Sudah Dandan, Latihan & Datang Sejak Pagi, Ratusan Penari Cilik Kecewa Gagal Pentas Langsung Geruduk Kantor Gubernur
Merasa ada kejanggalan, sebagian peserta mendatangi Kantor Gubernur Jateng.
Ratusan penari cilik dan para pelatih menggeruduk Kantor Gubernur Jawa Tengah di Jalan Pahlawan Semarang, Jumat (20/12). Tujuan mereka protes atas pelaksanaan lomba tari tradisional tingkat Jawa Tengah yang tak ada kejelasan dari pihak penyelenggara.
Panitia penyelenggara adalah Semarang Economy Creative. Berdasarkan rundown acara, lomba tari akan dimulai pada Jumat (20/12) pagi pukul 08.00 wib di Taman Indonesia Kaya Kota Semarang. Namun sampai pukul 16.00 wib tidak ada keterangan lebih lanjut.
Ratusan peserta dari berbagai daerah sudah berada di lokasi sejak pagi. Namun panitia tidak hadir dan pembukaan yang diagendakan pukul 09.00 WIB tak kunjung terlaksana hingga siang hari.
Merasa ada kejanggalan, sebagian peserta mendatangi Kantor Gubernur Jateng. Dari pantauan pukul 13.10 WIB, puluhan penari bersama pelatih memenuhi lobi Kantor Gubernur.
Terlihat para penari mengenakan atribut tari lengkap. Wajah dan tubuh mereka juga sudah berhias alat perias. Mereka sudah siap tampil namun tidak jadi karena panitia tidak hadir.
Peserta yang mendatangi Kantor Gubernur Jateng itu berasal dari Kota Semarang. Mereka ingin mencari kejelasan lomba tari yang mengatasnamakan trofi gubernur.
Seorang pelatih tari Juju Jumani (30) mengatakan merasa curiga even lomba yang memperebutkan hadiah trofi gubernur, sertifikat, dan uang pembinaan tidak kunjung dimulai. Padahal para pelatih dan anak didik sudah mempersiapkan dengan matang.
"Kita sudah latihan rutin anak-anak. Sudah dandan dan sewa baju tari. Ketika sampai di lokasi panggung tidak ada sama sekali," kata Juju saat diwawancarai.
Menurutnya panitia mulai dari perubahan jadwal acara tanpa koordinasi hingga perlengkapan seperti soundsystem yang belum tersedia di lokasi.
"Panitia banyak alasan dan pada akhirnya sampai sekarang tidak ada solusi akhirnya kita daripada tidak solusi dari panitia kita langsung menuju ke gubernur karena ini mengatasnamakan piala gubernur dan ya tropi gubernur," ungkapnya.
Bahwa peserta lomba tari ini berjumlah 35 kelompok dengan total mencapai sekitar 500 orang. Para peserta merasa dirugikan jika pelaksanaan lomba ini akhirnya batal.
"Pendaftaran itu Rp100.000 untuk satu kelompok. Nah peserta bisa sampai 200 lebih intinya. Kalau misalkan ini batal kita minta ganti rugi dari pihak panitia," jelasnya.
Kepala Disdikbud Jateng, Uswatun Hasanah mengatakan bahwa kegiatan yang di selenggarakan oleh penyelenggara tidak ada koordinasi dengan Disdikbud Provinsi Jateng. Sehingga kegiatan yang berlangsung tidak ada surat pemberitahuan.
"Jadi kegiatan itu tidak ada izin atau surat dokumen terkait pemberitahuan kepada pemangku kegiatan urusan kebudyaan," kata dia.
Bila ada kegiatan lomba yang dilaksanakan oleh Pemprov, tidak ada pungutan bayaran. Dari hasil koordinasi koordinasi pemangku kebudayaan kota Semaranv tidak ada rekomendasi.
"Semua kegiatan kalau penyelenggara Dinas gratis. Dalam kegiatan itu tidak ada pemberitahuan," pungkasnya.
Panitia yang juga Dosen UPGRIS Dipolisikan
Buntut gagalnya acara tersebut, Ketua Panitia Lomba Tari Nasional Tingkat Jawa Tengah (Jateng) Mei Sulistyoningsih dilaporkan ke Polda Jawa Tengah buntut gagalnya gelaran tari pada Jumat (20/12) lalu.
Laporan dilayangkan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi Pengusaha Mikro Kecil Menengah Mandiri Indonesia (APMIKIMMDO) Jateng.
"Kami, sangat dirugikan karena ada pencatutan nama APMIKIMMDO oleh saudara ketua panitia,” kata Ketua DPD APMIKIMMDO Jateng Ariyanto usai audiensi bersama sejumlah perwakilan peserta lomba tari di Kantor Gubernur Jateng, Senin (23/12).
Dia menceritakan, Mei Sulistyoningsih sempat diajak Ketua Panitia SEC untuk menggelar acara lomba tari dan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) selama dua hari Jumat 20 Desember sampai 21 Minggu 2024. Karena percaya, ia kemudian mengeluarkan Surat Keterangan (SK) Pengurus DPC APMIKIMMDO yang diketuai oleh Mei Sulistyoningsih.
Usai dilantik, Mei membuka rekening atas nama DPC APMIKIMMDO Kota Semarang. Namun, ia merasa ada yang janggal karena proposal kegiatan tak mencantumkan nama APMIKIMMDO. Selain itu, pada proposal permohonan sponsor kegiatan mengatasnamakan SEC.
"Kami mencabut diri untuk tidak ikut sebagai penyelenggara kegiatan tersebut. Sehingga tak ada royalti yang dibayarkan kepada APMIKIMMDO Jateng terkait pencatuman logo dan penjualan kaos, untuk itu pencantuman logo APMIKIMMDO di kaos yang dijual saudari Mei Sulistyoningsih ilegal,” ungkapnya.
Rektor UPGRIS, Dr Sri Suciati mengatakan pihak Universitas IKIP PGRI Semarang (UPGRIS) sedang menyelidiki lebih mendalam guna menyikapi kisruhnya pentas tari SEC yang melibatkan salah satu dosennya. Ternyata Mei Sulistyoningsih tercatat sebagai dosen di kampus itu.
"Tentu kami tindak lanjuti secara intern karena beliau juga dosen di tempat kami. Statusnya dosen tetap prodi pendidikan biologi," kata Rektor UPGRIS, Dr Sri Suciati di Semarang.
Sepengetahuannya, Mei selama ini mengikuti program penelitian dengan baik. Bahkan tugas-tugas yang bersangkutan di kampus juga dikerjakan.
"Seluruh tugas dan penelitian juga jalan," jelasnya.
Namun untuk kasus pentas tari dipastikan tidak ada sangkut pautnya dengan kampusnya. Sebab, kisruhnya pentas tari merupakan ulah pribadi Mei.
"Kegiatan bu Mei ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan kegiatan universitas. Ini kegiatan bu Mei secara pribadi. Bukan kegiatan yang menggunakan nama universitas. Karena UPGRIS tidak menyelenggarakan kegiatan tari yang diadakan selama ini. Ini tidak jadi tanggung jawab universitas," tuturnya.