Dua Putra Mahkota di Takhta Demokrat

Jumat, 1 Maret 2019 06:15 Reporter : Randy Ferdi Firdaus
Dua Putra Mahkota di Takhta Demokrat AHY dan Ibas. ©Instagram Ani Yudhoyono

Merdeka.com - Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY) harus menghabiskan waktu, pikiran dan tenaganya mendampingi Ani Yudhoyono di Singapura. Ani tengah menjalani perawatan intensif melawan kanker darah di National University Hospital Singapura.

Sejak awal Februari, Ani dirawat. Sejak itu pula, di tengah safari politik Demokrat menghadapi Pemilu serentak 2019, SBY langsung menghentikan kegiatannya. Demi merawat dan memberikan support untuk sang istri tercinta.

Dari hasil rapat internal Demokrat di Singapura, SBY memutuskan menyerahkan seluruh tanggung jawab pemenangannya kepada putra sulungnya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Sejak 2017, AHY memang telah didapuk menjadi Komando Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat.

Dalam pertarungan pemilu, tak cuma AHY yang ditugaskan menjadi juru pemenangan. Putra bungsu SBY dan Ani, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) juga sejak awal menjadi Ketua Komisi Pemenangan Pemilu (KPP) atau yang akrab disebut Bappilu. Nasib Demokrat berada di tangan dua putra mahkota sang ketua umum.

Ibas diminta fokus untuk mengatur keseimbangan pelaksanaan tugas kedewanan. Ibas juga saat ini menjadi ketua fraksi Partai Demokrat di DPR. Dia diminta juga mengatur tugas kampanye para anggota DPR dari Demokrat. Karena 61 anggota DPR RI partai saat ini adalah incumbent yang hampir semuanya adalah Caleg.

Sekjen Partai Demokrat Hinca Panjaitan mementahkan isu bahwa AHY akan ditunjuk sebagai pelaksana tugas (plt) ketua umum. Menurut dia, tidak ada perubahan dalam struktur partai.

"Susunan kepengurusan resmi DPP Demokrat tidak ada perubahan, semua tetap pada masing-masing tugasnya," jelas Hinca dalam jumpa pers, Kamis (28/2).

Di luar nama AHY dan Ibas, SBY menugaskan dua orang kepercayaan sebagai penanggung jawab pemenangan. Dia adalah mantan Gubernur Jawa Timur, Soekarwo dan Ketua DPD Demokrat DKI Nachrawi Ramli (Nara). Soekarwo menjadi koordinator kampanye wilayah Timur, dan Nara menjadi koordinator wilayah barat. Keduanya berada di bawah langsung komando AHY.

Wilayah timur meliputi Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Gorontalo, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

Sedangkan wilayah barat meliputi Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, Lampung, Kep. Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Bengkulu, Jambi, Kepulauan Riau, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh.

AHY atau Ibas yang Terbaik?

Tongkat komando yang diberikan langsung oleh SBY kepada AHY sebagai tanggung jawab pemenangan Pemilu 2019 diyakini semakin memperlihatkan sebagai proses mempersiapkan pergantian kepemimpinan Demokrat. Bukan hanya pada momen ini, saat AHY akhirnya dipilih jadi calon gubernur DKI 2017 hingga harus rela pensiun dini, isu the next ketua umum Demokrat sudah berhembus.

Mantan Politikus Demokrat, Gede Pasek Suardika menjadi salah satu yang memprediksi kursi ketua umum akan jatuh pada AHY.

"Tetapi semua juga paham memang AHY yang disiapkan, dan itu memang pas dengan karakter Demokrat yang dibangun SBY," kata Pasek saat dihubungi merdeka.com.

Dia melihat, memang secara kualitas, AHY sudah memiliki modal yang cukup memimpin partai berlambang bintang Mercy tersebut. Dari mulai pendidikan, performa dan SDM, dilihat Pasek, AHY pas menjadi ketua umum.

Soal sosok Ibas yang sudah lebih dulu nyemplung ke dunia politik, Pasek menilai, AHY lebih lengkap. Karena lebih senior dibandingkan Ibas. AHY sudah melewati banyak pengalaman lain dan lebih punya talenta kepemimpinan politik.

Bicara soal pengalaman politik, Ibas telah lebih dulu berkiprah. Ibas sudah menjadi anggota DPR sejak 2009 sampai terpilih kembali dalam Pemilu 2014 mewakili aspirasi warga Daerah Pemilihan VII Jawa Timur, meliputi Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Magetan, dan Ngawi.

Sementara AHY, baru memulai karir politiknya saat dicalonkan Demokrat, PAN, PPP dan PKB di Pilgub DKI 2017. AHY yang saat itu berpangkat mayor, memutuskan untuk mengundurkan diri dari TNI. Kalah dari Anies-Sandi, AHY didapuk menjadi ketua Kogasma Demokrat.

"Hanya dua hal saja akan jadi kelemahan, yaitu pangkat Mayor sudah pensiun dan kedua masih dibayang-bayangi kefiguran SBY," kritik anggota DPD RI itu.

Pasek yang kini berkiprah di Hanura mendukung keputusan SBY persiapkan AHY menjadi ketua umum Demokrat. Di samping itu, dia ikut mendoakan Ani Yudhoyono segera pulih dan bisa berkegiatan seperti biasa.

"Pilihan SBY sudah tepat ketika memilih di antara dua anak yang harus menerima warisan partai tersebut," terang Pasek.

Sekjen Partai Demokrat Hinca Panjaitan menolak bicara soal dua putra mahkota di internal Demokrat. Apalagi, soal kabar faksi Ibas dan AHY di internal partainya.

Hinca membantah ada friksi. Dia menegaskan, saat ini Demokrat fokus menghadapi Pemilu serentak 2019. Soal jabatan ketua umum, dia menjamin hal itu akan dilakukan sesuai aturan yang berlaku di partainya.

"Fokus kami itu di Pemilu, jadi itu tidak relevan. Kami taat asas, taat konsitutsi. Kongres baru akan datang tahun 2020 jadi kami fokus dulu 2019 ini menyelesaikan Pemilu," kata Hinca.

Hinca menjelaskan, internal kepartaian Demokrat sama sekali tidak ada bahasan di luar substansi Pemilu 2019. Kuncinya adalah, bagaimana Demokrat bisa meraup suara maksimal walau sosok SBY absen di dua bulan terakhir jelang berakhirnya masa kampanye.

"Kami masih bicara tentang pemilihan umum ini, kampanye ini dan komandan Kogasma itu kaitannya pemenangan Pemilu. Jadi semua kami fokus pemenangan pemilu," tutup Hinca. [rnd]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini