Gus Ipul muda ingin jadi Guru Madrasah, sekarang ingin angkat derajat Guru Madrasah

Rabu, 16 Mei 2018 21:13 Reporter : Arif Ardlyanto
Gus Ipul muda ingin jadi Guru Madrasah, sekarang ingin angkat derajat Guru Madrasah Gus Ipul hadiri silaturrahim Ulama, Santri dan Tokoh Masyarakat Se-Kabupaten Tuban. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Nama Saifullah Yusuf memang tidak asing di kalangan politisi nusantara. Saifullah Yusuf merupakan tokoh yang pernah menghiasi belantika politik Tanah Air, dan pernah menjadi menteri hingga menjabat dua periode Wakil Gubernur Jawa Timur mendampingi Gubernur Soekarwo.

Saifullah Yusuf yang sering dipanggil Gus Ipul ini sekarang ingin berjuang untuk bisa menggantikan Gubernur Soekarwo atau Pakde Karwo. Keinginan Gus Ipul ini dilakukan karena masa bakti Pakde Karwo sudah habis. Gus Ipul tidak ingin program-program yang telah ditancapkan Pakde Karwo dalam membangun Jawa Timur hilang.

Untuk itu, Gus Ipul memutuskan maju bersaing dengan Khofifah Indar Parawansa, yang pernah kalah dalam dua periode pemilihan gubernur (Pilgub) Jatim.

Di tengah panasnya persaingan menuju Jatim satu, Gus Ipul memiliki cerita-cerita unik semasa belum tenar. Gus Ipul merupakan putra dari pasangan Ahmad Yusuf Cholil dan Sholichah Hasbullo. Layaknya anak-anak lain, Gus Ipul juga bercita-cita ingin menjadi guru seperti yang dijalani sang ayah.

Namun Gus Ipul memiliki pemikiran yang berbeda, Gus Ipul ingin mewujudkan cita-citanya sebagai guru madrasah. "Saya dulu ingin sekali menjadi guru madrasah. Saya melihat guru madrasah sangat mulia sekali," ucap Gus Ipul.

Cita-cita tersebut terbersit dalam pemikiran Gus Ipul karena Gus Ipul melihat bagaimana kondisi madrasah sangat menyedihkan. Untuk mewujudkan cita-citanya, Gus Ipul menempuh pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Mambaul Maarif Denanyar, Jombang dan melanjutkan SMP Islam Pasuruan, dan diteruskan pada pendidikan SMA.

Setelah lulus SMA, cerita Gus Ipul mulai terukir dalam sejarah perjalanan hidupnya. Sang Paman, KH. Abdurrahman Wahid atau terkenal dengan panggilan Gus Dur mendatangi ayah Gus Ipul, Ahmad Yusuf Cholil. Gus Dur meminta supaya Gus Ipul ikut ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan dan menimba ilmu kehidupan di Ibu Kota.

Permintaan Gus Dur bertepuk sebelah tangan, Gus Ipul menolak karena masih komitmen untuk menjadi guru madrasah. Namun Gus Dur-pun tidak patah arang, dia meminta kepada kedua orang tua Gus Ipul sebanyak tiga kali, karena tetap tidak mau akhirnya ayahanda Gus Ipul, Ahmad Yusuf Cholil memanggil secara khusus Gus Ipul.

Sang ayah minta supaya Gus Ipul ikut Gus Dur ke Jakarta. "Ayah saya akhirnya memanggil saya dan meminta supaya saya ikut Gus Dur, akhirnya saya ikut Gus Dur," ungkap Gus Ipul.

Detik-detik perpisahan antara Gus Ipul dan keluarganya pun dilakukan, Gus Ipul mengaku sangat berat meninggalkan keluarganya. Karena sudah keluar perintah sang ayah, Gus Ipul harus berangkat bersama dengan Gus Dur ke Jakarta.

Sesampainya di Jakarta, Gus Ipul merasa terpana. Pamannya, Gus Dur tidak membawa Gus Ipul ke tempat tinggalnya justru Gus Dur meninggalkan Gus Ipul di rumah Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarno Putri. "Saya diminta Gus Dur untuk belajar dengan Bu Mega," papar dia.

Dalam perjalanan hidup, Gus Ipul akhirnya melanjutkan kuliah. Atas anjuran Gus Dur, Gus Ipul melanjutkan kuliah ke jurusan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP), Universitas Nasional. Sembari kuliah, Gus Ipul memperdalam ilmu dari Gus Dur yang pada masa itu tengah menjabat sebagai Ketua Umum PB NU. Inilah yang menjadi langkah awalnya mengenal dunia politik.

Gus Ipul mengawali karier politiknya dengan bergabung GP Ansor, organisasi sayap pemuda NU. Tahun 1999, Gus Ipul dipercaya untuk menggantikan posisi Ketua Umum karena pimpinan kala itu, Iqbal Assegaf wafat. Selang setahun, Gus Ipul kembali dikukuhkan sebagai Ketua Umum GP Ansor.

Kemudian Saifullah Yusuf terpilih sebagai anggota DPR Fraksi PDI-P. Ia dianggap sebagai lambang aliansi dari Gus Dur dan Megawati Soekarnoputri. Namun, saat hubungan Gus Dur dan Megawati merenggang, Gus Ipul memutuskan untuk keluar dari DPR dan PDI-P dan pindah ke PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) pada tahun 2001 lalu.

Saat muktamar PKB tahun 2002, Gus Ipul terpilih menjadi Sekretaris Jenderal PKB mengalahkan kandidat-kandidat kuat lainnya. Selang 2 tahun, Suami dari Fatma Saifullah Yusuf ini mendapat amanah baru dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia selama 1 periode.

Namun sayangnya, konflik internal yang terjadi dalam tubuh PKB justru berujung pada pencopotan jabatan Gus Ipul sebagai Sekjen PKB. Hal itu juga berimbas pada jabatan Menteri yang tengah ia emban. Posisi Sekjen PKB tersebut akhirnya digantikan oleh Lukman Edy.

Di sisi lain, Gus Ipul tetap menjabat sebagai petahana Ketua Umum GP Ansor untuk periode 2005-2010. Saat usianya 44 tahun, Gus Ipul mendampingi Soekarwo maju dalam pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur.

Setelah melewati 2 kali putaran serta pemilihan ulang putaran kedua di Kabupaten Bangkalan dan Sampang pada 21 Januari 2009, akhirnya terpilihlah Soekarwo dengan wakil Gus Ipul sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Jawa Timur.

Setelah memimpin bersama selama satu periode 2008-2013, pasangan ini kembali terpilih pada Pilgub 2013 untuk periode 2014-2019. Pada tahun 2017, Gus Ipul maju sebagai Calon Gubernur dalam Pilgub 2018 mewakili PKB.

Pada Pilgub kali ini, PDI Perjuangan juga memberikan rekomendasi Saifullah Yusuf sekaligus berpasangan dengan Puti Guntur Soekarno yang menggantikan Bupati Banyuwangi Azwar Anas karena mengundurkan diri.

"Di sinilah saya ingin mengangkat drajat dan kesejahteraan guru madrasah. Saya paham banget bagaimana kondisi madrasah di Jawa Timur," tutur Gus Ipul. [hhw]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini