Diminta saran soal Pilpres, ini pesan Buya Syafi'i buat Ma'ruf Amin

Senin, 15 Oktober 2018 16:43 Reporter : Merdeka
Diminta saran soal Pilpres, ini pesan Buya Syafi'i buat Ma'ruf Amin Maruf Amin di kediaman tokoh senior Muhammadiyah Buya Syafii Maarif. ©2018 Liputan6.com

Merdeka.com - Calon Wakil Presiden Nomor Urut 02 Ma'ruf Amin hari ini menyambangi kediaman tokoh senior Muhammadiyah Buya Syafi'i Ma'arif di Jalan Halmahera, Gamping, Sleman, Yogyakarta, Senin (15/10). Keduanya melakukan pertemuan sekitar 15 menit.

"Hari ini, siang ini saya bersilaturahim ke Buya Syafi'i Ma'arif. Beliau ini sahabat dekat saya, kebetulan bersama-sama di BPIP yaitu Badan Pembina Ideologi Pancasila. Sama-sama anggota BPIP cuma karena saya jadi Cawapres, maka saya harus mundur dari BPIP. Itu aturannya," kata Ma'ruf di lokasi.

Ma'ruf mengaku mendapat masukan dari Buya Syafi'i Ma'arif. Dia diminta untuk menjadi wakil presiden yang merangkul semua rakyat termasuk pendukung rival politik di Pilpres 2019.

"Karena saya memang meminta beliau memberikan saran pendapat, kalau, ini kalau, terpilih menjadi calon wakil presiden, akan saya jadi bahan pertimbangan di mana saya bersama Pak Jokowi mengelola negara. Yang paling penting beliau sampaikan kalau jadi wapres, harus menjadi wapres seluruh rakyat Indonesia. Walaupun bukan pendukung, katakan misalnya rival politik, tetap kita berlakukan yang sama," kata Ma'ruf.

Dia menambahkan, Buya Syafi'i Ma'arif juga memintanya untuk terus merawat kemajemukan bangsa. Jangan sampai ada kelompok-kelompok merasa didiskriminasi.

"Jangan sampai ada kelompok-kelompok yang didiskriminasi, tidak diberikan pelayanan. Itu saya kira sangat penting untuk menjaga dan merawat," ujar Ma'ruf.

Buya juga meminta Ma'ruf Amin merangkul semua ormas Islam. Kendati Ma'ruf Amin berasal dari kalangan Nadhlatul Ulama (NU).

"Beliau bilang jangan hanya Islam Nusantara, tetapi juga Islam berkemajuan, yang menjadi motonya Muhammadiyah. Karena itu saya akan selalu membawa bukan hanya Islam Nusantara, tapi Islam berkemajuan," tukasnya.

Di tempat yang sama, Buya Syafi'i Ma'arif mengingatkan harus memperbaiki konteks Pilpres ini. Hal itu supaya tidak ada satu pun pihak menggunakan agama untuk dimainkan politik.

"Itu yang harus diperbaiki. Agama memang tidak bisa dipisahkan dengan politik, tapi semestinya agama menjadi panduan moral politik. Jadi agama jangan dijadikan kendaraan. Politik yang harus menjadi kendaraan moral. Idealnya begitu. Tapi dalam kenyataan kita beginilah. Kalau enggak begitu, negara Arab enggak hancur seperti itu. Kan politik agama luar biasa itu, jangan dibawa ke sini," kata Buya.

Menurut Buya, jika masih ada pihak menggunakan agama dalam berpolitik merupakan tindakan bodoh. Buya mengambil contoh negara Arab yang pecah akibat agama dibawa ke dalam politik.

"Perpecahan Arab jangan dibawa ke sini. Itu sangat berbahaya. Dan di sini juga ada pembelinya, kalau mereka enggak paham, mereka beli ide-ide khilafah, ISIS, itu kan enggak sehat. Masa peradaban yang jatuh mau dibawa ke sini, bodoh namanya," tukasnya.

Dia juga berharap Pilpres ke depan ini berlangsung damai. Jika ada yang menghujat, lebih baik diam saja.

"Harus damai, harus damai. Kalau seumpamanya ada yang menghujat sepihak, yang lain lebih-lebih kalem," pungkasnya.

Reporter: Putu Merta Surya Putra
Sumber: Liputan6.com [gil]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini