Tidak Ada Bioskop, Warga Aceh Kalau Mau Menonton Film Harus ke Medan

Rabu, 18 September 2019 11:14 Reporter : Afif
Tidak Ada Bioskop, Warga Aceh Kalau Mau Menonton Film Harus ke Medan Ilustrasi

Merdeka.com - Sejak 2004 silam bioskop tidak beroperasi lagi di Aceh setelah penerapan syariat Islam. Meskipun demikian bioskop bukan hal yang baru di Tanah Rencong, sejak tahun 1900 tercatat ada beberapa bioskop berkembang pesat di Serambi Makkah.

Wacana membuka kembali bioskop di Banda Aceh mulai disuarakan. Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman menanggapinya dengan serius. Sebelum ada investor masuk berinvestasi, terlebih dahulu Pemerintah Kota Banda Aceh akan mempersiapkan qanun (Peraturan Daerah).

Mempersiapkan aturan terlebih dahulu agar saat investor bioskop masuk sudah ada regulasi yang mengaturnya. Sehingga adanya bioskop tidak melanggar nilai-nilai syariat Islam yang di Serambi Makkah.

"Kalau nanti sudah ada wacana investor bangun bioskop, kita sebelumnya kita buat qanun dulu, jadi tidak mendahului," kata Aminullah Usman, Rabu (18/9) di Banda Aceh.

Sebelum qanun dibuat, sebutnya, pemerintah Kota Banda Aceh akan terlebih dahulu melihat bioskop yang ada di negara-negara Islam. Bagaimana perlakuan terhadap bioskop, sehingga tidak menyalahi penerapan syariat Islam di bumi Iskandar Muda.

"Kita lihat negara Islam bagaimana perlakuan terhadap bioskop itu, jadi supaya tidak menyalahi," tukasnya.

Ia mencontohnya seperti Brunei Darussalam dan Arab Saudi. Sehingga dengan melihat penerapan bisnis bioskop di negara Islam yang lebih maju bisa diterapkan di Kota Gemilang berlandaskan syariat Islam.

"Kita lihat dulu seperti Brunei, Arab, sehingga kita negara yang lebih maju bagaimana cara pelaksanaan kalau ada bioskop di daerah kita ini, sehingga tidak bertentangan dengan syariat Islam," tukasnya.

Semenjak bioskop tidak ada lagi di Serambi Makkah, pegiat perfilman di Aceh membuat bioskop-bioskop mini dalam gedung biasa yang disulap seperti bioskop. Seperti gedung pentas seni Taman Budaya, Banda Aceh, Sultan Selim II dan sejumlah bangunan lain.

Bila ada warga Banda Aceh yang hobi menonton berbagai genre film, mereka harus merogoh banyak kocek untuk berangkat ke Medan, Sumatera Utara. Perjalanan darat sekitar 12 jam menggunakan bus ke Medan.

Keberadaan bioskop di Aceh bukanlah hal yang baru. Sejak tahun 1900 tercatat ada beberapa bioskop cukup berkembang di Aceh, khususnya di Banda Aceh.

Seperti bioskop bioskop Rex, Thung Fang yang kemudian dibalik nama bioskop Merpati, keduanya berada di Peunayong, Banda Aceh dan bioskop Garuda terletak di Jalan Imam Bonjol, Banda Aceh.

Demikian juga ada sejumlah bioskop berada di kabupaten/kota lainnya di Aceh. Seperti di Bireuen ada Bioscoop, Bioscoop Langsa, Tiong Rha Bioscoop Lhokseumawe, Gemeente Bioscoop Sigli dan sejumlah bioskop lainnya di seluruh Aceh.

Namun paska Aceh dilanda tsunami dan perdamaian dirajut antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintah Indonesia, semua bioskop mati suri dan harus gulung tikar. Ini juga disebabkan ada beberapa pihak yang tak sepakat yang kemudian meminta pemerintah untuk menutup seluruh bioskop di Aceh.

Padahal keberadaan bioskop dianggap perlu untuk mengenal aktor-aktor asal Aceh yang terkenal. Sebut saja misalnya P Ramlee (Teuku Zakaria bin Teuku Nyak Puteh) nyaris banyak pemuda di Aceh tak mengenal tokoh aktor ini. Padahal dia putra terbaik Aceh yang menjadi aktor di Malaysia dan sangat cukup terkenal melalui karya-karya filmnya.

Informasi yang dihimpun, dia telah membintangi 66 judul film. Karya-karya itu telah memenangkan penghargaan film seperti Eagle Award dan sejumlah penghargaan lainnya. Namun sayangnya film seperti itu tidak dikenal di Serambi Mekkah.

Tak hanya itu ada sejumlah film edukatif selalu terlambat ditonton oleh warga Aceh, akibat dari tidak adanya bioskop. Seperti film Istirahatlah Kata-Kata, film mengisahkan seorang aktivis yang selalu mengkritik kebijakan kediktatoran Soeharto sebelum reformasi, kemudian tokoh itu, Wiji Tukul hilang yang diduga diculik, jasadnya hingga sekarang tak diketahui.

Ada juga sejumlah film lainnya, seperti film Night Bus yang juga harus diputar di komunitas-komunitas pecinta film di Aceh. Bahkan film ini juga sempat diputar di Taman Budaya, Banda Aceh. Ini dikarenakan tidak memiliki bioskop di Aceh.

Ada sejumlah film lainnya yang harus diputar oleh komunitas atau di Taman Budaya akhir-akhir ini. Padahal, animo warga pecinta film edukatif semakin meningkat, demikian juga pelaku perfilman lokal semakin berkembang. [cob]

Topik berita Terkait:
  1. Bioskop
  2. Banda Aceh
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini