Wapres Ma'ruf Amin Tidak Permasalahkan SKB 11 Menteri soal Radikalisme

Senin, 2 Desember 2019 21:45 Reporter : Intan Umbari Prihatin
Wapres Ma'ruf Amin Tidak Permasalahkan SKB 11 Menteri soal Radikalisme Wakil Presiden KH Maruf Amin. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Wakil Presiden Ma'ruf Amin tidak mempermasalahkan terkait pembentukan Surat Keputusan Bersama (SKB) 11 Menteri tentang penanganan radikalisme pada Aparatur Sipil Negara (ASN). Menurut dia upaya tersebut adalah bentuk pengawasan, agar tidak ada ASN yang terpapar radikalisme.

"Saya kira enggak ada masalah, supaya jangan ada ASN yang terpapar. Jadi itu pengawasan juga. Jadi enggak ada masalah," kata Ma'ruf Amin usai menghadiri rapat koordinasi Dakwah Nasional Majelis Ulama Indonesia Pusat, di Hotel Sahid, Jakarta Pusat, Senin (2/12) malam.

Dia juga mengatakan jika diketahui ada ASN yang terpapar radikalisme. Secepatnya kata dia perlu adanya tindakan preventif untuk menetralisir paham-paham yang dianggap radikal dan membahayakan dengan cara pendekatan tanpa kekerasan.

"Andaikata diketahui ada yang terpapar, perlu adanya upaya untuk deradikalisasi," ungkap Ma'ruf.

1 dari 1 halaman

Pembentukan SKB Tumpang Tindih

Sebelumnya, Direktur Lingkar Madani Indonesia, Ray Rangkuti berpendapat bahwa pembentukan SKB 11 Menteri tidaklah produktif.

"SKB ini menurut saya tidak perlu-perlu amat. Pertama kan yang diatur sebenarnya sudah diatur. Jangankan kepada bangsa dan negara, ujaran kebencian kepada siapa pun oleh siapa pun itu tidak boleh. Hoaks tidak boleh. Termasuk mendukung gerakan yang tidak sesuai Undang-Undang dan Pancasila juga tidak boleh," beber Ray.

Ray menyebut, SKB 11 Menteri hanya akan tumpang tindih dengan aturan yang berlaku dalam Undang-Undang ASN. Terlebih, jika KASN masuk menjadi bagian SKB 11 Menteri, dikhawatirkan malah jauh dari niat melindungi.

"Kalau ada orang menyerukan, mengadukan, ada tindakan ASN yang tidak patuh dan diperiksa, pertanyaannya siapa yang membela ASN itu atau bagaimana kalau aduannya tidak tepat. Justru menurut saya KASN ini harusnya ada di luar SKB itu. Sebetulnya ini justru agak melenceng dengan UU ASN kita. Sebab penilaiannya kan ada KASN," terangnya.

Ray mengambil contoh, jika ASN lalai dalam pelayanan publik, ini bukanlah hal yang bisa dilaporkan sebagai tindak pidana. Justru di sini KASN yang berperan karena memang menangani masalah kode etik.

"Kalau terkait ujaran kebencian, pandangan, sikap yang dianggap tidak netral, bagaimana mengatasi ini ya lagi-lagi adukan ke KASN," sebut Ray.

Jika tetap KASN masuk ke SKB 11 Menteri, lanjutnya, dikhawatirkan independensi terhadap ASN dan pemerintah akan rusak. Apalagi disalahgunakan menindak ASN dengan masalah ujaran kebencian terhadap pemerintah, yang sejauh ini maknanya sendiri tidak tetap alias karet.

"Kalau ada ASN melanggar Pancasila, UUD 1945, yang semacam itu, langsung saja bawa ke polisi, buat apa ke SKB. Kalau melanggar etik, bawa ke KASN. Yang saya khawatirkan itu malah diutamakan soal ujaran kebencian kepada pemerintah saja. Dikasuskan, dipanggil polisi bolak balik, kasusnya sih mungkin dibiarkan saja, tapi dipanggil polisi saja sudah mengerikan," jelas Ray. [bal]

Baca juga:
SKB 11 Menteri soal Radikalisme Dianggap Cara Jokowi Menjaga Stabilitas Politik
KASN Tegaskan SKB 11 Menteri Soal Radikalisme Bukan Mencederai Independensi
Moeldoko Soal SKB Menteri Dikritik: Tangani Radikalisme Tak Cuma dari Keamanan
Anggota Komisi III Pertanyakan Tujuan SKB 11 Menteri Padahal Sudah Ada BPIP
Menko Polhukam Tepis SKB 11 Menteri Soal Radikalisme Mengembalikan Rezim Orde Baru
Presiden PKS Ingatkan Jokowi: Kita Mau Maju, Jangan 'Setback' ke Belakang

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini