JK Punya Solusi Cegah Listrik Mati di Jawa

Selasa, 6 Agustus 2019 18:37 Reporter : Intan Umbari Prihatin
JK Punya Solusi Cegah Listrik Mati di Jawa Wakil Presiden Jusuf Kalla. ©2019 Merdeka.com/Intan Umbari Prihatin

Merdeka.com - Wakil Presiden Jusuf Kalla menjelaskan, untuk mengatasi adanya blackout listrik yang terjadi di Jabodetabek, PLN harus memberlakukan sistem energi bertingkat. Dengan sistem bertingkat, kata dia, bisa mengatasi dengan cepat jika terjadi kerusakan gardu atau terganggunya suplai listrik secara tiba-tiba.

"Jawa Barat ini termasuk DKI harus sistem energinya harus bertingkat, pengamannya harus lebih tinggi cadangannya," kata JK di kantornya, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (6/8).

Salah satunya, kata JK, yaitu rencana yang sebelumnya digagas oleh PLN yaitu terkait suplai cadangan listrik dari Pulau Sumatera. Namun, hal tersebut dibatalkan sebab PLN, lantaran yakin Jawa Barat memiliki pasokan listrik yang cukup untuk seluruh wilayah.

"Tapi oleh PLN dibatalkan, itu bagaimana ada Sumatera Jawa Great. Jadi tersambung itu dengan kabel bawah laut sehingga kalau ada masalah di Jawa Barat, terputus dengan Jawa Timur ada dari Sumatera," lanjut JK.

Padahal, kata JK, kebutuhan listrik terus meningkat setiap tahun, seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Dia menjelaskan setiap tahun pemerintah membutuhkan 30.000 mega watt untuk masyarakat dan perusahaan. Maka penambahan pembangkit sangat penting dilakukan.

"Jadi tiap pemerintah itu mesti bangun 30 ribu minimum kalau tidak, semuanya butuh listrik, bertambah terus itu. Tumbuh ekonomi pakai listrik 2 kali lipat pertumbuhannya itu," ungkap JK.

Tetapi kata JK, pembangkit tersebut tidak boleh berasal dari pembangkit listrik tenaga uang (PLTU) batu bara. Sebab akan merusak lingkungan dan polusi udara. Kemudian, PLTU juga membutuhkan waktu lama dalam proses penghidupannya.

"Jadi harus di back up dari Barat sambil menambah pembangkit di Jawa, tapi jangan batu bara karena kalau batu bara dua hal. Pertama lingkungan makin jelek ini polusi di Jawa, kedua kalau batu bara menghidupkannya butuh delapan jam lebih kalau gas itu cepat itungan berapa menit bisa, asal memang dijaga," kata JK.

JK juga meminta PLN untuk melakukan penambahan pembangkit listrik. Agar tidak ada lagi beban gardu listrik yang bermasalah. Dia khawatir jika pembangkit selalu kelebihan beban bukan hanya akan terulang kejadian blackout seperti Minggu (4/8), tapi korsleting listrik.

"Kejadian ini seperti domino efek, kejadiannya kalau dari apa yang saya baca dari anda, dan apa yang dijelaskan PLN itu kecil saja. Tapi memutuskan transmisi sehingga transmisi utara dari timur ke barat terpotong. Akibatnya di Jawa Barat dan DKI bebannya melebihi daripada kapasitas. Bebannya besar jatuh pembangkit, pindah beban ke pembangkit lain jatuh lagi, kenapa berturut-turut 7 (pembangkit) karena domino efek," kata JK.

Menurut JK, kejadian blackout yang terjadi kemarin lantaran target pembangunan pembangkit listrik 35.000 mega watt di tahun ini belum selesai. Akibatnya kata dia, beban listrik menumpuk di salah satu gardu utama dan menjadikan down energi.

"Sebenarnya inilah gunanya 35 ribu KW harus segera diselesaikan. Karena ini waktunya tidak semua selesai pada waktunya, kita butuh 35 ribu KW selesai tepat waktu. Beban-beban besar bisa ditangani dengan pembangkit yang baru," lanjut JK.

Dia juga menyinggung PLN yang hanya memiliki cadangan listrik minim dibandingkan negara lain. Singapura, kata dia, cadangan listrik mencapai 100 persen dari jumlah yang tersedia. Sedangkan di DKI Jakarta dan sekitarnya, hanya 20 persen dari ketersediaan.

Padahal minimal dalam satu line daerah pembangkit, cadangan listrik harus mencapai 30 persen agar penanggulangan blackout bisa lebih cepat ditangani dan perekonomian berjalan lancar.

"Minimum 30 persen, Jakarta masih 20 persen lebih 22-24, yang ada 24. Cadangan itu penting. Kalau ada yang rusak atau diservis maka akan ada kekurangan," ungkap JK. [rnd]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini