Terjerat korupsi, adik Bambang Widjojanto ditangkap saat main golf

Rabu, 2 November 2016 21:29 Reporter : Juven Martua Sitompul
Terjerat korupsi, adik Bambang Widjojanto ditangkap saat main golf Haryadi Budi Kuncoro diperiksa KPK. ©2016 Merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Merdeka.com - Bareskrim Polri menangkap Direktur Teknik Pelindo II Haryadi Budi Kuncoro (HBK), tersangka kasus dugaan korupsi mobile crane di PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II. Dia ditangkap saat asyik bermain golf di Gading Mas Driving Range, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu (2/11).

Selain menangkap adik mantan Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto, penyidik Bareskrim juga menciduk ‎Assisten Manajer Pelindo II Ferialdy Noerlan (FN) yang juga berstatus tersangka dalam kasus sama.‎ "Selain HBK, kami juga tangkap tersangka lainnya yakni FN (Feriyaldi Noerlan-Asisten Manager Pelindo II) pukul 10.40 WIB saat main golf di Emeralda Golf Club Cimanggis Depok," kata Direktur ‎Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri, Brigjen Agung Setya saat di konfirmasi, Jakarta, Rabu (2/11).

Haryadi dan Feriyaldi ditangkap lantaran berkas perkara keduanya sudah rampung atau P21. Berkas perkara kedua tersangka ini akan diserahkan ke Kejaksaan Agung (Kejagung) besok, Kamis (3/11).

"Rencananya tahap dua ke Kejaksaan jadi kami amankan. Kerugian negara yang diakibatkan dari perbuatan tersangka berdasarkan perhitungan yaitu Rp 45,6 miliar," kata jenderal bintang satu itu.

Saat kasus ini berlangsung, FN diketahui menjabat sebagai Direktur Teknik di perusahaan plat merah tersebut. Sementara, HBK sendiri menjabat sebagai Manajer Senior Peralatan.

FN disebut sebagai orang yang bertanggungjawab atas seluruh rangkaian kasus korupsi tersebut. Sedangkan HBK yang merupakan adik dari mantan Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto diketahui hanya membantu atasannya.

Selain kedua nama itu, ada satu nama lagi yang menjadi sorotan dalam kasus ini yakni Richard Joost Lino (RJ Lino). RJ Lino merupakan Direktur Utama Pelindo II saat kasus ini bergulir. Meski sudah menjalani pemeriksaan, RJ Lino masih berstatus saksi.

Kasus ini sendiri berawal saat penyidik menemukan sepuluh mesin derek yang semestinya dikirim ke delapan pelabuhan berbeda justru mangkrak di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Diduga, ada motif korupsi di balik pengadaan alat-alat berat tersebut.

Sebabnya, tidak sesuai dengan rencana pengadaan yang yang sudah ditetapkan. Namun, pihak tersangka dan Lino membantah dugaan tersebut dengan mengklaim perubahan itu wajar dalam sebuah perusahaan. Kendati demikian, polisi yakin adanya kerugian negara sebesar Rp 37,9 miliar atas kasus tersebut.

Bukan hanya itu, kasus ini pun disebut-sebut sebagai penyebab kegaduhan di sektor penegakan hukum lantaran RJ Lino mengadu kepada Sofyan Djalil yang saat itu menjabat sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas. ‎Bahkan, peristiwa ini pun dikaitkan dengan pencopotan Komjen Budi Waseso sebagai Kabareskrim yang ini menjabat sebagai Kepala BNN. [noe]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini