Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Ruby Alamsyah: Modus pelaku pembobolan dana nasabah berubah-ubah

Ruby Alamsyah: Modus pelaku pembobolan dana nasabah berubah-ubah Ruby Alamsyah di kampus Gunadarma. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Pakar Komputer Forensik dari Universitas Gunadarma (UG) Rubby Alamsyah mengatakan bahwa pelaku pembobolan dana nasabah di beberapa bank di Indonesia dengan modus menggunakan software internet banking tahun ini jauh berkurang, namun para pelaku mengubah modus pembobolan. Menurutnya, pelaku menggunakan malware untuk mencuri data nasabang bank yang ditanamkan melalui jaringan internet.

"Internet banking tahun ini jauh berkurang tapi ada indikasi peningkatan yang lain sebenarnya modusnya diubah-ubah sedikit jadi yang menariknya dari kasus internet banking ini adalah pelaku orang asing dan pelaku yang disinyalir dari otak-otak yang ada di Indonesia itu mereka selain mempelajari teknologi celah-celah keamana perbankan di Indonesia," kata Rubby Alamsyah dalam seminar dengan tema 'Indonesia dan ancaman siber yang merajalela' yang diselenggarakan oleh Universitas Gunadarma, di Kampus Simatupang, Jakarta, Sabtu (10/6).

Pembobolan perbankan oleh pelaku, kata Rubby dengan menguasai dan tahu keamanan yang ada seperti OJK maupun BI sehingga dalam kegiatan kriminal mereka sangatlah mudah.

Rubby mencontohkan bahwa si pelaku mengetahui nomor rekening bermacam-macam tipe misalkan dengan mengetahui transaksi menggunakan internet banking itu berapa perharinya dari transaksi-transkasi oleh pelaku ini bisa mempelajari sistem pebankan maupun kebijakan perbankan yang ada di Indonesia.

"Soal maraknya menurut saya masih ada walaupun tingkat risikonya tidak setinggi pada tahun sebelumnya. Risiko yang tinggi saat internet banking perbankan itu bisa dibobol tapi pihak perbankan tidak mengakui bahwa bukan terjadi pada kesalahan mereka," imbuhnya.

Dengan demikian, kata Rubby, pihak perbankan sudah kooperatif memuat sistem jauh lebih aman.

"Pihak BI, OJK dan juga pihak perbankan tertentu yang terkena kasusnya intinya kalau pihak perbankan sudah kooperatif untuk mencoba membuat sistem jauh lebih aman terbukti dari beberapa aplikasi ataupun beberapa sistem yang ter-update beberapa bulan terkahir ini," ujarnya.

BI dan OJK, lanjut Rubby, mereka tidak bisa bergerak secara agresif. Sebagai regulator bidang keuangan, mereka sepertinya harus memiliki tim-tim seperti siber security di BI dan OJK sehingga mereka benar-benar bisa melihat kriminal perbankan tersebut dilakukan secara sistematis oleh pelaku-pelaku asing yang bisa merugikan masyarakat maupun perbankan Indonesia.

"Nah kalau tidak ada orang-orang IT di mereka hanya melihatnya secara global atau secara general saja tidak melihat esensi yang subtansinya bahwa tidakan hecking ini bisa merugikan masyarakat jauh lebih besar karena ada penjelasan secara teknis atau analisis dari modus-modus yang dilakukan," ucap dia.

Selain itu, Rubby melihat, pelaku dari dalam negeri pengungkapannya sangat cepat. Berbeda dengan pelaku luar negeri yang masih tambal sulam pengungkapannya.

"Saya lihat kalau pelaku-pelaku orang lokal biasanya pengungkapannya jauh lebih cepat dan total tapi kalau pelaku-pelaku orang asing ini biasanya masih tambal-tambal sulam saja belum bisa menutup yang ke utamanya," ucapnya. (mdk/war)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP