Ritual jalan penderitaan di Gereja Hati Kudus Banda Aceh
Merdeka.com - Seorang pemuda berambut panjang, menggunakan pakaian putih memanjang memanggul salib di pundaknya. Rambutnya yang panjang sebahu semakin kumal, darah segara keluar dari mulutnya setelah mendapatkan cambukan dari 5 algojo kerajaan.
Sedangkan puluhan lainnya terus melempar 'batu' yang terbuat dari kertas dan meneriakkan agar pemuda tersebut disalib, karena dia mengaku raja. Algojo pun terus mencambuk, meskipun pemuda tersebut terus mengerang kesakitan.
Pemuda itu sedang berperan sebagai Yesus dalam ritula jalan salin di Gereja Hati Kudus, Kota Banda Aceh. Dalam bahasa latin disebutkan Cia Crucis atau Via Dolorosa (jalan penderitaan) Jumat (30/3) dimulai pada pukul 09.30 Wib.
Seluruh pengunjung, yaitu jamaat Gereja tersebut terlihat khidmat mengikuti ritual jalan salib. Pengunjung juga sesekali duduk jongkok menghormati Yesus Kristus yang dipimpin oleh Pastor Gereja Hati Kudus Romo Efran Sinaga.
Dalam aksi teaterikal jalan penderitaan ini terlihat pemuda yang berperan sebagai Yesus itu melakoni dengan penuh kejiwaan. Saat algojo menggiring pemuda tersebut dengan memanggul salib, beberapa kali terjatuh.
Algojo pun langsung meminta pemuda tersebut agar bangun sambil beberapa kali mencambuk. Pemuda itu pun kembali bangkit dengan tertatih-tatih sembari memanggul salib tersebut.
Sampai perempat jalan, sebelum sampai ke lokasi tempat disalib. Seorang petani yang berdiri sebelah kiri pemuda itu diminta oleh algojo untuk memanggul salib. Karena pemuda yang berperan sebagai Yesus sudah kelelahan dan lemas.
Darah segar terus mengucurkan dari mulut, demikian juga baju sebelumnya berwarna putih sudah berubah menjadi merah. Tentunya ini hanya aksi teaterikal semata, darah tersebut merupakan campuran zat pewarna dalam aksi teaterikal jalan salib tersebut.
Ibadat Jalan Salib ini disajikan di Gereja Hati Kudus dalam bentuk drama liturgi yang dikemas dalam 14 stasi atau penghentian. Diawali dari penderitaan Yesus saat ditangkap dan ditahan oleh Pengadilan Agama Pilatus yang dihukum mati.
Kemudian dilanjutkan dengan memanggul salib di pundaknya dan sedikitnya ada 3 kali terjatuh dengan salib di pundaknya. Yesus juga sempat bertemu dengan ibunya dan bahkan sempat ditolong oleh Simon dari Krinie dan bahkan sempat diusap oleh Veronika.
Lalu Yesus jatuh kedua kalinya dan sempat menghibur perempuan-perempuan yang menangisinya, dan Yesus pun kembali jatuh yang ketiga kali dan kemudian baju Yesus ditanggalkan untuk di salibkan. Lantas dalam ritual itu Yesus-pun wafat di kayu salib, kemudian diturunkan dari kayu salib dan langsung dimakamkan.
Menurut literatur sejarah, Ibadat Jalan Salib ini dilakukan sejak abad ke-14 yang diperkenalkan oleh biarawan dari Ordo Fransiska. Pada abad ke 18, Paus Klemens XII, menetapkan jumlah dan lokasi penghentian jalan salib secara definitif sampai sekarang.
Ritual jalan salib ini pun berakhir dengan doa dan salam-salaman yang dipimpin oleh pastor Romo Efran Sinaga. Mereka berdoa untuk keselamatan dan kemudian membubarkan diri kembali ke rumah masing-masing. (mdk/rhm)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya