Tradisi Potong Lopis Raksasa di Pekalongan: Simbol Perekat Silaturahmi Warga Krapyak

Festival Lopis Raksasa kembali semarakkan Pekan Syawalan di Pekalongan, melestarikan Tradisi Potong Lopis sebagai simbol perekat silaturahmi dan rasa syukur warga Krapyak. Penuh makna dan dinanti!

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tradisi Potong Lopis Raksasa di Pekalongan: Simbol Perekat Silaturahmi Warga Krapyak
Festival Lopis Raksasa kembali semarakkan Pekan Syawalan di Pekalongan, melestarikan Tradisi Potong Lopis sebagai simbol perekat silaturahmi dan rasa syukur warga Krapyak. Penuh makna dan dinanti! (AntaraNews)

Pekan Syawalan 2026 di Kota Pekalongan kembali dimeriahkan dengan gelaran Festival Lopis Raksasa di kawasan Krapyak Kidul Gang 8, Kelurahan Krapyak. Tradisi tahunan ini menjadi puncak perayaan yang sangat dinanti masyarakat setelah Idulfitri.

Persiapan untuk membuat lopis berukuran masif ini telah dimulai sejak H+2 Idulfitri oleh warga setempat. Lebih dari lima kuintal beras ketan diolah untuk menghasilkan satu lopis raksasa yang menjadi ikon utama perayaan.

Tradisi Potong Lopis ini bukan sekadar festival kuliner, melainkan sebuah ritual budaya yang sarat makna kebersamaan dan rasa syukur. Ini juga menjadi ajang penting untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga.

Di balik kesederhanaannya, lopis menyimpan filosofi mendalam bagi masyarakat Pekalongan, khususnya dalam tradisi Jawa pesisir. Penganan ini dimaknai sebagai 'lepat' atau pengakuan kesalahan, menjadikannya simbol budaya yang menyatukan rasa dan ingatan.

Bentuk lopis yang padat dan lengket secara simbolis merepresentasikan eratnya tali persaudaraan setelah saling memaafkan di momen Lebaran. Sementara itu, balutan daun pisang yang membungkus ketan mencerminkan harapan agar manusia menjaga laku hidupnya tetap rapi dan bernilai.

Lopis yang terbuat dari beras ketan, setelah direbus, menjadi lengket dan menyatu, melambangkan persatuan atau 'kraket'. Warna putihnya dimaknai sebagai simbol kebersihan dan kesucian, selaras dengan semangat kembali fitri.

Penggunaan daun pisang sebagai bungkus juga memiliki makna simbolik Islam dan kemakmuran, menunjukkan ajaran Islam yang menumbuhkan kebaikan. Ikatan dari serat pelepah pisang melambangkan kekuatan, menjaga kondisi fitri agar tidak luntur dan terus meningkat dalam kebaikan.

Tradisi Syawalan dengan pembuatan lopis di Krapyak pertama kali dipelopori oleh KH Abdullah Sirodj, seorang ulama setempat yang merupakan keturunan Tumenggung Bahurekso. Beliau secara rutin melaksanakan puasa Syawal, yang kemudian diikuti masyarakat luas.

Akar tradisi Syawalan ini memiliki sejarah panjang dalam Islam di Jawa, berkembang sejak masa dakwah Wali Songo. Para ulama memadukan ajaran Islam dengan kearifan lokal agar lebih mudah diterima masyarakat pesisir Pekalongan.

Pekalongan, yang sejak abad ke-17 dikenal sebagai kota pelabuhan dan pusat pertemuan beragam budaya, menjadi tempat kuatnya tradisi ini. Syawalan berfungsi sebagai ruang silaturahmi lanjutan setelah Idul Fitri dan ungkapan syukur atas berakhirnya Ramadan.

Berbeda dengan daerah lain, lopis khas Pekalongan dikenal berukuran besar dan dimasak dalam waktu hampir satu hari penuh. Proses panjang ini bukan hanya teknik memasak, melainkan juga cerminan nilai kesabaran dan ketekunan yang dijunjung masyarakat pesisir.

Wali Kota Pekalongan, Afzan Arslan Djunaid, mengimbau masyarakat agar tidak salah memaknai tradisi pemotongan lopis. Beliau menegaskan bahwa tradisi lopisan adalah warisan budaya yang membawa keberkahan dan kebahagiaan, bukan praktik syirik.

Tradisi pemotongan lopis yang telah berlangsung lebih dari satu abad ini diharapkan dapat dikemas semakin meriah ke depannya. Selain sebagai ajang silaturahmi, perayaan ini juga dinilai memiliki potensi besar untuk menarik kunjungan wisatawan.

Dengan memadukan tradisi Syawalan dengan sektor pariwisata, diharapkan terjadi peningkatan pendapatan asli daerah bagi Kota Pekalongan. Humas Festival Lopis Raksasa, Iwan Kurniawan, menambahkan bahwa proses pembuatan lopis raksasa memakan waktu sekitar tiga hari penuh.

Seluruh tahapan pembuatan, dari Senin (23/3) hingga pengentasan, dikerjakan dengan ketelitian tinggi dan kekompakan warga, mengingat ukuran lopis yang jauh lebih besar dari biasanya. Lopis ini menjadi medium penghubung masa lalu dan masa kini, menyatukan nilai religius, sosial, dan budaya.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi