RS tak beri ambulans, ayah bawa jasad anaknya di tas dan naik angkot
Merdeka.com - Cerita pilu dialami keluarga Aspin Ekwandi di Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu. Aspin terpaksa menyimpan jenazah anaknya di dalam tas agar bisa dibawa pulang dengan kendaraan umum ke kampung halamannya di Desa Sinar Bulan, Kecamatan Lungkang Kule.
Cara itu terpaksa dilakukan Aspin karena tak sanggup membayar sewa ambulans sebesar Rp 3,2 juta. Cerita itu berawal pada Rabu (5/4), saat Sri Sulasmi, istri Aspin, melahirkan anak keempat.
Proses persalinan melalui operasi besar karena bayi divonis mengalami kelainan paru-paru dan jantung. Operasi dilakukan di RSUD Kaur menggunakan BPJS dan saat bayi lahir dirujuk ke RSUD M Yunus Kota Bengkulu untuk mendapatkan perawatan lebih intensif.
"Bayi sempat masuk UGD, kemudian dipindahkan ke ruang anak untuk penanganan bayi premature. Namun, pada 7 April meninggal dunia. Saat bayi dirujuk, istri saya tidak dibawa ke RSUD M Yunus karena harus mendapatkan perawatan di RSUD Kaur," tutur Aspin, seperti dilansir dari Antara, Sabtu (15/4).
Aspin pun berniat membawa jenazah bayinya menuju kampung halaman dengan ambulance. Namun, pihak rumah sakit menjelaskan biaya sewa mobil jenazah itu sebesar Rp 3,2 juta dengan waktu tempuh dari Kota Bengkulu ke Kaur sekitar lima jam perjalanan darat.
"Saya coba tawar tapi mereka katakan tidak bisa kurang," ujar Aspin.
Karena tak memiliki cukup uang, Aspin mencari jalan keluar yakni memasukkan jasad bayinya ke dalam tas pakaian dan pulang ke kampung menggunakan kendaraan umum. Sesampai di kampung halaman, jenazah bayi itu segera dikebumikan.
"Di dalam mobil sopir minta tas diletakkan di bagasi tapi saya tolak dengan alasan di dalamnya kue untuk acara pernikahan saudara, untung sopir tak curiga," tuturnya.
Pengalaman pahit yang dialami keluarga Aspin rupanya sampai ke telinga Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti. Ia pun meminta maaf secara langsung kepada keluarga Aspin atas perlakukan pihak rumah sakit tersebut.
"Saya menyampaikan duka dan empati serta meminta maaf atas kelalaian kami melayani masyarakat," kata Ridwan saat mengunjungi keluarga Ekwandi di Desa Sinar Bulan, Kecamatan Lungkang Kule, Jumat (14/4) malam.
Dalam pertemuan di rumah duka, Ridwan menyampaikan sejumlah peraturan yang kaku dan segera ditinjau untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Ia pun menyesalkan tindakan petugas di rumah sakit yang belum mampu melayani dengan hati.
"Kita segera evaluasi aturan yang ada kalau itu jadi memberatkan masyarakat," ucapnya.
(mdk/gil)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya