Udud Mbako perekat sosial

Jumat, 28 April 2017 08:00 Reporter : Abdul Aziz
Udud Mbako perekat sosial Sejarah tembakau di Purbalingga. ©2017 Merdeka.com/Abdul Aziz Rasjid

Merdeka.com - Kebiasaan udud mbako, baik saling berkumpul di warung, kedai ataupun pelataran-pelataran rumah warga dikatakan Budayawan asal Banyumas, Bambang Wadoro (58) telah jadi kebiasaan di eks karisidenan Banyumas (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen) tahun 1960-an sampai 70-an. Bisa dikatakan pula, kegiatan melinting bersama menjadi simbol perekat sosial antarwarga, dilakukan saat malam hari, waktu luang usai seharian berladang.

"Endhong-endhongan (berkumpul atau kebiasaan bertandang ke tetangga) sebutannya," kata Bambang Wadoro yang akrab disapa Bador saat ditemui merdeka.com awal April.

Di tahun 1960-an, saat usia Bador baru menginjak 10 tahun, di Desa Gerduren, Kecamatan Purwojati, Kabupaten Banyumas ia masih mengingat situasi endhong-endhongan tersebut. Sembari melinting tembakau, sanak saudara dan tetangga berkumpul membicarakan soal pertanian atau harga-harga sembako.

"Kalau politik gak dibicarakan. Saat itu masih ada trauma politik tahun 65. Orang masih takut bicara politik," kata Bador.

Sebab endhong-endhongan itu, keakraban antar warga membentuk ikatan persahabatan dan persaudaraan lewat saling berbagi mbako. Di Banyumas sendiri, kebiasaan ini disebut udud-ududan.

sejarah tembakau di purbalingga

"Ngendhong tanpa bawa mbako kurang sreg. Kalau orang-orang tua bicara, udud mbako jan njarem temenan (merokok tembakau memuaskan)," ujarnya.

Jejak tembakau, terekspresi pula dalam kebudayaan Banyumas. Bador menyebutkan bahwa tembakau sebagai kegemaran sehari-hari warga telah digambarkan dalam lirik gending dalam kesenian Lengger (kata lain Ronggeng yang merupakan figur utama kebudayaan Banyumas). Baris-baris gending itu berbunyi begini "Ora nginang, ora ngemut/ lambene digrumut semut/ randane nunut."

Lirik itu diterangkan oleh Bador bahwa seseorang yang tak memiliki mbako, baik untuk menggosok-gosokkan gigi usai mengunyah daun sirih atau untuk udud, seumpama nasib janda yang serba kekurangan atau mengalami kemerosotan ekonomi. Tapi setiap orang yang memiliki mbako tak keberatan untuk saling berbagi. Pasalnya mereka saling memahami mengkonsumsi mbako terkait dengan kepuasan batin.

Bahkan mitologi mengenai asal-usul tembakau, tak lepas dari kepuasan batin. Mohammad Sobary dalam bukunya Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung (2016), menulis bahwa penemuan tembakau terkait dengan cerita Ki Ageng Kedu yang mendaki Gunung Sumbing. Di puncak yang terjal, Ki Ageng Kedu mencabut sebatang tumbuhan, sembari berteriak takjub "Iki tambaku" yang berarti Ini obatku.

Tumbuhan itu kelak diberi nama dari metamorfosa cara pengucapan tambaku, yang berubah menjadi tembako. Lantas diubah lagi menjadi mbako, yang hingga kini sudah jadi konsep mapan dalam bahasa Jawa dan wujud eksistensialnya kita kenal baik dalam kehidupan sehari-hari (h 38-39).

sejarah tembakau di purbalingga

Meski mbako pernah populer, menurut Bador, mbako juga memperlihatkan penandaan derajat seseorang. Bukan dimaksudkan untuk tendensi rasial tegasnya, penikmat mbako di tahun 60-70-an bisa dikatakan bagian kesenangan rakyat jelata. Sedang golongan yang disebut priyayi kala itu, lurah atau guru, lebih memilih rokok pabrikan untuk menandakan status sosial.

"Saya sendiri ngudud sejak usia sepuluh tahun. Kalau rokok pabrikan, saya masih ingat, nunggu tegesan (puntung rokok)," Katanya.

Kini kata Bador, zaman sudah berubah. Justru yang terjadi, ngudud mbako sudah jarang lagi ditemui sebagai pemandangan umum. Menurutnya nilai praktis rokok pabrikan membuat beberapa orang meninggalkan kebiasaan mbako. Pasalnya menikmati rokok pabrikan tidak direpotkan harus melinting.

Tapi soal kumpul-kumpul sembari ngudud, Bador menilai kebiasaan ini tak ikut luntur. Hanya yang dibawa bukan mbako lagi, tapi rokok pabrikan. Esensinya, ngudud dalam bingkai budaya tetap jadi sarana membangun komunikasi. Ia mencontohkan, masih umum ditemui, meronda sampai kulian (upah kerja untuk kuli) tetap disuguhi udud, bahkan perhelatan kawinan, sunatan, juga tahlilan di berbagai tempat udud tetap jadi sajian.

"Mau dilarang, yang tak bisa dipungkiri, ngudud masih jadi bagian kebudayaan kita," ujar Bambang Wadoro. [cob]

Baca juga:
Senjakala ngudud mbako
Warung Kumpul tak lagi jadi tempat berkumpul

Mengenang kejayaan toko tembakau tertua di Purbalingga

Pengamat: budaya menanam tembakau adalah warisan turun temurun

Mistis di balik pertanian tembakau

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini