Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Saat di indekos muncikari, ABG dicekoki obat gemuk diduga narkoba

Saat di indekos muncikari, ABG dicekoki obat gemuk diduga narkoba Dua perempuan Sukabumi nyaris dijual ke Papua. ©2016 merdeka.com/salviah ika padmasari

Merdeka.com - AS (16) dan LA (19), dua perempuan muda asal Kecamatan Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat baru saja lolos dari cengkraman komplotan muncikari di Makassar yang dipanggilnya Mami Siska dan Mami Cindy. Keduanya nyaris dijual ke Papua. Kedua korban kini berada di rumah aman binaan Dinas Sosial Sulsel.

LA menuturkan, dia bersama AS awalnya dijemput Siska di Bandara Sultan Hasanuddin, Sabtu (8/10). Keduanya lantas dibawa ke indekos Mami Cindy. Di sana, LA mengaku dicekoki obat diduga narkoba.

"Saya disuruh minum obat berbentuk tablet ukuran cukup besar sama Mami Siska. Disuruh emut saja, tidak boleh dibantu dengan air padahal rasanya sangat pahit. Katanya harus dihabiskan biar bisa gemuk. Tapi ternyata saya di-PHP (pemberi harapan palsu). Kayaknya itu bukan obat gemuk tapi obat yang membuat saya seperti mabuk, mata merah," tutur LA, Selasa (11/10).

LA mengaku tidak tahu apa hubungannya antara 'obat gemuk' itu dengan pekerjaannya nanti sebagai pemandu karaoke. Dia habiskan saja obat itu karena dipaksa.

Perempuan muda yang pernah bekerja sebagai penjaga toko di kampung halamannya setamat dari SMA ini mengatakan, di indekos milik muncikari itu dia dan AS berada hanya kurang lebih 17 jam. Dan selama di indekos keduanya baru tahu kalau akan dikirim ke Papua untuk kerja di sana bukannya di Makassar sebagai pemandu karaoke.

LA mengaku diancam Siska, bahwa kalau mau pulang terlebih dahulu harus menebus uang masing-masing Rp 50 juta. Dari ucapan itu, LA dan AS simpulkan kalau mereka akan dijual dan dipekerjakan sebagai pekerja seks komersil. Keduanya lantas kabur.

"Saya mau pikirkan dulu gimana caranya kabur tapi AS sudah terus menangis. Jadi tanpa pikir panjang saya ikut saja apa kata AS. Kasian kalau dia lari sendiri. Jadi kami melarikan diri sebagaimana yang diarahkan Mas Ipul, kawan AS yang baru dikenalnya di Facebook, dan akhirnya kami berhasil keluar dari kos itu dan ketemu Mas Ipul lalu dibawa ke Polsek Mamajang. Malam harinya, Senin, (10/10) baru kami diantar ke kantor Dinas Sosial," kata LA.

Adapun AS yang usianya lebih muda empat tahun dari LA, ketakutan saat menceritakan peristiwa yang baru saja dialaminya. AS tak habis pikir jika sampai dibawa ke Papua.

"Saya memang tinggal di daerah pesisir di Kecamatan Pelabuhan Ratu, Sukabumi tapi saya bisa mengakses internet. Liat di YouTube juga di televisi tentang orang-orang yang diperjualbelikan sampai badannya kurus tidak punya daging. Iih ngeri," tutur AS.

Dia mengaku, sama sekali tidak membayangkan jika dirinya akan bekerja sebagai pekerja seks karena yang ada dalam pikirannya saat meninggalkan Pelabuhan Ratu bersama LA niatnya adalah mencari pekerjaan yang baik.

"Saya mau pulang, mau ketemu ibu. Sampai di sana, gak mau ngapa-ngapain. Sudah dilarang sama ibu. Saya salah, bohong sama ibu. Tapi saya sudah minta maaf," tutur AS.

Kata AS, selama dia di Makassar ibunya berinisial AO menelepon menanyakan kondisinya. Mungkin hampir 20 kali hingga akhirnya AS mengaku dan menjelaskan situasi sebenarnya yang dihadapi.

"Ibu yang meminta saya kabur sampai akhirnya ketemu ide cari pertolongan lewat Facebook, dan akhirnya bisa berkomunikasi dengan Mas Ipul yang memandu saya cara melarikan diri," kata AS. (mdk/cob)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP