Tenda Cinta Para Pencari Suaka

Rabu, 4 September 2019 17:46 Reporter : Ahda Bayhaqi
Tenda Cinta Para Pencari Suaka Pencari Suaka di Kalideres. ©2019 Liputan6.com/Helmi Fithriansyah

Merdeka.com - Seorang pria berkulit putih, tinggi, dan rambut pirang berbincang santai dengan kami, Rabu (4/9) siang. Sosoknya cukup akrab dengan penjual makanan dan buah di seberang gedung eks kodim Kalideres, Jakarta Barat.

Pria itu berinisial B. Negara asalnya Afghanistan. Dia berkenan berbagi cerita. Namun meminta identitasnya tak diungkap. Dia menginjakkan kaki di Jakarta enam tahun lalu. Saat itu usianya masih 22 tahun.

Dari negara asalnya, B mengikuti jejak rekannya untuk datang ke Indonesia demi mencari suaka. Alasannya, negaranya sudah tidak aman lagi. Dilanda perang.

Dia kerap ditanya banyak orang tentang statusnya. Dia mengaku masih melajang. Dia hampir menikah dengan orang Indonesia saat masih tinggal di pengungsian Bogor. Namun kisah cintanya kandas karena tak mendapat restu orang tua.

Saat disinggung kebutuhan biologisnya sebagai seorang lelaki, dia berbicara dengan malu-malu. Dia mengaku tidak pernah melakukan hubungan badan selama di pengungsian.

Dia melihat, hasrat pengungsi untuk melakukan hubungan seksual tergolong rendah. Bahkan sangat jarang. Termasuk saat malam hari. Di mana suasananya gelap.

"Kalau malam biasanya hanya main game saja di telepon genggam," ungkapnya saat berbincang dengan merdeka.com, Rabu (4/9).

Namun dia tidak menampik ada alternatif tempat yang digunakan pengungsi untuk menyalurkan kebutuhan biologisnya. Dia mengaku pernah melihat ada pengungsi yang memanfaatkan tenda yang mereka bawa sebagai tempat memenuhi kebutuhan biologis. Itupun kalau hasrat manusiawi sudah tak terbendung lagi. Biasanya, dilakukan oleh pengungsi yang sudah berkeluarga atau sah secara perkawinan.

"Biasanya di tenda. Yang sudah suami-istri," katanya tertawa.

Menurut pengakuannya, untuk kebutuhan yang masuk ranah privasi, semua pengungsi sudah sama-sama memaklumi. Mereka sudah menganggap sebagai sesama saudara. Solidaritas itu membuat sesama pengungsi memaklumi. Termasuk urusan hubungan antara pria dan perempuan.

Dia tidak pernah mendengar atau mengetahui ada pengungsi yang menuntaskan hasrat biologisnya dengan menyambangi tempat prostitusi.

"Tidak ada seperti itu."

Di luar lokasi pengungsian, B cukup populer. Perawakannya mirip bule barat. Tidak cuma bisa berbaur, B juga dapat berbahasa Indonesia.

Saat merdeka.com tengah berbincang, sebuah mobil abu-abu berhenti di dekat tempat B berdiri. Perempuan yang mengendarai mobil tersebut memberikan sebuah jus. Perempuan tersebut bekerja di sebuah showroom mobil. Tak jauh dari lokasi pengungsian.

"Hanya seorang teman," kata B sambil tertawa. [noe]

Topik berita Terkait:
  1. Pencari Suaka
  2. UNHCR
  3. Imigran
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini