Menganalisa siapa pantas jabat plt Sekjen Golkar
Merdeka.com - Partai Golkar tengah menggelar rapat pleno membahas status Setya Novanto yang kini tengah ditahan oleh KPK karena kasus korupsi e-KTP. Terjadi perdebatan dalam rapat pleno, ada yang ingin Novanto tetap bertahan, ada yang ingin ketum harus segera diganti.
Sempat beredar isu bahwa Idrus Marham ditunjuk sebagai plt ketua umum, sementara sekjen ada beberapa kandidat. Sesuai yang diusulkan oleh dewan pakar Golkar yakni Agus Gumiwang, Lamhot Sinaga dan Sarmuji. Siapa yang paling pantas?
Pengamat Politik dari UIN Syarif Hidayatullah, Andi Syafrani, mengatakan, dibutuhkan penguatan organisasi secara cepat. Posisi Sekjen jadi sangat strategis, karena sekjen menjalankan tugas organisasi sehari-hari. Dalam kondisi Golkar seperti sekarang ini, terpukul oleh kasus Novanto, dibutuhkan sosok Plt Sekjen yang bisa menyediakan waktu penuh mengurus organisasi. Artinya, bukan orang yang rangkap jabatan, misal aktif di parlemen, apalagi sedang pegang posisi.
"Dibutuhkan Plt Sekjen yang full timer, bukan yang terbagi waktunya," kata Andi yang juga mantan peneliti di lembaga kajian politik Charta Politika tersebut, Selasa (21/11).
Agus Gumiwang saat ini tercatat sekretaris Fraksi Golkar di DPR. Begitu pun dengan Sarmuji, masih tercatat sebagai anggota DPR. Sementara Lamhot Sinaga, tidak sedang menjadi anggota dewan.
Andi melihat, jika dari tiga kandidat yang mencuat itu, Lamhot yang tak sedang rangkap jabatan, memenuhi kriteria sebagai Plt Sekjen. Ia bisa jadi Plt Sekjen yang full timer.
Kenapa harus orang yang full timer, kata Andi, karena saat ini Golkar sedang dilanda badai. Sementara dalam waktu berdekatan, ada dua agenda besar politik, yakni Pilkada serentak di 2018 dan Pemilu nasional serentak pada 2019.
"Tapi tentu sosok Plt Sekjen itu, harus juga orang yang sudah lama malang melintang di Golkar. Artinya sudah jadi kader lama di Golkar," kata Andi.
Tidak hanya itu, Plt Sekjen juga haruslah orang yang piawai berkomunikasi dengan seluruh elemen di tubuh Golkar, dan juga dengan pihak internal. Atau, jaringannya cukup kuat. "Dan juga harus paham aturan tentang segala hal yang terkait dengan partai dan juga pemilu," ujarnya.
Namun memang, kata Andi, dalam kondisi Golkar yang bisa dikatakan 'darurat', dibutuhkan Plt Sekjen yang full time. Tidak rangkap jabatan. Bahkan, kalau perlu ia hanya aktif di Golkar saja. Tidak kemudian misalnya dia juga jadi ketua organisasi tertentu.
"Dengan begitu dia akan fokus mengurus konsolidasi partai yang sekarang sedang goyang ini. Kalau yang rangkap jabatan, apalagi dia juga pegang posisi misal di parlemen, takutnya akan ada masalah di kemudian hari. Siapa pun tahu, parlemen itu tentang dengan benturan kepentingan," ujarnya.
Sementara itu, Guru Besar Ilmu Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro, mengatakan, Sekjen partai adalah harus di isi oleh kader yang memahami secara utuh Partai Golkar, baik dari sisi substansi maupun administrasi. Dia juga harus sosok yang cerdas dan piawai. "Dia orang yang loyal pada partai," kata Zuhro.
Tapi, keputusan penunjukkan plt juga masih menjadi perdebatan di pleno Golkar. Ada juga suara yang ingin Golkar langsung saja gelar munas untuk memilih ketua umum baru.
Di sisi lain, Novanto dari balik jeruji besi mengirimkan surat kepada DPP Partai Golkar. Dalam surat itu, Novanto menunjuk Idrus Marham sebagai plt ketum Golkar dan Yahya Zaini serta Azis Syamsuddin sebagai plt Sekjen Golkar.
(mdk/rnd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya