Wiranto minta bantuan perusahaan medsos deteksi keberadaan ISIS

Senin, 31 Juli 2017 14:49 Reporter : Anisyah Al Faqir
Wiranto minta bantuan perusahaan medsos deteksi keberadaan ISIS bendera isis. ©iraqinews

Merdeka.com - Basis ISIS di Marawi, Filipina tengah bergolak. Mereka juga mulai mencari negara baru untuk dijadikan basis perjuangan. Enam negara di kawasan Asia Tenggara yang berdekatan dengan Filipina, sepakat melawan karena tidak ingin negaranya menjadi basis baru kekuatan ISIS.

"Saya kemarin dari Manado, mengajak teman-teman dari Australia, New Zealand, Malaysia, Filipina, Brunei Darussalam, untuk bersama-sama keroyok basis ISIS baru di Asia Tenggara, di Marawi, Filipina Selatan," kata Menko Polhukam Wiranto di Hotel Sahid, Jakarta Selatan, Senin (31/7).

Dalam pertemuan Sub-Regional Meeting on Foreign Terrorist Fighters and Cross Border Terrorism (SRM FTF-CBT) tersebut ada 3 agenda yang dibahas. Agenda utamanya yakni perkembangan foreign terrorist fighters (FTF) dan cross border terrorism di subkawasan. Ini dilakukan dalam rangka peningkatan kerja sama di tingkat domestic dan kawasan terkait Counter Violent Extremism dan deradikalisasi, serta upaya penguatan kerangka hukum dan kerjasama hukum. Utamanya untuk mengantisipasi agar gejolak yang terjadi di Marawi tak merambat ke Indoensia. Sebab salah satu wilayah Indonesia berbatasan dengan Marawi.

"Saya ajak mereka (lima negara) bantu Filipina supaya selesai, kalau tidak, nanti bisa merambat ke Indonesia," ungkapnya.

Dalam pertemuan itu dicapai lima kesepakatan bersama antar perwakilan negara. Pertama, pembentukan forum FTF dalam rangka memperkuat kerja sama untuk tukar information dan kerja sama penegak hukum serta badan intelijen.

Kedua, dorongan kerja sama di antara enam negara dan kerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang memberikan layanan media sosial, video file sharing dan messaging.

"Jadi perusahaan-perusahaan sosial media ini nantinya ikut membantu kami mencari keberadaan teroris atau menangkal secara langsung," ujar Wiranto.

Ketiga, studi komparatif hukum terkait terorisme yang berlaku di masing-masing negara. Keempat, penguatan kerja sama antara lembaga untuk penanggulangan kegiatan pendanaan kegiatan terorisme.

Kelima, peningkatan kerja sama diantara badan imigrasi dalam rangka pengawasan perbatasan terpadu. Pertemuan ini juga menyepakati bahwa akan ada pertemuan sub-regional selanjutnya yang akan diselenggarakan pada tahun 2018.

Dalam pertemuan tersebut perwakilan Indonesia juga dihadiri Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly, Menteri Komunikasi dan Informasi Rudiantara, Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, Kepala BNPT Komjen Pol Suhardi Alius, Kepala PPATK Kiagus Ahmad Badaruddin dan seluruh perwakilan kementerian serta lembaga terkait. [noe]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini