Unik, Pohon Natal Gereja di Malang Gunakan Sampah Plastik
Merdeka.com - Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Kedungkandang, Kota Malang menggunakan pohon Natal berbahan sampah plastik bekas pakai. Seperti lazimnya, pohon Natal itu menjadi hiasan gereja selama perayaan Hari Raya Natal 2019.
Palupi Suciati, Panitia Perayaan Natal mengatakan butuh waktu seminggu para jemaat menyusun aneka plastik bekas pakai itu menjadi pohon Natal. Secara kelompok berdasarkan Rayon, jemaat merencanakan, mengumpulkan dan menyusun sampah menjadi pohon Natal.
"Sampah dikumpulkan oleh jemaat sesuai kelompoknya, dari sampah rumah tangga. Satu pohon bisa sampai 300 botol bekas air mineral," kata Palupi Suciati di GKJW Jalan Ki Ageng Gribig Kedungkandang, Kota Malang, Selasa (24/12).
Hasil karya masing-masing kelompok diletakkan di sudut gereja sebagai hiasan selama menyambut Natal. Lima pohon diletakkan di samping panggung yang akan digunakan Misa Natal, sementara dua lainnya berada di samping pintu masuk gereja.
Karya Jemaat
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comSetiap rayon atau kelompok diberi kebebasan kreativitas, menentukan bahan dan proses pembentukannya. Pohon Natal juga dilengkapi pernak-pernik, lampu serta salib di ujungnya.
"Ketentuannya setiap pohon tidak boleh menghabiskan dana lebih dari Rp100 Ribu," tegasnya.
Dua pohon di depan gereja tampak tersusun dari botol bekas air mineral hingga setinggi 2 meter. Dasar pohon dilengkapi aquarium yang tersusun dari botol plastik yang dipanaskan hingga membentuk bangun tertentu.
Semakin indah saat dilengkapi dengan cat kekuningan yang menyerupai dengan perbukitan. Dua pohon kecil dari bahan botol warna kebiruan disatukan dan semakin indah dengan lampu kedap-kedip.
Begitupun pohon di sampingnya disusun dari botol bekas air mineral yang disuwar-suwir hingga menyerupai bunga yang sedang mekar. Botol plastik tersebut disatukan dengan ikatan kawat hingga membentuk pohon putih yang transparan.
Begitu pun tiga pohon di dalam ruangan, disusun dengan botol plastik yang dililit rumbai-rumbai warna kemerahan. Tampak juga aksesoris dari tutup botol dan kertas bekas yang ditempelkan di pohon.
Sementara sebuah pohon Natal dibuat dari plastik kresek belanja yang dipotong suwar-suwir. Beberapa tampak tulisan minimarket asal plastik tersebut. Warna dan tulisan terlihat sengaja disesuaikan sehingga tidak nampak terlihat.
"Ini paling minim biaya, bahkan kemarin plastik kresek yang sudah dipotong, sampai sisa berlebihan," katanya di sela menyiapkan acara.
Palupi juga mengatakan penggunaan pohon Natal dengan plastik sisa pakai sangat menekan biaya. Karena harya pohon Natal buatan pabrik cukup mahal, bahkan ukuran sekitar 50 cm harganya di atas Rp500 Ribu.
Selain itu, Natal tahun ini bertema, Bersahabat dengan Semua, yang salah satu penerjemahannya adalah bersahabat dengan alam. Sehingga dengan peduli kepada alam, tidak memproduksi sampah plastik, membuang pada tempatnya dan lain-lain akan membuat alam ramah dan tidak marah.
(mdk/bal)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya