Tak punya Rp 120 juta, keluarga pasrah Sriani dimakamkan di Nigeria

Kamis, 14 September 2017 22:36 Reporter : Gede Nadi Jaya
Keluarga TKW Sriani. ©2017 merdeka.com/gede nadi jaya

Merdeka.com - Keluarga dari Jero Wayan Sriani (36), seorang TKW asal Ubud Gianyar di Bali, merelakan jika harus dikubur di Nigeria. Karena pihak keluarga tidak punya biaya untuk pemulangan jenazah senilai Rp 120 juta.

Suami Sriani, I Gusti Nyoman Putra mengaku ikhlas dan menyerahkan ke pihak pemerintahan di Nigeria terhadap pengurusan selanjutnya terhadap jenazah istrinya itu. Apakah akan dilakukan penguburan ataupun dikremasi.

"Kita sudah buatkan upacara pengabenannya di sini (desa). Walapun tidak ada jasadnya," singkat Putra, di rumahnya, Kamis (14/9).

Apa yang dialami TKW asal Ubud Gianyar ini, langsung mendapat sorotan dari kalangan anggota Dewan di Gianyar. Pasalnya Sriani yang tiga tahun terlantar tidak punya biaya untuk pulang ke Indonesia dari Nigeria, hingga akhirnya meninggal karena sakit.

Dewan pun mempertanyakan perhatian serta pengawasan Dinas Ketenagakerjaan terhadap warga yang ingin berangkat ke laur negeri.

Ketua Komisi IV DPRD Gianyar, Cok Gde Wisnu Partha, mengaku akan segera memanggil pihak Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Gianyar untuk dimintai keterangan yang jelas. Terlebih, almarhum Sriani pun terpaksa dikuburkan di Nigeria karena pihak keluarganya mengalami masalah keterbatasan biaya untuk penjemputan.

"Kasus ini semestinya tak perlu terjadi jika proses keberangkatan tenaga kerja melalui prosedur yang benar," kata Cok Gde.

Dari informasi yang diketahuinya, almarhum Jero Wayan Sriani yang mulai berangkat ke Nigeria sebagai TKW awalnya memang melalui agen dengan kontrak kerja setahun. Namun, saat tahun 2015, dia kembali ke Nigeria dengan status sebagai turis dengan tujuan berlibur.

Tetapi, setibanya disana, dia malah kembali bekerja sebagai tenaga terapis spa tanpa dilengkapi dengan visa kerja, sehingga menjadi tenaga kerja ilegal.

"Disnaker harus memberikan perhatian lebih terhadap warga yang ingin berangkat ke laur negeri," tegasnya.

Peranan agen untuk memberikan arahan kepada para tenaga kerja itu sangat penting, terutama jika mereka tersangkut kasus di negara orang.

Secara terpisah, Kadis Tenaga Kerja (Disnaker) Gianyar, AA Dalem Jagaditha mengatakan, pasca ada berita seorang TKW asal Ubud meninggal di Nigeria, pihaknya pun langsung melakukan pengecekan melalui rekaman yang ada.

Dirinya mengakui jika saat berangkat awal tahun 2014 Jero Wayan Sriani memang menggunakan agen dengan kontrak kerja 1 tahun. Bahkan, dia sempat pulang ke rumahnya di Bentuyung, Ubud.

Namun, saat keberangkatan kedua, dia memilih berangkat sendiri dengan alasan berlibur. "Kesalahan seperti ini dinyatakan sebagai tenaga kerja ilegal di Nigeria hingga harus berpindah-pindah lokasi kerja," jelasnya.

Agung Dalem menegaskan, pihaknya sudah rutin mewanti-wanti warga yang ingin menjadi tenaga kerja ke Luar negeri harus melalui penyalur tenaga kerja resmi, sehingga tercatat sebagai tenaga kerja Indonesia.

Pun demikian, di pihak imigrasi pun akan tercatat jelas status mereka. Alasan inilah, kata dia yang membuat pihak KBRI tak bisa membantu proses pemulangan jenazah korban ke Indonesia. [ded]

Topik berita Terkait:
  1. TKI
  2. Nigeria
  3. Gianyar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.