Kaleidoskop 2019

Tokoh Tanah Air Berpulang Sepanjang 2019

Sabtu, 28 Desember 2019 07:03 Reporter : Lia Harahap
Tokoh Tanah Air Berpulang Sepanjang 2019 Pemakaman BJ Habibie di TMP Kalibata. ©2019 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Merdeka.com - Tahun 2019 tinggal hitungan hari. Sepanjang waktu bergulir, ragam peristiwa telah terjadi.

Berbagai belahan dunia punya cerita. Termasuk Bangsa Indonesia.

Bukan cuma kisah sukacita. Banyak pula cerita duka dihadapi. Semua membuat Indonesia lebih kokoh berdiri.

Merdeka.com coba merangkum kedukaan menyelimuti Tanah Air selama 2019. Salah satunya kepergian tokoh bangsa berjasa.

Tidak sekadar memiliki nama besar. Banyak jasa dan andil dari tangan dingin mereka membuat Indonesia menjadi bangsa besar yang selalu menjaga persatuan dan kesatuan serta kerukunan.

Berikut ini tokoh-tokoh berpulang sepanjang 2019:

1 dari 5 halaman

Ustaz Arifin Ilham

ilham rev1

Kabar duka memasuki pertengahan 2019. Ustaz sekaligus pemilik Pondok Pesantren Az-Zikra, Arifin Ilham, meninggal dunia dalam perawatan di rumah sakit di Penang, Malaysia, pada 21 Mei silam.

Sejak awal tahun, Arifin memang menjalani perawatan di Penang. Dia berjuang melawan sakit kelenjar getah bening.

Masyarakat Indonesia berduka. Sosok Arifin dikenal sebagai ustaz yang selalu menyentuh ketika berdakwah. Apalagi kala dia melantunkan zikir-zikir untuk mengingat Allah, tak jarang jemaah yang hadir menitikkan air mata.

Ketua Yayasan Az-Zikra, Khotib Kholil, menceritakan meskipun sakit yang diderita Arifin Ilham cukup berat tak membuatnya berputus asa. Arifin selalu menampakkan wajah cerianya saat bertemu orang-orang.

"Tak pernah menampakkan sakitnya. Jadi selalu gembira, terutama pada umat. Beliau selalu menyampaikan adab dalam beribadah dan mengamalkan surat-surat rutin seperti biasa," ujarnya kepada awak media di kediaman almarhum, Majelis Az-Zikra Sentul Kabupaten Bogor, Jawa Barat, seperti dilansir Antara, Kamis (23/5).

Setibanya jenazah di Tanah Air, Arifin sesuai wasiatnya ingin disalatkan di masjid Az-Zikra Sentul dan dimakamkan di sekitar Ponpes Az-Zikra Gunung Sindur.

2 dari 5 halaman

Ani Yudhoyono

rev1

Kabar duka cukup mengagetkan datang dari keluarga Presiden keenam, Susilo Bambang Yudhoyono. Istri tercinta, Kristiani Herawati atau Ani Yudhoyono mengembuskan napas terakhir pada 1 Juni.

Ibu Ani meninggal setelah beberapa bulan sebelumnya berjuang melawan kanker darah yang menyerang tubuhnya secara tiba-tiba. Ani Yudhoyono menjalani perawatan sejak bulan Februari di RS National University Hospital (NUH) Singapura.

Sejak menjalani perawatan untuk pertama kalinya, kesehatan Ani sempat membaik. Namun pada 29 Mei, kondisi tubuh ibu dua putra itu mendadak menurun. Hingga akhirnya harus dilarikan ke ICU.

"Saat ini, Ibu Ani sedang memerlukan penanganan ekstra. Seluruh keluarga besar Yudhoyono sedang berkonsentrasi pada upaya pemulihan kembali kondisi kesehatan Ibu Ani. Selain Bapak SBY, saat ini saya, Annisa, Ibas, Aliya dan cucu-cucu juga berada di Singapura, mendampingi Ibu Ani dalam proses penyembuhan ini," kata AHY melalui keterangan tertulisnya, Kamis (30/5).

Kepergian Bu Ani membawa duka mendalam bagi SBY dan keluarga. Raut wajah sedih dan air mata yang berlinang cukup menggambarkan betapa SBY dan anak-anak serta para menantu dan cucu kehilangan.

Dua periode menjabat sebagai Ibu Negara, banyak sekali kisah terukir dari Ani Yudhoyono. Selain setia mendampingi SBY ke mana pun pergi bertugas, Ani juga menyimbukkan diri dengan kegiatan-kegiatan sosial lainnya termasuk menyalurkan hobi fotografi-nya.

SBY sempat menceritakan bagaimana kondisi terakhir Ani sebelum akhirnya dipanggil Yang Maha Kuasa.

"Sekitar tiga minggu sebelum ada krisis ini sebetulnya, perkembangannya positif. Bahkan kami punya harapan Insya Allah bisa disembuhkan. Dan memang dokter mengatakan sel-sel kanker dalam tubuh menurun secara tajam. Itulah yang membuat kami bersyukur dan berharap agar penyakit kanker darah Ibu Ani bisa disembuhkan. Namun Allah menetapkan lain," katanya.

Tiga hari yang lalu ada sebutlah krisis, lanjut SBY, tiba-tiba ada ledakan dari sel-sel kanker yang tadinya sudah dilumpuhkan itu meningkat dengan sangat tajam. Sehingga tim dokter kewalahan dan Ani masuk ICU untuk mendapatkan penanganan khusus.

"Saya dua hari dua malam ada di tempat istri tercinta berjuang untuk melawan kanker yang ganas. Kemarin sempat bertemu beberapa perawat dari rumah sakit di Singapura itu mengatakan itu Madam Ani is a strong woman. Ini semestinya sudah kembali ke Maha Kuasa karena begitu kerasnya hantaman itu. Diserang di berbagai organ tubuh tetapi masih tetap bertahan," paparnya.

"Memang bapak ibu saya laporkan, masih bisa bertahan satu hari. Saya tahu yang 46 tahun bersama istri tercinta ini dia sedang berjuang untuk membuktikan bisa menang melawan kanker darahnya itu," imbuhnya.

Sampai 1 jam sebelum dipanggil, kata SBY, keluarga menyampaikan kepada Ani dengan kata-kata yang indah. Saat itu, kondisi Ani dibius total sehingga tidak mudah berkomunikasi.

"Tetapi saya melihat di pelupuk matanya ada titik-titik air mata. So she was listening to us. Karena mungkin orang-orang yang disayangi itu masuk dalam hati dan pikiran. 'Memo kami semua ada di sini'. Air mata yang jatuh itu adalah air mata cinta. Air Mata kasih dan air mata sayang. Semoga Ibu Ani diterima oleh Allah dan saya sampaikan seperti itu perjuangannya," sambung SBY.

"Sepertinya wajah Ibu Ani terlihat bahagia, rileks dalam keadaan seperti itu. Dan memang beberapa saat kemudian dengan sangat tenang kembali ke hadapan sang pencipta. Saya ucapkan, Ibu, selamat jalan semoga Memo hidup tenang di sisi Allah SWT. Semua di situ melihat jam 11.50. Dia orang yang tough dan tidak mau menyerah. Dia bilang sama saya 'saya pasrah tetapi tidak menyerah' sampai pada batas yang dia bisa mencapainya," kenang SBY.

3 dari 5 halaman

KH Maimun Zubair

zubair rev1

Bulan Agustus, Bangsa Indonesia kembali berduka. Ulama terkemuka, KH Maimun Zubair, alias Mbah Moen tutup usia pada 6 Agustus.

Mbah Moen mengembuskan napas di Makkah. Saat itu, Mbah Moen baru beberapa hari tiba di Makkah untuk melaksanakan ibadah haji. Takdir Tuhan berkata lain. Mbah Moen meninggal di rumah sakit RS An Noor Alfatihah, Saudi Arabia.

Mbah Moen selama hidupnya dikenal sebagai ulama yang peduli pada banyak hal untuk kemaslahatan bangsa Indonesia. Bahkan Mbah Moen kerap menjadi rujukan para ulama Indonesia terutama dalam ilmu fikih.

Mbah Moen juga aktif di dunia politik dengan menjadi ketua Ketua Majelis Syariah Partai Persatuan Pembangunan. Perjalanan panjangnya di dunia politik Indonesia berawal saat menjadi anggota DPRD Kabupaten Rembang selama 7 tahun.

Setelah berakhirnya masa tugas, ia mulai berkonsentrasi mengurus pondok pesantrennya Al Anwar Sarang, di Desa Karangmangu, Sarang, Rembang. Tapi rupanya tenaga dan pikiran ia masih dibutuhkan oleh negara sehingga ia diangkat menjadi anggota MPR RI utusan Jawa Tengah selama tiga periode.

Sebagai ulama, Mbah Moen dikenal sebagai ulama yang alim, faqih sekaligus muharrik (penggerak). Selama ini, Kiai Maimun merupakan rujukan ulama Indonesia, dalam bidang fikih. Hal ini, karena Kiai Maimun menguasai secara mendalam ilmu fiqh dan ushul fiqh. Kiai Maimun merupakan kawan dekat dari Kiai Sahal Mahfudh, yang sama-sama santri kelana di pesantren-pesantren Jawa, sekaligus mendalami ilmu di tanah Hijaz.

Maka itu, seluruh masyarakat Indonesia dari Presiden Jokowi hingga kalangan artis berduka atas kepergiannya. Di mata Jokowi, Mbah Moen merupakan seorang kiai karismatik yang selalu menjadi rujukan bagi umat Islam. Selain itu, Mbah Moen adalah sosok yang sangat gigih dalam menjaga NKRI.

"Innalilahi wa innailihi rajiun. Telah berpulang ke Allah SWT, Kiai Haji Maimun Zubair di Mekkah tadi pagi. Oleh sebab itu kita sangat kehilangan, saya atas nama pemerintah, seluruh rakyat Indonesia kita semua betul-betul berbela sungkawa, atas wafatnya beliau," ucap Jokowi di Istana Negara Jakarta, Selasa (6/8/2019).

"Semoga beliau diterima di tempat yang terbaik di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dam keikhlasan," sambungnya.

4 dari 5 halaman

Presiden BJ Habibie

habibie rev1

September tak selalu ceria. Setidaknya itulah yang dirasakan keluarga Presiden ketiga RI, Bacharuddin Jusuf Habibie pada 11 September silam.

Suami almarhumah Ainun Habibie itu meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan di RSPAD Gatot Soebroto setelah dirawat sejak awal September. Habibie meninggal di usia 83 tahun.

Putra kedua Habibie, Thareq Kemal, sempat menyebut ayahnya butuh istirahat karena Habibie muda memang memiliki masalah dengan jantung.

"Beliau akhirnya kita ungsikan ke rumah sakit untuk benar-benar istirahat. Karena kalau di rumah, siapapun pasti datang menjenguk, sedangkan menjenguk itu membuat bapak beraktivitas lagi. Tidak ada waktu beliau beristirahat. Sedangkan beliau mohon benar-benar dimengerti, kecuali terpenting. Mohon doanya saja," kata Thareq dalam jumpa pers di RSPAD, Senin (10/9).

"Bapak saya memang dari dulu semenjak muda punya masalah dengan jantung. Otomatis karena menua, jantungnya sangat melemah. Dikasih aktivitas tinggi, tidak dikasih istirahat badan memberontak. Karena badan akan minta istirahat. Jadi lah ada masalah dengan jantung," katanya.

Dia sempat memastikan kondisi Habibie kemarin sangat stabil. Hanya saja memang butuh banyak istirahat karena untuk membuat kondisi tubuhnya kembali fit.

Namun takdir berkata lain, pria murah senyum yang disebut sebagai Bapak Teknologi Indonesia itu akhirnya menghadap Sang Pencipta.

Habibie dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata tepat di samping istrinya, Ainun. Setelah Ainun meninggal dunia, Habibie memang menginginkan tempat peristirahatan terakhirnya bersebelahan dengan cinta sejatinya.

"Dalam duka ini, mereka sekarang bisa bersatu dalam akhirat. Satu hal yang didambakan Bapak semenjak ibu wafat," kata Putra Habibie, Ilham Akbar Habibie di TMP Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis (12/9).

Ilham mengenang bagaimana ayahnya begitu kehilangan sosok perempuan yang dicintainya. Saban hari Jumat, katanya, Habibie selalu ke makam Ainun memanjatkan doa.

"Insya Allah mereka selamat, bersama berdua di sisi Allah SWT, di surga, di akhirat di alamnya," doa Ilham dihadiri para tokoh di pemakaman.

5 dari 5 halaman

Pengusaha Ciputra

rev1

Menutup tahun akhir tahun, kabar duka datang dari pengusaha properti Ir Ciputra. Ciputra meninggal dalam usia 88 tahun di Singapura sekitar pukul 1.05 waktu setempat, Rabu (27/11).

Kabar duka ini dibenarkan oleh Direktur Ciputra Development Tulus Santoso. "Iya meninggal," kata Tulus saat dihubungi merdeka.com, Rabu (27/11).

Banyak sekali kisah sukses Ciputra yang bisa diteladani. Meskipun karirnya hanya berawal dari berjualan kopi, namun sejak muda pulalah dia membangun jiwa kewirausahaan.

"Waktu SD mulai menjual barang, berburu, membuat kopi dari daun lalu saya jual, waktu SMP berburu kalong saya jual, saat universitas membuat design perabot, saya jual memang keinginan itu sudah ada, harus percaya diri, berani ambil risiko itu saja," ujar Ciputra saat acara 'Launching Pembelajaran Online Tumbuh 100 kali' di DBS Tower, Jakarta, 17 Februari 2014 lalu.

Menanamkan tiga hal penting dalam berbisnis yaitu keinginan, semangat dan berani ambil risiko, menurut Ciputra, dijamin kesuksesan akan datang setelahnya. Dia menegaskan menjadi seorang wirausaha bukan hanya mengandalkan bakat.

"Memang jiwa entrepreneur harus mempunyai bakat tapi kalau bakat doang tidak cukup, kalau bakat itu beda, kan bakat itu nyanyi atau melukis sebab entrepreneur itu adalah sebuah ilmu kehidupan," jelas Ciputra.

Semasa hidupnya, Om Cip, begitu dia disapa, selalu menjaga integritasnya dengan menerapkan prinsip 'ABJ'. Saat sukses maupun sedang terpuruk, prinsip ABJ itu menjadi pedomannya.

Karakter yang kuat, menurut Ciputra merupakan dasar kesuksesan seseorang pengusaha. Untuk bisa berhasil, seorang pengusaha harus menjadi ahli di bidangnya. "Yang kedua harus punya profesional yang tinggi, mempunyai ahli dalam bidang tersebut," tuturnya.

Jiwa entrepreneurship, tidak luput dari perhatian Ciputra sebagai pengusaha. "Ketiga punya entrepreneurship. Seorang entrepreneur yang harus menciptakan, harus kreatif, inovasi dan berani mengambil keputusan. Kalau kita memiliki tiga tersebut, baru kita sukses," ucap Ciputra. [lia]

Baca juga:
Kisah Ciputra, Bangun Kerajaan Bisnis Properti di Indonesia
Eks Menperin Saleh Husin Kenang Bahtiar Effendy Sosok Pemikir dan Humoris
Ketua PP Muhammadiyah Bahtiar Effendy Tutup Usia
Menpera Kabinet SBY Muhammad Yusuf Asy'ari Tutup Usia
Seniman Djaduk Ferianto Wafat

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini