Mimbar Bebas di Tugu Proklamasi, Mahasiswa Desak Penanganan Karhutla

Di Tugu Proklamasi, mahasiswa ULM menyuarakan dampak kabut asap karhutla.

Alya Putri Agustina
Oleh Alya Putri Agustina- Reporter
Mimbar Bebas di Tugu Proklamasi, Mahasiswa Desak Penanganan Karhutla
Plt Ketua BEM Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Kalimantan Selatan, Satria Bima Agatha di Tugu Proklamasi, Jakarta, Selasa (20/10/2026). (Foto: Liputan6.com/Alya Putri).

Aksi mimbar bebas digelar Komite Forum Serukan Kedaulatan Rakyat (SaDar) di Tugu Proklamasi, Jakarta, Selasa (20/10/2026).

Dalam forum itu, mahasiswa dari Kalimantan Selatan menyuarakan dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih dirasakan warganya.

Plt Ketua BEM Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Kalimantan Selatan, Satria Bima Agatha, menekankan keresahan masyarakat di daerah terdampak.

"Kami berusaha di sini untuk menyuarakan atas keresahan dan bagaimana hal yang dirasakan oleh masyarakat, terlebih di Kalimantan," kata Satria.

Ia menjelaskan kabut asap memengaruhi banyak aspek kehidupan, termasuk jarak pandang.

"Untuk jarak pandang, untuk di daerah situ bervariatif ya, ada yang sampai sekitar cuma 2 km ataupun mungkin 5 km atau 4 km," ungkap Satria.

Satria menyebut aktivitas perkuliahan masih berjalan meski diselimuti asap.

"Kampus tetap masih masuk di sana," tutur Satria.

Ia berharap pemerintah segera menuntaskan karhutla karena titik api masih muncul.

"Masih setiap harinya, setiap jam, mau pagi ataupun malam," cerita Satria.

Koordinator Sosial dan Politik BEM Universitas Indonesia (UI), Hafidz Hernanda, mengatakan mimbar bebas menghadirkan perwakilan mahasiswa dari Kalimantan Selatan agar dampak langsung bencana tersampaikan.

"Kami mengundang mereka karena merekalah sebenarnya perwakilan dari Kalimantan gitu yang merasakan sesaknya nafas dan sebagainya," kata dia.

OMC Dry Ice dan NaCl Diklaim Efektif Reduksi Asap

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyampaikan operasi modifikasi cuaca (OMC) dengan penyemaian dry ice (es kering) dan NaCI (garam dapur) berjalan efektif di sejumlah wilayah terdampak karhutla. Menurutnya, pendekatan ini membantu memecah kabut asap dan memicu hujan.

"Sekarang kita coba pake dry ice untuk memecah asap sehingga matahari bisa sedikit masuk sebagai pengungkit munculnya benih awan hujan, baru dihantam pake OMC NaCI. Alhamdulillah di beberapa kabupaten dilaporkan mulai terjadi turun hujan," kata Prasetyo kepada wartawan, Selasa (20/10/2026).

Berdasarkan laporan yang diterimanya, di Sumatra Selatan OMC dilakukan sejak 16 Oktober 2026 menggunakan 1.600 kilogram NaCI dan 4.000 kilogram bahan semai dry ice. Hasil di wilayah tersebut mencatat penurunan PM 2.5 dan peningkatan jarak pandang. Selain dari Posko Palembang, dukungan juga datang dari Posko Lampung pada 15–18 Oktober sebanyak 6 sorti dengan 4.800 kilogram dry ice.

Di Kalimantan Tengah, OMC mengoperasikan 48 sorti dengan 43.800 kilogram bahan semai NaCI sejak 26 Agustus 2026. "Volume Curah Hujan yang dihasilkan selama kegiatan berlangsung mencapai 67,45 jt m3," ucap Prasetyo.

Selanjutnya, ada bantuan dari Kalimantan Selatan untuk mengatasi kendala jarak pandang di Kalimantan Tengah. Operasi dimulai 18 Oktober sebanyak 2 sorti dengan 800 kilogram dry ice dan 800 kilogram NaCl. Hujan dilaporkan terjadi di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kotawaringin Barat, Seruyan, Kapuas, Gunung Mas, dan Barito Timur.

Untuk Kalimantan Selatan, sejak 1 Oktober 2026 dikerahkan 23.000 kilogram bahan semai NaCI dengan dua unit pesawat, dan volume curah hujan total mencapai 222,67 juta m3 selama OMC. "Terdapat laporan hujan di wilayah Kab. Tabalong, Kab. Tapin dan Kab. Barito Kuala (Kalsel)," tutur Prasetyo.

Adapun di Kalimantan Barat, sejak 22 Agustus dilaksanakan 107 sorti dengan 98.800 kilogram bahan semai NaCl. Volume curah hujan yang dihasilkan mencapai 471.2 jt m3. Laporan 19 Oktober 2026 menyebut hujan terjadi di Kabupaten Sanggau, Kubu Raya, Sambas, Landak, Kayong Utara, Pontianak, Bengkayang, Kapuas Hulu, Kota Singkawang, dan Kabupaten Ketapang.

Upaya Lapangan dan Penegakan Hukum Pemerintah

Prasetyo menegaskan pemerintah bekerja keras menangani karhutla. Ia menyebut pasukan darat, termasuk relawan, berjibaku di lapangan tanpa mengenal waktu.

"Peralatan udara senua dikerahkan meskipun karakteristik gambut berbeda dengan tanah mineral," jelas Prasetyo.

Menurutnya, penanganan juga dibarengi penegakan hukum dengan sanksi berat, termasuk pencabutan izin bagi perusahaan maupun pihak yang melakukan pelanggaran hingga menyebabkan karhutla. Di sisi lain, OMC dan edukasi kepada masyarakat terus dilakukan.

"OMC terus dilakukan termsuk dengan metode baru dry ice," ucap Prasetyo.

Rekomendasi