tegal. Ini adalah DPD Golkar Jawa Tengah, DPD Golkar Kota Tegal. Jadi harus ada prosedur dan tatanan yang harus dilalui. Ya (harus sesuai mekanisme)," terangnya.

Wisnu menuding pernyataan Bunda Sitha soal restu dari Setya Novanto adalah klaim sepihak dan tidak bisa dipertanggungjawabkan secara keorganisasian partai. Meskipun DPP Partai Golkar mempunyai hak prerogatif namun itu tidak boleh disalahgunakan oleh siapapun. Termasuk pengurus DPP Partai Golkar sendiri.

Wisnu mengaku pernah bertemu dengan Bunda Sitha. Saat itu, Bunda Sitha mengungkapkan keinginannya maju berpasangan dengan Mirzha. Wisnu langsung tidak setuju. Sebab keduanya bukan masyarakat asli Kota Tegal. Dia khawatir muncul isu primordial saat Pilkada Kota Tegal.

"Jangan! Saya bilang begitu. Nanti menjadi isu primordial karena saudari Sitha bukan asli Tegal, Mirzha bukan asli Tegal. Apa tidak direndahkan olah masyarakat (Kota) Tegal? Dikira masyarakat Tegal tidak punya kader, tidak punya calon yang mumpuni untuk memimpin (Kota) Tegal? Kok Wali Kota sama Wakil Wali Kota Tegalnya dari luar Tegal, apa mungkin ini?," bebernya.

Meski begitu dia tidak menutup pintu Golkar untuk Bunda Sitha. Namun ada aturan main dan mekanisme yang harus dijalankan dalam proses penjaringan calon kepala daerah.

"Kalau mendaftar silakan. Kalau Setya Novanto kan memberikan restu secara pribadi. Lembaganya ada aturannya. Ada Ketua Umum, ada Ketua Harian, ada Sekjen, ada Pemenangan Pemilu Indonesia Barat, Indonesia Timur. Kita ada proses penjaringan, kita tunjukan ke DPP. Ada kriteria dan disurvei," jelasnya.

Wisnu meyakini Ketua Umum DPP Partai Golkar belum mengetahui jika selama performa partai turun selama Bunda Sitha memimpin Kota Tegal. Jumlah kursi Partai Golkar di DPRD Kota Tegal turun dari 6 kursi menjadi 4 kursi. Ini bisa jadi acuan sukses atau tidaknya kader Golkar dalam memimpin. Dengan catatan itu, Partai Golkar bisa mempertimbangkan apakah Bunda Sitha masih layak diusung atau tidak.

"Mungkin Pak Ketua Umum belum mendapat info clear, terang benderang tentang ini. Tapi di bawah Pak Ketua Umum ini sudah tahu semua." [noe]

Topik berita Terkait:
  1. Tegal
  2. Partai Golkar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.