Wiranto minta pejabat tak gegabah umbar statemen soal penyerangan rumah ibadah
Merdeka.com - Penyerangan terhadap pemuka agama dan rumah ibadah belakangan marak terjadi. Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto meminta semua pihak termasuk pejabat tidak gegabah menyimpulkan motif di balik penyerangan tersebut.
"Kita jangan gegabah dalam mengeluarkan statemen," kata dia di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (20/2).
Mantan Ketua Umum Partai Hati Nurani (Hanura) ini mengatakan, kasus penyerangan itu sudah ditangani pihak kepolisian. Publik tinggal menunggu hasil penyelidikan dari kepolisian.
"Nanti akan ada penjelasan ke publik apakah ini dilaksanakan oknum tertentu atau perorangan atau istilah terorisme adalah lone wolf atau organisasi yang dibangun sebagai organisasi teror itu," ucapnya.
Wiranto menambahkan, penyerangan terhadap pemuka agama dan rumah ibadah sudah mengganggu tahapan Pilkada dan Pemilu. Oleh karena itu, penegak hukum bakal menindak tegas pelaku.
"Penyerangan rumah ibadah, jelas melanggar hukum kan. Apakah perorangan atau kelompok, itu nyatanya mengganggu proses Pilkada dan Pemilu. Ini ditindak tegas dan kita peringatkan, jangan sampai ada yang mencoba mencederai Pemilu," tegas dia.
"Ini milik bangsa loh, jangan mencederai diri sendiri. Kalau ada pihak yang mengganggu, mencederai proses Pemilu ini, berarti dia mencederai Pemilu sendiri," imbuhnya.
Diberitakan sebelumnya, penyerangan terhadap pemuka agama dan rumah ibadah terjadi di beberapa tempat. Pada Kamis (1/2) pagi, Ketua Brigade Persatuan Islam Indonesia (Persis) Ustaz R Prawoto dianiaya Asep Maftuh. Prawoto akhirnya meninggal dunia dan dimakamkan di kawasan Burujul, Desa Mekar Rahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, pada malam harinya.
Penyerangan lain juga terjadi di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Hidayah Santiong, Kampung Sentiong RT 04/01, Desa Cicalengka Kulon, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung. Pengasuh Ponpes Al-Hidayah Santiong, KH Emon Umar Basyri diserang oleh orang tak dikenal.
Setelah itu terjadi penyerangan terhadap romo dan sejumlah jemaat di Gereja Santa Lidwina, Sleman, Yogyakarta pada Minggu (11/2). Belakangan diketahui, pelaku penyerangan adalah seorang mahasiswa bernama Suliyono.
Di Tuban pada Selasa (13/2), pria berinisial MZ mengamuk dan merusak Masjid Baitur Rohim Tuban. Dia memecahkan kaca masjid lantaran kesal ditegur oleh petugas masjid.
Pada Minggu (18/2) kemarin, patung di Pura di Desa Senduro, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, dirusak orang tak dikenal. Perusakan terjadi pada dua patung yang ada di pintu depan gapura Pura Mandara Giri Semeru Agung.
(mdk/ded)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya