Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur, Fuad Benardi, mengingatkan masyarakat di wilayah setempat agar tidak melakukan urbanisasi. Peringatan ini khusus ditujukan bagi mereka yang tidak memiliki bekal keterampilan yang dibutuhkan dunia usaha di perkotaan. Pernyataan tersebut disampaikan Fuad dalam keterangan yang diterima di Surabaya pada Senin lalu.
Fuad Benardi menekankan pentingnya persiapan matang sebelum memutuskan pindah ke kota. Ia berharap para pendatang tidak hanya sekadar mencoba peruntungan atau ikut-ikutan tanpa perencanaan yang jelas. Urbanisasi tanpa bekal keterampilan yang memadai dapat menimbulkan berbagai persoalan di kemudian hari.
Persaingan kerja di kota-kota besar, seperti Surabaya, sangat ketat. Pendatang yang tidak memiliki keahlian khusus berisiko tinggi kesulitan mendapatkan pekerjaan. Kondisi ini berpotensi menimbulkan masalah sosial baru di perkotaan dan meningkatkan jumlah pengangguran.
Advertisement
Advertisement
Tantangan Persaingan Kerja di Perkotaan
Fuad Benardi menegaskan bahwa persaingan untuk mendapatkan pekerjaan di wilayah perkotaan, khususnya Surabaya, sangatlah ketat. Hal ini menjadi tantangan besar bagi para pendatang yang tidak memiliki keahlian spesifik. Oleh karena itu, penting bagi mereka yang berencana urbanisasi untuk membekali diri dengan keterampilan yang relevan.
Masyarakat yang datang ke kota tanpa bekal kemampuan yang dibutuhkan dunia usaha atau perusahaan akan menghadapi risiko besar. Mereka bisa kesulitan beradaptasi dengan tuntutan pasar kerja yang dinamis. Kondisi ini bisa berujung pada meningkatnya angka pengangguran di perkotaan.
Dunia usaha di perkotaan membutuhkan tenaga kerja yang memiliki kompetensi sesuai dengan perkembangan industri. Ketiadaan keterampilan yang memadai akan membuat para pencari kerja kalah bersaing. Ini adalah masalah serius yang perlu diantisipasi oleh masyarakat dan pemerintah daerah.
Advertisement
Advertisement
Urgensi Pemerataan Ekonomi untuk Tekan Urbanisasi
Dalam kesempatan yang sama, Fuad Benardi menyoroti pentingnya pemerataan pembangunan ekonomi di seluruh wilayah Jawa Timur. Pemerataan ini diharapkan dapat secara signifikan menekan laju urbanisasi yang terus terjadi. Ketimpangan ekonomi antar daerah masih menjadi faktor utama pendorong perpindahan penduduk ke kota besar.
Dengan adanya pemerataan ekonomi, masyarakat tidak perlu lagi jauh-jauh mencari penghidupan di kota. Daerah-daerah diharapkan mampu menciptakan peluang kerja yang cukup bagi warganya. Hal ini akan mengurangi tekanan urbanisasi dan mendistribusikan pertumbuhan ekonomi secara lebih merata.
Pemerintah daerah memiliki peran krusial dalam menciptakan iklim investasi dan pengembangan potensi lokal. Upaya ini akan mendorong terciptanya lapangan kerja baru di daerah asal. Dengan demikian, warga dapat berkarya dan mendapatkan penghidupan layak tanpa harus berpindah ke kota.
Advertisement
Advertisement
Dinamika Urbanisasi di Surabaya dan Sekitarnya
Sebagai informasi, pertumbuhan penduduk di Surabaya tidak hanya berasal dari jumlah kelahiran, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh arus urbanisasi. Fenomena ini terutama terjadi setelah momen Idul Fitri, dengan banyak pendatang dari berbagai wilayah. Mereka berasal dari daerah seperti Madura, Tapal Kuda, Jawa Tengah, hingga Indonesia Timur.
Kota Surabaya juga merupakan pusat kawasan metropolitan Gerbangkertosusila. Kawasan ini mencakup Sidoarjo, Gresik, Bangkalan, dan Mojokerto, dengan total populasi sekitar 9 hingga 10 juta jiwa. Status Surabaya sebagai pusat ekonomi dan pendidikan menarik banyak orang untuk mencari peluang di sana.
Arus urbanisasi yang masif ke Surabaya dan sekitarnya menunjukkan daya tarik kota ini sebagai pusat pertumbuhan. Namun, tanpa pengelolaan yang tepat, urbanisasi ini dapat menimbulkan beban sosial. Oleh karena itu, persiapan dan keterampilan menjadi kunci bagi para pendatang.
Advertisement
Sumber: AntaraNews