Saat mantan teroris jadi petugas upacara di HUT Kemerdekaan
Merdeka.com - Ratusan orang memenuhi halaman Masjid Baitul Muttaqien di desa Tenggalun, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, untuk melaksanakan upacara Hari Kemerdekaan, kemarin. 30 Orang yang merupakan mantan kombatan dan narapidana terorisme ikut dalam kegiatan tersebut.
Petugas upacara bendera kebanyakan dari pelaku dan keluarga pelaku bom Bali 1. Pengibar bendera Zulia Mahendra merupakan anak mantan teroris Amrozi, Saiful Arif, mantan teroris kasus Poso, dan Khoerul Mustain, anak sulung terpidana bom Bali 1, Nor Minda.
Saiful sebagai pembawa bendera tetap semangat melangkah demi mengibarkan bendera merah putih meski dengan langkah tertatih karena bekas luka tembak di kaki. Hal ini menjadi bukti sang mantan teroris yang sudah benar-benar kembali mencintai NKRI.
Tidak hanya pengibar bendera, hampir semua petugas upacara juga merupakan mantan teroris. Perwira upacara, yaitu Yusuf Anis yang merupakan lulusan Akademi Militer Mujahidin Afghanistan. Komandan upacara juga dilaksanakan oleh Yoyok Edi Sucahyo yang pernah terlibat sebagai anggota Moro Islamic Liberation Front (MILF).
Masjid Baitul Muttaqien diresmikan 21 Juli lalu oleh Kepala BNPT, Komjen Suhardi Alius. Petugas upacara sebelumnya sudah mempersiapkan diri melalui latihan rutin selama 2 minggu. Mereka dilatih langsung oleh petugas dari Polres Lamongan.
"Ini wujud untuk menyatakan pada masyarakat bahwa mereka sudah NKRI, sudah cinta tanah air. Luar biasa, sangat saya apresiasi," ujar Kapolres Lamongan AKBP Juda Nusa Putra.
Ali Fauzi Manzi, mantan teroris yang kini sudah menjadi pengurus masjid dan ketua Yayasan Lingkar Perdamaian turut berpartisipasi dengan membacakan naskah proklamasi.
"Ini adalah implementasi dari ikrar saya dan kawan-kawan beberapa bulan lalu saat peresmian Lingkar Perdamaian. Saya tidak mau mendengar masyarakat bicara ikrar saya hanya di mulut saja, maka ini buktinya," ungkap adik Amrozi ini dalam keterangan tertulis, Jumat (18/8).
Sementara itu anak Amrozi, Zulia Mahendra sendiri merasa haru dengan adanya kegiatan ini. Yang dirasakan Hendra menjadi bukti hilangnya rasa dendam. "Awalnya terharu ya, pas bendera ada di tengah, badan rasanya kesemutan, tapi yang penting yakin dan bisa," ungkap Hendra.
Hendra juga berpesan agar masyarakat bisa bekerja bersama membangun Indonesia. Ke depan, dia ingin merangkul kelompok-kelompok radikal agar bisa kembali ke jalan yang benar.
"Jangan lagi lah kita membuat keonaran. Cukup kita saling merangkul satu sama lain. Ke depannya kita mencoba konsultasi sama teman-teman yang belum sejalan sama kita, kita coba rangkul, kita sama-sama berusahalah," tuturnya.
Upacara di Pesantren Al Hidayah Deli Serdang
Upacara pengibaran bendera merah putih dilaksanakan di lapangan Pondok Pesantren Al Hidayah, Desa Sei Mencirim, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Ponpes ini diasuh oleh mantan narapidana terorisme, Khairul Ghazali.
Beberapa santri yang menjadi petugas upacara merupakan anak mantan napi teroris. Ada yang sebagai pengibar bendera merah putih, pembaca teks Proklamasi dan pembaca pembukaan UUD 1945.
Khairul Ghazali mengaku sangat terharu melihat anak–anak didiknya menjadi petugas upacara bendera.
"Ini adalah pertama kalinya kita menggelar kegiatan upacara peringatan hari kemerdekaan, dan sungguh saya sangat terharu menyaksikan anak–anak menjadi petugas upacara," ujar Khairul.
Selain itu Khairul menekankan bahwa dengan semangat kemerdekaan marilah bersama – sama menjaga perdamaian, dan janganlah perbedaan menjadikan pertikaian. "Karena sejatinya ajaran Islam adalah perdamaian antara sesama karena Islam merupakan agama yang Rahmatan Lil'alamin," tuturnya.
Ke depannya dia berharap anak didiknya tidak dipandang berbeda dengan anak–anak lainnya. "Karena bagaimana pun mereka adalah anak bangsa yang perlu untuk dibina sehingga ke depannya dapat berkontribusi secara nyata menjadi duta perdamaian bagi bangsa," tandasnya.
Khairul merupakan mantan terpidana kasus terorisme yang terlibat perampokan Bank CIMB Niaga Medan. Setelah menjalani hukuman dan program deradikalisasi, Khairul sadar dan kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.
(mdk/did)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya