Tingkatkan spirit toleransi untuk hilangkan kebencian
Merdeka.com - Sikap toleransi antar-umat beragama diperlukan untuk menjalin kerukunan di Tanah Air. Jangan sampai perbedaan keyakinan, adat istiadat justru dijadikan alasan untuk melakukan kekerasan.
"Sebagai warga negara yang hidup dalam masyarakat majemuk, kita harus bisa terus mengasah spirit toleransi dan kerukunan antar-sesama umat," ujar Koordinator jaringan Gusdurian Indonesia, Alissa Qotrunnada Munawaroh, Selasa (13/6).
Menurutnya, toleransi pada dasarnya sikap saling menghormati. Yang membedakan manusia hanya soal ketaqwaannya. "Bukan manusia yang menilai. Manusia di muka bumi ini adalah setara," ujar Alissa Wahid sapaan akrabnya.
Dia mengingatkan agar seluruh umat manusia mulai berpikir adil. Wanita yang telah menyelesaikan studi master bidang psikologi di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta ini tidak menampik kekhawatiran yang muncul karena beredar pesan permusuhan di media sosial.
"Tuhan itu menciptakan manusia berbangsa-bangsa, bersuku-suku untuk saling mengenal dan saling membantu, maka toleransi seharusnya tidak menjadi masalah," ujarnya.
Bersama para murid-murid Gusdurian yang tersebar di berbagai daerah, dia mengaku sempat bermitra dengan International NGO Forum on Indonesian Development (Infid) melakukan penelitian terhadap masalah intoleransi dan masalah terorisme.
Menurutya, ada dua hal cukup menarik yang muncul dari penelitian tersebut. Kutub pertama adalah 88% anak muda di Indonesia tidak setuju dengan terorisme. Tidak menganggap terorisme wujud keberagamaan, dan tidak percaya jihad atas nama Tuhan.
"Tapi pada saat yang sama, sikap intoleran itu ternyata juga semakin menguat. Jadi walaupun tidak setuju dengan terorisme pada saat ini, tetapi ada sikap-sikap tidak menyukai atau tidak setuju kepada orang-orang yang berbeda agama, berbeda suku," ujarnya menyayangkan.
Kelompok ekstremis kerap menggunakan istilah-istilah yang menyulut kemarahan. Yang pertama adalah bagaimana kelompok agama tertentu memandang orang lain menjadi musuh.
"Jadi bahan bakarnya adalah permusuhan, rasa takut dan kebencian. Jadi rasa takut diserang oleh kelompok yang berbeda, kemudian yang kedua yaitu benci. Benci kepada kelompok yang berbeda, lalu yang ketiga permusuhan dan upaya untuk menguasai. Jadi menyerang kelompok yang berbeda," ujarnya
Melihat hal tersebut dia memberikan contoh pemikiran Gus Dur yang tidak akan pernah membeda-bedakan agama masyarakat. Karena bagi sang ayah, lanjutnya, lebih penting bagaimana mengutamakan kepentingan masyarakat luas.
"Di mana almarhum bapak saya dulu juga pernah memperkenalkan rukun kemanusiaan, yaitu keadilan, kesetaraan, dan persaudaraan. Jadi kemanusiaan juga menjadi nilai yang dijunjung tinggi dalam bersikap saling toleransi antar-sesama umat," tandasnya.
(mdk/did)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya