Saat Gus Ipul cari 'suara' sampai kehilangan suara

Senin, 23 April 2018 12:11 Reporter : Fahmi Aziz
Buku Gus Ipul. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Minggu (22/4), Saifullah Yusuf (Gus Ipul), sudah bersiap di kediamannya, Gayungsari, Surabaya Selatan. Setelah koordinasi sana-sini, dia baca basmalah. Kakinya mengayun. Naik mobil. Rehat tiga jam, membuat energinya mengalir kembali, menyebar ke sekujur tubuh. Pagi itu, jadwalnya ke Bangil, Pasuruan.

Gus Ipul, sapaan akrab Saifullah Yusuf, baru menyelesaikan kampanye padat di Bumi Reog, Ponorogo. Tak kurang dari empat belas titik kunjungan di hari itu. Sejak matahari terbit hingga terbenam. Saat bulan dan bintang gantian bermunculan, Gus Ipul tetap berkegiatan. Jam 22.00 masih rumah KH Husain Ali, Babadan, Ponorogo.

Masuk Surabaya, sudah dini hari. Gus Ipul sangat jarang tiba di kediaman di bawah jam 12 malam. Lebih sering di atas titik nol pergerakan jarum jam. Saksi setia pergantian malam dan siang. Tiba di rumah, kegiatannya berganti dengan koordinasi per telepon. Satu-satu dihubungi. Memastikan jadwal dan agenda berjalan well done.

Semua anggota tim sukses bisa bergantian dalam bertugas, naik turun mobil. Keluar masuk rangkaian kendaraan. Istirahat lalu bertugas. Bertugas dan istirahat. Menjaga stamina agar tetap fit. Patwal, walpri dari anggota Polri, ajudan, dan pengemudi, bisa datang bergilir. Hanya satu yang tetap. Tak diganti dan tak tergantikan: paslon.

Malam itu, mobil Nissan el Grand tumpangan mantan Menneg Pembangunan Daerah Tertinggal itu, berpacu dengan waktu. Menerjang kerasnya jalan bebas hambatan melewati Kertosono. Satu demi satu plang penunjuk arah dan kota terdekat berganti. Nganjuk menjadi Kertosono. Kertosono dan Mojokerto.

Bersama seorang teman yang kerap menyertainya berkampanye, eks Ketua Umum PP GP Ansor dua setengah periode itu, mengeluhkan pita suaranya yang mulai melemah. Beberapa kali Gus Ipul terpaksa mengulang kata-kata terhadap lawan bicaranya di ujung telepon. Malam itu, berbicara, begitu menyiksanya.

"Suaraku hilang karena mencari suara," katanya. Teman duduknya hanya bilang itu akibat rangkaian kampanye panjang. Menguras sebagian besar tenaganya. Nyaris sehari semalam di Ponorogo. Semangat Gus Ipul luar biasa membuncah di salah satu kabupaten Mataraman ini. Suaranya digas pol.

Teriakannya bertenaga. Terasa berbeda dari biasanya. Mereka yang ditemui Gus Ipul, adalah gelombang relawan-relawati yang sudah bersumpah setia memenangkan Gus Ipul-Mbak Puti di Pilgub Jatim 27 Juni 2018 nanti. Gus Ipul tak ingin kelihatan kurang bersemangat di tengah-tengah ribuan orang yang mengidolakannya. "Kasihan mereka," serunya.

Menyadari begitu besar pengorbanan para pendukung dan pemilihnya, sering Ketua PBNU ini, masih minta dicarikan acara kalau tiba di rumah kurang malam. "Masak nggak ada acara ?" tanya dia. Ketika tahu di Benowo ada pengajian, Gus Ipul segera beranjak. Konvoi pun kembali bergerak.

Agenda kampanye serentak, telah menguras energi para pasangan paslon kepala daerah. Berbagai macam pendekatan dilakukan agar mampu mendulang sebanyak-banyak suara pemilih. Karena padat dan menumpuknya titik-titik massa yang mesti dikunjungi, tak jarang mereka disergap kelelahan yang amat sangat.

Sempat ramai diberitakan, seorang paslon meninggal dunia di tengah rangkaian dan kegiatan kampanye. Penyebabnya, ditengarai karena kelelahan akut. Khawatir kesehatannya menurun, ada paslon yang menyertakan tenaga medis dalam mengikuti tahapan pilkada. Namun tak perlu tenaga medis bagi Keponakan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini. Pola makan sehat dan memperbanyak sayur dan buah adalah kunci kebugaran tubuhnya. [paw]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini